Intergenerational Service 1

Pdt. Stephen Tong 1 Juni 2026, malam

Selamat malam. Saya dengar hari ini yang ikut lebih dari 400 orang. Kita bersyukur kepada Tuhan ini retret GRII Singapura yang terbesar dalam sejarah gereja ini. Ada 449 peserta, di mana lebih dari 130 peserta adalah anak-anak dan remaja. Yang paling kecil berusia 2 bulan. 2 bulan yang lalu dia masih dalam rahim ibunya. 2 tahun sebelumnya, apakah ia di surga dan dilempar ke bumi? Tidak, dia adalah anugerah bagi papa mamanya. Apakah anak itu tahu ketika dia diberikan menjadi anugerah? Tidak. Apakah papa mamanya tahu? Tahu. Apakah mereka tahu anak ini laki-laki atau perempuan? Apabila mereka tidak tahu, mereka hanya bisa mengira-ngira. Apakah papa mama akan kecewa? Ada yang kecewa, namun setelah mereka melihat lagi, matanya sangat baik, mulutnya mungil, sehingga papa mama tidak lagi kecewa. 

Negeri Cina sekarang punya berjuta-juta laki-laki, dan jumlah laki-laki 90 juta melebihi perempuan. Penyebabnya adalah bertahun-tahun yang lalu, ada pemimpin yang bilang jangan lahir banyak anak karena makanan tidak akan cukup. Pada saat itu biasanya mereka punya banyak anak, namun pemerintah memerintahkan agar hanya punya satu anak. Banyak orang yang khawatir, apabila anak itu mati sebelum saya, saya mau makan apa? Dulu orang tua punya banyak, sekarang hanya punya satu anak. Mereka tidak berani punya banyak anak. Ketika mereka punya satu anak, dan yang lahir perempuan, nama famili tidak bisa turun. Kita semua orang Tionghoa punya nama famili. Apabila ada anak laki-laki, mereka punya nama famili. Orang Cina melihat celaka kalau pemerintah membatasi hanya punya satu anak. Orang Tionghoa takut tidak punya keturunan. Latar belakang dalam sejarahnya: 2300 tahun lalu seorang filsuf mengatakan satu kalimat yang mempengaruhi semua orang. Mencius mengatakan: apabila ada orang yang kurang hormat terhadap orang tua, maka ada kekurangajaran yg paling besar, yakni tidak mau punya anak. Sekarang banyak orang menikah, namun tidak mau punya anak. Kenapa kurang ajar? Mencius berkata dari ribuan tahun lalu, orang tua kamu menikah dan melahirkan engkau. Ada keturunan dari ribuan tahun yang menikah dan melahirkan. “Shēntǐ fǎ fū, shòu zhī fùmǔ, bù gǎn huǐ shāng” (身体发肤,受之父母,不敢毁伤) – “Tubuh, rambut, dan kulit kita pemberian orang tua, kita tidak berani merusaknya. Jadi, saya ada karena papa dan mama ada. Mereka ada karena ada kakek nenek saya. Apabila papa mama tidak ada, saya tidak ada. Saya berterima kasih pada mereka. Apabila mereka tidak ada, tidak mungkin saya ada. Apabila hanya papa, tidak ada mama, saya tidak lahir. 

Orang Tionghoa bilang tidak boleh kurang ajar kepada orang tua. Pertama, tidak boleh pakai suara keras. Pakai suara sopan, suara halus. Anak-anak bicara keras kepada orang tua, harus dipukul karena mereka kurang ajar. Kedua, perintah mereka harus didengar; apabila mereka melawan berarti mereka kurang ajar. Ketiga, ketika mereka memberikan hadiah dan barang, mereka tidak bisa bilang saya tidak mau (lebih lagi ketika mereka lebih miskin namun menyimpan barang secara bertahun-tahun). Anak yang tidak menolak inilah baru dapat dikatakan anak yang baik. Kita lihat banyak orang kurang ajar karena mereka jauh lebih kaya. Mereka menolak pemberian, melawan, sehingga membuat orang tua sedih. 

Anak-anak, dengarlah! Jangan kurang ajar kepada orang tua. Mungkin Anda berpikir, apabila orang tua baik, barulah saya akan menghormati. Apabila mereka tidak baik, mengapa saya harus menghormati mereka? Papa mama baik tidak? Apakah ada papa yang tidak baik? Ada laki-laki setelah menikah, tidak mau kerja, tidak mau dapat uang, tidak bisa membeli makanan, sehingga istrinya sangat susah. Ini orang tua yang tidak baik. Apakah ada orang tua yang tidak baik? Ada. Apabila mereka tidak baik, apakah kita perlu menghormati mereka? Tetap harus menghormati. Mengapa? Karena ini perintah Tuhan: hormati orang tuamu. Juga, alasan lainnya: pertama adalah karena mereka dapat bertobat. Kedua, mereka membesarkan kita. Ketiga, meskipun mereka bersalah, Tuhan tidak berubah. 

Sebagaimana tema retret ini, kita adalah tubuh Kristus, keluarga dalam Kristus. Jadi, kita memiliki dua keluarga. Keluarga kecil termasuk papa, mama, saudara laki-laki dan perempuan. Kita juga memiliki keluarga besar, yakni tubuh Kristus, di mana semua anggotanya adalah keluarga Allah. Gereja adalah tubuh Kristus, keluarga Allah. Dari orang tua sampai anak-anak, inilah keluarga besar, yang kita temukan dalam ibadah tiap mingguan. Tuhan mengatakan bahwa satu keluarga saja tidak cukup. Maka, gereja menjadi keluarga macam kedua, sebuah keluarga internasional dengan banyak saudara. Kita datang ke gereja sebagai keluarga Allah.

Siapa saja anggota keluarga besar Allah ini? Ada Allah Bapa yang terbesar, Dialah yang menciptakan manusia. Lalu, oleh Roh Kudus kita dilahirbarukan. Kalau di dunia ada papa mama, di alam semesta ada Bapa di surga, dan ada Roh Kudus yang memberi hidup baru. Dalam Budha, Hindu, Animisme, Islam, apakah ada bapa di surga? Tidak ada. Dalam Alquran ada 99 nama Allah, tetapi tidak ada nama bapa. Dalam alam semesta hanya kekristenan yg menyebut Allah sebagai Bapa di surga. Yesus Kristus memiliki Bapa teragung di surga, dan Ia memberikan dan membagikan Bapa-Nya sebagai Bapamu juga. Sebagaimana Yesus memanggil Bapa, kita juga dapat memanggilnya sebagai Bapa. Jadi, engkau yang masuk gereja, menjadi keluarga besar dengan Bapa terbesar satu-satunya. Kita menjadi keluarga terbesar di dunia, yang sama-sama memiliki Bapa tertinggi dalam Yesus Kristus. 

Waktu kita berdoa “Bapa kami yang di surga”, kita memiliki Bapa di surga. Keluarga ini dijadikan melalui Bapa yang mengirim Anak Tunggalnya, Yesus Kristus, mati di kayu salib bagi kita. Sebagai orang Kristen, kita memiliki Bapa terbesar dan kita juga memiliki persaudaraan terbanyak dalam dunia.

Close
Close Search Window
↑