Sesi 2
Efesus 4:7–12
Melanjutkan pembahasan sebelumnya dari Efesus 4, ada bagian sangat indah yang mengutip Mazmur 68:18. Mazmur ini adalah Mazmur Daud, tetapi agak unik karena Daud merenungkan periode di padang gurun, di mana Tuhan memelihara Israel. Kalau dibuat menjadi film, ke mana pun Israel pergi, daerah tersebut menjadi subur untuk sementara waktu. Mungkin bukan dalam arti makanan, tetapi selalu ada pasokan bagi ternak-ternak Israel. Sepertinya daerah itu dibuat menjadi hijau, lalu kembali menjadi padang gurun ketika mereka pergi. Tempat yang buruk sekalipun, ketika diberikan pemberian terbaik dari Tuhan, selalu menjadi tempat yang terbaik. Setelah Tuhan memberikan pemberian kepada Israel, Israel juga memberikan pemberian kepada Tuhan, seperti melalui pembangunan Kemah Suci dan pujian kepada Tuhan.
Dalam Ef. 4 Paulus mengasumsikan bahwa para pembacanya sudah mengerti Mzm. 68, tentang motif pemberian Tuhan kepada manusia, yang direspons manusia dengan pemberian kepada Tuhan. Kapan hal ini digenapi? Dalam kenaikan Tuhan Yesus. Di masa lampau, Allah “naik” ke surga setelah sebelumnya berada di “bawah” bersama Israel. Paulus melihat bahwa gerakan Tuhan turun dan naik kembali digenapi secara paling sempurna dalam Kristus. Segala yang diberitakan Daud itu digenapi di dalam gereja. Gerejalah penerima penggenapan Mazmur tersebut. Gereja menerima banyak pemberian dari Tuhan. Paulus merangkumnya dalam kehadiran rasul, nabi, penginjil, pengajar, dan penggembala. Semua ini memperkaya gereja. Dalam hal apa gereja kaya, dan dalam hal apa manusia miskin? Siapakah gereja, dan apa yang seharusnya gereja lakukan? Untuk memahami pesan ini, kita harus mengetahui bahwa jika kita bukan bagian dari gereja, betapa miskinnya kita. Kalau dikatakan bahwa karena bukan anggota gereja maka tidak bisa ikut retret, mungkin retret non-Kristen terlihat lebih seru dan lebih menyenangkan. Bisa menggunakan seluruh fasilitas hotel. Mungkin kalian berkata, “Pola pikir kami sudah diubah, Pak. Inilah yang menyenangkan.” Puji Tuhan kalau begitu. Berhala membuat orang miskin. Berhala tidak pernah memberikan apa pun kepada manusia, tetapi selalu menerima saja. Pemberian kita kepada Tuhan adalah karena Tuhan sudah terlebih dahulu memberikan kepada kita. Mazmur banyak menyerang berhala. Orang yang menyembahnya akan menjadi buta, tuli, dan bisu seperti berhala tersebut.
John Calvin, dalam Institutes, menyatakan bahwa kekayaan dari mengenal Tuhan dinyatakan dalam seluruh alam. Tidak ada satu inci pun yang tidak menyatakan kemuliaan Tuhan. Kalimat ini kemudian dikutip dan dimodifikasi oleh Kuyper: tidak ada satu inci pun yang tidak dikatakan Kristus sebagai “milik-Ku”. Calvin memiliki pemikiran yang unik. Jika kita mengenal pikiran Tuhan, kita dapat mengembangkan kebudayaan. Jika pemikiran ini disalahmengerti, manusia tetap dapat memiliki inspirasi untuk mengembangkan budaya, tetapi budaya itu menjadi rusak. Budaya berkembang, tetapi hati manusia tetap miskin. Jika mengenal Tuhan dan memahami kemuliaan Tuhan melalui ciptaan-Nya, maka kemuliaan Tuhan dapat diungkapkan melalui keindahan budaya. Institutes dimulai dengan gaya yang serupa dengan buku-buku humanisme Renaisans yang membahas pengenalan manusia. Manusia dipandang sebagai sesuatu yang mengagumkan. Banyak hal dapat direfleksikan ketika merenungkan siapa diri kita. Sokrates berkata bahwa kita hanya bisa mengatakan bahwa kita tidak tahu apa-apa. Namun jangan mengutipnya secara sembarangan; memang Sokrates mengakui bahwa ia tidak tahu apa-apa. Karena itu, Sokrates memulai dengan mencari tahu siapa dirinya. Hal yang sama juga terulang pada zaman Renaisans. Mulailah muncul studi tentang bagaimana manusia berpikir dan tentang fisikalitas manusia. Manusia mulai mengagumi manusia.
Calvin juga memulai dengan mengenal Tuhan dan diri sendiri. Sebelum kita dapat mengoperasikan pikiran kita, sudah ada sesuatu di dalamnya. Ada pengenalan akan Tuhan yang menjadi dasar bagi pengetahuan selanjutnya. Namun, hal ini diselewengkan oleh dosa sehingga secara aktif kita melawan Tuhan. Meskipun demikian, kita tidak dapat melarikan diri dari penyataan Tuhan kepada kita. Di dalam hati terdapat kesan tentang Tuhan yang menciptakan segala sesuatu, dan kita berusaha menangkap pengetahuan ini sebagai pengetahuan yang mendasar. Calvin berkata bahwa kita akan memproyeksikan pengenalan diri kita dan akhirnya membentuk berhala. Ateisme secara utuh tidak mungkin terjadi.
Seorang mahasiswa pernah berkata kepada saya, “Tidak ada Allah. Bapak kan pendeta, pasti percaya kepada Allah. Coba buktikan Allah itu ada.” Mendengar itu, saya mengambil telepon genggam dan berpura-pura menelepon Tuhan di hadapannya. Tentu saja, ia langsung menolak. “Saya tidak percaya itu Tuhan,” katanya. Saya bertanya, “Mengapa kamu tidak percaya bahwa telepon saya itu Tuhan?” Ia menjawab, “Bagaimana mungkin Tuhan bisa ditelepon? Bukankah Dia Maha Besar, Maha Agung, dan Maha Mulia?” Saya berkata, “Terima kasih, kamu baru saja menginjili saya. Dengan heran ia menimpali, “Tetapi, Pak, justru itu yang saya tidak percaya.” Saya lalu bertanya lagi, “Kalau begitu, bagaimana kamu bisa tahu bahwa orang Kristen memahami Allah sebagai Pribadi yang Maha Besar, Maha Agung, dan Maha Mulia?” Ia menjawab, “Dari orang-orang Kristen.” Saya melanjutkan, “Jadi, dapat dikatakan bahwa pemahaman itu sudah menjadi pengetahuan umum?” “Iya,” jawabnya, “tetapi dahulu orang belum pintar sehingga mereka percaya hal-hal seperti itu. Sekarang orang sudah lebih pintar.” Namun, mengapa pengetahuan ini ada dalam kesadaran manusia sepanjang sejarah? Tidak ada yang dapat membuktikan bahwa ini bukan pengetahuan yang mendasar. Mengapa ada begitu banyak agama? Karena hati kita membentuk begitu banyak berhala. Kita adalah gambar Allah. Tanpa mengenal Allah, sangat sulit mengenal manusia: diri sendiri, sesama, komunitas manusia, dan arti menjadi manusia.
Dahulu orang percaya bahwa setiap orang memiliki tingkat kemuliaan yang berbeda-beda. Misalnya, seorang raja dianggap sebagai keturunan dewa. Orang lain hanyalah budak yang diperintahkan untuk bekerja. Ini merupakan pengertian yang umum. Namun ketika Tuhan berintervensi dengan menyatakan bahwa semua orang adalah ciptaan Tuhan, maka tidak ada perbedaan kemuliaan antara orang merdeka dan budak, serta berbagai kelompok lainnya. Nilai manusia berasal dari Allah, dan penghargaan terhadap manusia itulah yang akan membentuk budaya yang baik. Pak David Tong mengutip seorang arkeolog Kristen yang membahas tulang femur yang patah lalu sembuh. Pada zaman dahulu, jika seseorang mengalami patah tulang paha, ia hampir tidak mungkin dapat bertahan hidup. Lalu mengapa tulang itu bisa sembuh? Karena ada orang lain yang menopangnya. Ia tidak bisa berburu, tidak bisa melindungi dirinya sendiri, tetapi orang-orang di sekitarnya menjaganya. Ia hanyalah beban, tetapi kelompoknya tidak menganggapnya sebagai beban, melainkan sebagai bagian dari kelompok. Itulah kebudayaan: menggunakan segala kecanggihan demi manusia. Definisi ruang publik yang baik adalah ruang yang paling aman bagi mereka yang paling lemah. Hal ini hanya dapat dipahami jika kita mengerti manusia sebagai milik Allah, sehingga kita dapat memahami satu sama lain.
Tanpa mengenal Tuhan, ketika kita mengupayakan sesuatu, hal itu pasti menjadi berhala dan bukan lagi untuk manusia. Kita membangun gedung-gedung megah, tetapi sekaligus menciptakan bom waktu yang suatu hari akan meledak. Sebelum mengenal Tuhan, saya miskin. Saya tidak tahu apa gunanya dunia ini, tidak tahu siapa diri saya, tidak tahu apa harapan saya, tidak tahu untuk apa semua teknologi ini, dan tidak tahu apa makna menjadi manusia. Manusia yang baik itu seperti apa? Apakah yang tidak mudah rusak?
Ketika kecil, saya memelihara anjing dan kucing. Saya berhasil mendamaikan mereka sehingga mereka tidak berkelahi dan saling tidak peduli. Suatu kali, adik saya iseng. Ketika anjing sedang makan, ia mengambil kucing lalu meletakkannya di punggung anjing. Anjing marah, kucing marah, lalu mereka saling menggigit dan mencakar. Ketika saya berusaha memisahkan mereka, cakar kucing mengenai tangan saya. Tangan saya berdarah, tetapi anjing saya tidak mengalami goresan apa pun, demikian juga kucing saya. Memang kulit binatang lebih kuat daripada kulit saya. Lalu saya berpikir, mengapa kita begitu lemah? Berarti tubuh kita harus diganti dengan yang lebih kuat. Kalau begitu, mengapa tidak mengganti tubuh kita saja dan mempertahankan otak serta kesadaran kita? Mengapa tidak menjadi robot saja? Ini adalah cara berpikir yang berusaha mempertahankan keunggulan manusia tanpa memahami pengharapan yang berasal dari Tuhan.
Misalnya, bila ditanya, mengapa ada pendidikan? Jawabannya adalah untuk bertahan hidup. Menjadi pintar agar bisa hidup. Mencari uang agar bisa bertahan hidup. Kamu harus mampu, unggul, dan bertahan. Inilah kebudayaan dosa yang dimulai dari Kain. Kain membangun kota karena takut dibunuh orang. Jika hidup hanya seperti itu, apa gunanya hidup? Bahkan jika berada di puncak sekalipun. Bertahan hidup, lalu menjadi tua dan mati.
Ada sebuah cerita tentang seseorang yang melihat Malaikat Maut dan melihat namanya ada dalam daftar kematian. Malaikat itu melihat bahwa orang tersebut sedang mengintip catatannya. “Loh, kamu?” kata malaikat tersebut. “Mengapa kamu kaget melihat saya?” tanya orang tersebut. Orang itu pun berusaha melarikan diri. Ia membeli tiket kereta menuju kota yang jauh sambil terus melihat ke belakang. “Wah, dia tidak mengejar saya.” katanya. Ketika turun di stasiun tujuan, ia kembali melihat Malaikat Maut. Malaikat Maut kemudian berkata, “Saya justru heran melihatmu di sana. Bukankah memang saya harus bertemu denganmu di kota ini?” Inilah cerita yang mengilustrasikan bahwa kita berusaha mencurangi maut, tetapi selalu gagal.
Tuhan berkata, “mari berbagian.” Artinya, kita hanya mendukung pekerjaan-Nya dan bukan menjadi pihak yang memberikan andil terbesar. Namun komunitas manusia telah jatuh ke dalam dosa. Karena itu Tuhan memberikan komunitas yang baru. Manusia tidak dapat berpikir secara individual. Tidak mungkin kita tidak dipengaruhi oleh kebudayaan. Karena itu kita memerlukan komunitas yang dibentuk oleh firman Tuhan, menjadi komunitas yang dapat mengimbangi dan mengkritik komunitas di luar.
Kalau dunia berkata bahwa yang kuat menang dan yang lemah ditinggalkan, komunitas Tuhan bersama-sama mengaku sebagai orang lemah. Komunitas Tuhan berkata bahwa cara kita memandang yang paling lemah mencerminkan cara kita memandang Tuhan. Mari menang bersama-sama dengan Tuhan. Apa yang dilakukan kepada yang paling lemah, dilakukan juga kepada Tuhan. Komunitas ini tidak dapat bertahan jika bukan Tuhan sendiri yang menjaga dan menumbuhkannya. Yang memutuskan bahwa kita menjadi bagian dari komunitas Tuhan bukanlah kita terlebih dahulu, melainkan Tuhan yang terlebih dahulu memilih kita. Dia mengasihi kita sebelum kita ada. Kalau dalam bahasa anak muda yang sedang mendekati pacar: “Sebelum kita bertemu, aku sudah memiliki perasaan untukmu. Sebelum kita bertemu, aku sudah mencintaimu.” Secara logika hal itu terdengar aneh. Kalau ingin membuat puisi cinta, seharusnya setidaknya sedikit logis. Namun Tuhan dapat mengatakan hal itu karena kita sudah ada dalam pikiran-Nya.
Mengapa saya menjadi orang Kristen? Mengapa saya memilih GRII? Karena gereja ini mengajarkan bahwa bukan saya yang memilih gereja ini. Tuhanlah yang memilih dan menetapkan saya berada di dalam gereja ini. Lalu apakah saya memilih? Ya, kedua-duanya benar. Tuhan mengubah hati saya sehingga saya dapat percaya kepada-Nya. Inilah perpindahan dari yang miskin menjadi kaya.
Bayangkan ketika berhenti di lampu merah, ada seorang pengemis mengetuk jendela mobil. Namun bukannya meminta uang, pengemis itu justru memberi kita uang receh. Hanya orang yang memiliki sesuatu yang dapat memberi. Jika kita hanya terus menarik dari orang lain, berarti kita miskin. Jika seseorang tidak memiliki banyak tetapi tetap mau memberi, itulah orang yang kaya. Ia terus memikirkan bagaimana dapat memberi lebih banyak. Hal ini hanya dapat terjadi karena Tuhan mengubah hati kita. Bagaimana Tuhan mengubah kita? Bavinck berkata bahwa Tuhan bekerja dari dalam, tetapi juga dari luar. Tuhan mengubah hati kita, tetapi juga memberikan teladan Kristus dan orang-orang di dalam gereja. Tuhan tidak lagi mengingat dosa saya.
Saya sangat kagum pada Mazmur 3. Daud sedang melarikan diri dari Absalom. “Tuhan adalah perisaiku.” kata Daud. Daud tahu bahwa ia bersalah dan telah bertobat. Namun ia juga percaya bahwa pengampunan Tuhan itu nyata dan bahwa Tuhan memulihkannya. Tuhan tidak lagi mengingat dosanya, dan Daud tidak lagi mengulangi dosanya. Daud memahami betapa seriusnya pengampunan Tuhan. Ia tidak mengulangi dosanya. Sejak berdosa dengan Batsyeba, ketika pada masa tuanya ada seorang perempuan cantik yang menemaninya, Daud tidak bersetubuh dengannya.
Kita dipanggil untuk hidup dalam komunitas yang menyaksikan pengampunan Tuhan. Tuhan dikenal melalui gereja-Nya. Firman diberikan melalui para rasul dan nabi, serta melalui pengajaran, penggembalaan, dan pemberitaan Injil. Tuhan melatih gereja-Nya untuk mengenal Dia, bukan sebagai individu yang terpisah, melainkan melalui relasi dengan orang lain di dalam gereja. Penting untuk mengenal Tuhan melalui membaca firman dan berinteraksi dengan sesama umat Tuhan, termasuk gereja sepanjang zaman. Ada ilustrasi dari Pak Tong. Seorang pemimpin STT berkata bahwa kita harus kembali kepada Alkitab. Tidak perlu buku-buku lain. Di perpustakaan, semua buku selain Alkitab dibakar. Khotbahnya terdengar bagus, lalu dicatat. Setelah catatannya banyak, para mahasiswa bertanya apakah catatan itu boleh dijadikan buku. Ia menjawab, “Boleh.” Buku orang lain dibakar, tetapi bukunya sendiri diperbolehkan.
Penduduk Jenewa dahulu tidak pernah memilih menjadi Protestan atau Katolik. Semuanya bergantung pada penguasa. Ketika Farel dan Calvin datang, mereka berkhotbah dan terus mengajar kota yang belum memahami doktrin Protestan. Khotbah hari Minggu saja tidak cukup untuk membuat penduduk mengerti, maka mereka mengajar bukan hanya pada hari Minggu tetapi juga pada hari-hari lainnya. Meskipun sudah diajar, orang-orang tetap berbuat salah. Mungkin perlu ada disiplin gerejawi. Ternyata mayoritas bersalah dan perlu disiplin. Mereka terus berusaha. Akhirnya muncul kelompok kecil yang mulai sadar. Namun kemudian terjadi konflik, dan Calvin serta Farel diusir.
Setelah itu, pihak Katolik mengirim orang kembali. Mereka melihat orang-orang Protestan dan berkata, “Ada sepuluh orang dan sepuluh interpretasi. Kalau Katolik hanya satu.” Dewan Jenewa menjadi bingung. Bagaimana harus berdebat dengan Katolik? Mereka akhirnya memanggil Calvin kembali. Syukurlah Calvin mau kembali meskipun sebelumnya telah diusir. Calvin menjawab bahwa dalam Katolik memang tampak hanya ada satu interpretasi, yaitu interpretasi Paus. Namun ada banyak kardinal yang menafsirkan perkataan Paus, dan di bawah mereka ada ratusan uskup yang juga menafsirkannya. Jadi tetap saja membingungkan.
Lalu bagaimana? Calvin menekankan pentingnya konsili-konsili utama. Ada doktrin-doktrin yang Tuhan kehendaki untuk dibahas bersama oleh seluruh gereja, seperti persoalan Yahudi dan Yunani atau sunat (Kis. 15). Demikian juga dengan doktrin Tritunggal dan dua natur Kristus. Gereja adalah komunitas yang menafsirkan Alkitab bersama-sama. Biarlah yang tak bersalah (infallible) hanyalah Alkitab, bukan paus ataupun para penafsirnya. Biarlah ada banyak penafsir yang saling berdiskusi, berdebat, dan belajar.
Di dalam gereja kita mengenal Tuhan, menerima firman-Nya, dan dibentuk oleh firman-Nya. Ketika keluar dari gereja, kita menjadi pengajar bagi orang-orang di luar gereja. Israel juga diberikan tugas ini, tetapi mereka gagal. Namun Tuhan memakai Israel untuk membawa Kristus ke dalam dunia. Pemerintah perlu memahami ajaran Alkitab. Peneliti juga perlu. Filsuf juga perlu. Ada orang-orang yang diberikan anugerah untuk menjadi bagian dari gereja. Ada pula yang diberikan anugerah untuk mengenal ajaran gereja. Karena itu, kenalilah ajaran Tuhan bersama gereja, sehingga kita dapat membagikannya kepada orang-orang di luar gereja.
Ada orang dari agama lain yang akhirnya mengenal Yesus. Di Bandung ada seorang Muslim yang ayahnya seorang pengajar agama. Suatu hari ayahnya sedang menonton ceramah agama, lalu tertidur. Ketika ayahnya tertidur, algoritma YouTube justru menampilkan video tentang Injil. Ia merasa terganggu dan mulai mencari gereja terdekat. Kebetulan yang paling dekat adalah GRII Bandung. Ia terus mencari firman Tuhan, menghadiri ibadah Minggu, persekutuan pemuda, dan PA hari Rabu. Akhirnya ia ingin menjadi orang Kristen dan mengikuti katekisasi.
Kita telah diberi anugerah untuk menjadi orang percaya. Marilah kita terus mengisi diri dengan firman, membentuk wawasan dunia kita, sehingga nantinya bisa menjadi berkat bagi orang lain juga.