Download versi cetak: 1261_1434_KebaktianPagiSore_2026-26Apr_IR
Shalom dari Kristus
Yohanes 20: 19-23
Pdt. Ivan Adi Raharjo, M.Th.
*Ringkasan khotbah ini belum diperiksa pengkhotbah
Kisah Yesus menampakkan diri di tengah-tengah para murid dalam satu ruangan adalah kisah yang hanya dicatat oleh Injil Lukas dan Injil Yohanes. Dalam Injil Lukas dikatakan bagaimana Yesus menampakkan diri di tengah-tengah para murid. Bagaimana Tuhan Yesus mengatakan damai sejahtera atau shalom bagi engkau. Dan bagaimana Tuhan Yesus juga menunjukkan luka di tanganNya. Meski sama, tapi ada penekanan yang berbeda antara Injil Lukas dan Injil Yohanes. Dalam Injil Lukas dikatakan para murid ketakutan ketika mereka melihat Yesus yang sudah bangkit tiba-tiba muncul di tengah-tengah mereka. Mereka takut karena mereka pikir Yesus itu hantu. Dalam Injil Yohanes dikatakan para murid dari pertama memang sudah berkumpul dalam ketakutan. Mereka kunci pintu mereka. Mereka sembunyi dalam satu ruangan karena mereka takut kepada orang Yahudi. Begitu mengerikannya peristiwa salib, sampai para murid itu berkumpul dengan ketakutan dalam pintu yang mereka kunci rapat-rapat. Tapi dalam peristiwa ini kita melihat ada satu hal yang indah yang dihadirkan di tengah-tengah mereka, yang menjadi gambaran sebetulnya seperti apa gereja itu.
Yang menjadi hak istimewa atau anugerah bagi gereja bukanlah kalau gereja itu punya finance yang kuat, punya fasilitas yang lengkap, memiliki posisi yang strategis di dalam masyarakat dan pemerintahan. Yang menjadi hak istimewa dan anugerah besar bagi gereja adalah ketika Kristus hadir di tengah-tengah kita, bahkan ketika keadaan sangat sulit. Karena dari situlah gereja menjadi yang diutus oleh Tuhan. Pulang dari KKR regional kita justru semakin melihat betapa besar tantangan yang ada. Kalau kita pergi melayani ke sana kita pikir bisa membantu dan mengubah keadaan, maka saya rasa kita belum melihat realita yang sesungguhnya. Ketika kita sadar kita lemah, kita terbatas dan ini adalah pekerjaan yang terlalu besar, justru mungkin itu menjadi titik awal yang sama seperti ketika peristiwa gereja pertama kali diutus oleh Yesus. Gerakan kekristenan bukan lahir dari orang-orang yang dari pertama langsung berani, langsung yakin, percaya diri bisa melakukan tugas panggilan ini. Tapi justru gerakan yang menggoncang dunia ini dimulai dari orang-orang yang takut dan bingung, yang tidak tahu harus berbuat apa dan harus mengunci pintu mereka. Apa yang mengubah mereka? Kehadiran Yesus. Yesus yang ketika hadir di tengah-tengah mereka, mengatakan satu kalimat yang menjadi kekuatan bagi para murid. Kalau kita pikir kalimat apa yang paling masuk akal untuk Yesus katakan kepada para murid dalam kondisi itu? Saya rasa lebih make sense kalau Tuhan Yesus muncul di tengah-tengah mereka dan mengatakan, “Shame on you!” Karena mereka sedang ketakutan dan mereka adalah orang-orang yang mungkin terakhir kali berkumpul bersama Yesus dalam ruangan itu. Mereka telah gagal mengikut Yesus. Petrus menyangkal Yesus. Murid-murid yang lain meninggalkan Yesus. Dan bahkan ketika mereka mendengar kabar kubur kosong mereka tetap takut. Mereka tetap tidak percaya. Tapi Tuhan Yesus di sini mengatakan, “Shalom bagimu.” Dia katakan dua kali. Memang ini adalah kalimat sapaan yang umum diucapkan oleh orang Yahudi pada zaman itu. Seperti orang Muslim mengatakan assalamualaikum, ada shalom-nya. Damai sejahtera bagi engkau. Orang Yahudi kalau bertemu dengan sahabatnya akan mengatakan, “Shalom bagimu.” Tetapi dalam konteks ini, kita semua percaya bahwa ada makna yang lebih dalam, bukan sekedar sapaan standar. Shalom yang Yesus maksudkan di sini bukanlah sekedar perasaan tenang, perasaan chill tanpa stres. Tetapi shalom yang seperti ada dalam Perjanjian Lama, yang adalah sebuah gambaran keutuhan. Keutuhan wellbeing, karena ini adalah berkat Tuhan. Dan itulah yang menjadi tujuan utama Kristus datang ke dunia. Kristus datang untuk menghadirkan shalom yang sejati, yang utuh, yang dari Tuhan.
Dunia sepanjang zaman mencari shalom, mencari damai. Mereka menyerukan, “Ayo damai, kita perjuangkan kedamaian.” Tetapi dari zaman dulu sampai sekarang, orang yang berseru damai juga adalah orang yang melakukan pembunuhan, genocide dan seterusnya. Semakin kita melihat, semakin kita berpikir, bagaimana mungkin kita menemukan damai di dunia ini. Tidak mungkin terpikir bagaimana Rusia, Ukraina, Israel, Palestina, Amerika, Iran bisa berdamai dalam keadaan sekarang ini. Tetapi yang Kristus hadirkan di dalam dunia ini adalah damai yang jauh lebih sulit dicapai daripada sekedar perdamaian internasional. Yang Kristus hadirkan di tengah-tengah dunia ini adalah damai antara manusia yang sudah meninggalkan Allah dengan Allah yang suci.Itulah yang dikerjakan oleh Kristus di dalam karya-Nya, dalam kematian dan kebangkitan-Nya. Damai yang juga pada akhirnya diberikan kepada kita. Yang Paulus katakan, “Jangan kuatir tentang apapun juga, tapi nyatakan keinginanmu pada Allah dalam doa. Karena damai sejahtera Allah yang melampaui segala akal memelihara hati dan pikiranmu dalam Kristus Yesus.”Bukan saja peace with God, tapi juga peace of God, damai dari Allah yang memenuhi hati kita. Inilah juga yang disampaikan Pendeta Stephen Tong dalam KKR Jumat Agung di Expo kemarin. Kematian Kristus membawa perdamaian. Damai dengan Allah, damai dengan diri dan damai dengan sesama manusia. Dan ketika kita sudah mendapatkan itu, kitapun diutus untuk membawa damai bagi orang lain. Damai antara satu orang dengan orang yang lain, tapi juga damai antara manusia berdosa dengan Allah.Bukan saja Dia memberikan peace with God dan peace of God kepada para murid sehingga para murid yang takut sekarang boleh didamaikan dan ditenangkan, Dia juga memberikan kepada mereka sesuatu untuk menjalankan misi panggilannya, yaitu damai untuk misi pekerjaan Tuhan. Itulah yang menjadi keunikan dalam catatan penampakan Tuhan Yesus di dalam Injil Yohanes.
Dalam Injil Lukas dicatat bagaimana Tuhan Yesus menegur para murid. Tiga peristiwa kebangkitan dicatat di Injil Lukas : Maria menemukan kubur kosong, dua murid berjalan ke Emaus, dan Yesus menampakkan diri di ruangan. Tahun lalu kita melihat ada empat pola di dalam tiga peristiwa itu. Semuanya dimulai dengan bagaimana para murid dipenuhi dengan kebingungan, kesedihan dan keputusasaan. Yang kemudian diikuti dengan teguran kepada para murid, “Mengapa kamu tidak percaya?” Dikatakan setelah itu, Tuhan Yesus membukakan firman kepada mereka, “Bukankah dalam Perjanjian Lama tertulis memang ini yang harus terjadi?” Dan setelah para murid mengerti, maka mereka langsung pergi memberitakan berita sukacita itu kepada yang lain. Ini pola di dalam Injil Lukas yang berarti menyoroti bagaimana para murid yang tidak mengerti sekarang menjadi mengerti dan kemudian pergi menjadi saksi Kristus. Dalam Injil Yohanes, ada sebuah kalimat yang lebih eksplisit dinyatakan. Bagaimana setelah Yesus menyatakan diri kepada para murid, mengatakan, “Damai sejahtera bagi kamu.” Dia mengatakan tiga kalimat berikutnya. Yang pertama Dia mengatakan, “Seperti Bapa mengutus Aku, demikian juga sekarang Aku mengutus kamu.” Ini bagian yang tidak ada dalam Injil Lukas, tetapi dicatat oleh Yohanes. Dan ini sangat dekat dengan konsep dalam tradisi Yahudi yang istilahnya adalah Saliah. Saliah adalah seseorang yang bekerja kepada majikannya, yang melayani tuannya dengan cara mewakili tuannya itu, yang kemudian pergi bertemu dengan pihak-pihak lain, dengan bisnis partner, dengan orang-orang lain untuk melakukan transaksi-transaksi keuangan, legalitas, dan seterusnya. Ketika seorang Saliah ini datang mengadakan perjanjian atau transaksi dengan orang lain, maka orang lain ini melihat Saliah sebagai majikannya. Untuk bisa menjalankan tugas ini, seorang Saliah memerlukan dua hal: kuasa yang memampukan dia melakukan hal ini dan otoritas yang memberikan hak untuk dia melakukan hal ini. Inilah yang diberikan oleh Tuhan Yesus kepada para murid dalam ruangan itu. Dalam kalimat selanjutnya Tuhan Yesus memberikan kuasa untuk mereka melakukan tugas panggilannya. Kuasa Roh Kudus yang dihembuskan kepada mereka menjadi kuasa yang memampukan para murid melakukan tugas ini. Dan juga otoritas untuk memproklamasikan tentang pengampunan dosa kepada manusia. Kuasa dan otoritas yang diberikan kepada para murid untuk menjalankan misi. Misi apa? Misi yang melanjutkan misi Sang Anak.
Dalam Injil Yohanes di berbagai ayat, banyak sekali ayat yang Tuhan Yesus menyatakan diri-Nya sebagai Dia yang diutus. Yesus sering kali mengatakan, “Bapa mengutus Aku, Dialah yang mengutus Aku,” dan seterusnya. Di sini kita bisa melihat bahwa Allah Anak adalah Allah yang diutus oleh Allah Bapa. Allah yang kita sembah adalah Allah misionaris. Dan ketika kita menyembah Allah yang misionaris maka kita juga menjadi gereja yang misionaris. Karena di sini kita melihat paralel antara Bapa mengutus Yesus dengan sekarang Yesus mengutus kita. Misi yang sama-sama penting. Misi yang kemudian dipercayakan kepada kita untuk kita lanjutkan. Ketika Yesus mengatakan, “Bapa mengutus Aku,” itu perfect tense. Artinya sesuatu yang telah dikerjakan di masa lalu yang dampaknya sampai sekarang. Ketika Yesus mengatakan, “Sekarang Aku mengutus kamu,” itu dalam present tense yang artinya terus masih kita laksanakan. Bayangkan kita mengerjakan tugas panggilan yang Yesus Kristus sendiri lakukan dalam dunia ini. Sadarkah kita betapa pentingnya, betapa signifikannya panggilan yang Allah berikan kepada kita? Apa yang Kristus kerjakan sekarang dipercayakan untuk kita lanjutkan. Ini adalah tugas panggilan yang begitu besar yang dipercayakan kepada orang-orang yang berkumpul dengan takut dalam ruangan terkunci. Bukan orang-orang dalam posisi penting di sinagoge, di dalam pemerintahan, tapi orang-orang yang bukan siapa-siapa. Orang-orang yang dipanggil untuk menjalankan misi Yesus dengan cara yang sama seperti Dia melakukannya.
Dua kali Yesus mengatakan, “Shalom bagimu.” Dan di tengah-tengah kalimat itu, Yesus menyatakan luka di tangan-Nya dan di lambung-Nya. Dan Dia mengatakan, “Seperti dulu Bapa mengutus Aku, sekarang Aku mengutus kamu.” Artinya, bukan saja misi kita adalah misi yang sama seperti yang Yesus kerjakan, tetapi misi yang juga akan dikerjakan dengan cara yang sama. Gereja, kita, diutus oleh Kristus yang terluka. Ketika Dia menampakkan diri pada para murid, Dia bukan menampakkan diri mengenakan mahkota kemuliaan. Dia tidak mengutus mereka setelah Dia naik ke surga duduk di sebelah kanan Allah Bapa. Dia mengutus mereka dengan menunjukkan luka di tangan dan tubuh yang tertikam. Ini menyatakan cara kita menjalankan misi panggilan Tuhan. Bukan dalam kemuliaan tetapi dalam kehinaan. Bukan dalam kekuatan tetapi dalam kelemahan. Dan justru dengan cara itulah pekerjaan Tuhan digenapkan. Inilah yang mengubah dari gereja yang takut menjadi gereja yang pikul salib dan berani melanjutkan misi Yesus. Ini ibarat kita ini orang yang mungkin mencari pekerjaan dan melamar kepada sebuah perusahaan. Ketika kita sudah diinterview, ternyata pemilik perusahaan memberikan kepada kita jabatan yang jauh lebih tinggi daripada apa yang kita minta. Jabatan yang kita sadar kita tidak sanggup untuk melakukannya. Saya terlalu underqualified untuk melakukan hal ini. Tetapi kemudian pemilik perusahaan ini mengatakan, “Ya, memang harus banyak hal kamu ubah, kamu perbaiki, dan kamu tidak gampang menjalankan tugas ini. Tetapi saya akan memberikan kepada kamu segala resources yang company kita punya untuk kamu bisa menjalankan tugas ini.” Dan itulah ketika dikatakan Yesus menghembusi mereka dan berkata, “Terimalah Roh Kudus.”
Keunikan Injil Yohanes, adalah ketika dia menghadirkan Injil sebagai ciptaan baru. Yohanes 1:1 dimulai dengan kalimat, “Pada mulanya adalah Firman.” Ini mengingatkan pada kita bahwa kitab Kejadian pada mulanya Allah berfirman menciptakan segala sesuatu dengan firman-Nya. Lalu dalam 11 ayat di dalam Injil Yohanes, dia memberikan tujuh tanda yang Yesus lakukan di tengah-tengah orang Israel. Dalam 11 pasal, ada tujuh mukjizat yang seolah-olah mengingatkan pada kita tujuh hari penciptaan. Yang menjadi puncak adalah ketika Yesus kemudian membangkitkan Lazarus dari kubur disaksikan oleh semua orang di depan umum. Dalam peristiwa penampakan Yesus di hari Minggu pertama Paskah, Yesus menyatakan diri dengan menunjukkan tanda paku di tangan dan di lambungNya. Ini menyatakan bahwa dengan bekas luka inilah Aku memberikan shalom yang baru dalam ciptaan yang baru. Ketika Allah menciptakan dunia ini ada shalom, dikatakan semuanya baik dan sangat baik. Ada shalom Allah yang utuh dalam ciptaan ini. Tapi ketika dosa masuk, maka shalom itu hilang. Tapi lewat tanda luka yang Yesus kerjakan, ada shalom yang baru di dalam ciptaan yang diperbaharui. Ciptaan baru yang dimulai di dalam minggu pertama ini, dengan Roh yang dihembuskan oleh Kristus sendiri. Kalau dalam hari pertama penciptaan dikatakan Allah menciptakan segala sesuatu dengan firman-Nya dan Roh Allah melayang-layang di permukaan air. Maka di sini Tuhan memulai ciptaan yang baru lewat Roh yang dihembuskan. Dalam kitab Kejadian ketika Allah menghembuskan nafas-Nya kepada Adam, dikatakan Adam menjadi manusia yang hidup. Di dalam Injil Yohanes ketika Yesus berbicara dengan Nikodemus, dia mengatakan, “Kamu harus lahir baru.” Nikodemus bertanya, “Apa maksudnya lahir baru? Bagaimana caranya?” Yesus mengatakan, “Itu adalah pekerjaan Roh yang seperti angin, seperti nafas.” Itulah nafas yang Yesus percayakan kepada gereja-Nya untuk memampukan kita melaksanakan tugas panggilannya. Kuasa kehidupan, kuasa kebangkitan dipercayakan kepada gereja Tuhan. Ini paradoks yang sangat besar bagi gereja Tuhan. Karena dalam kita menjalankan panggilan pelayanan yang Tuhan percayakan kepada kita, kalau kita merasa kita sanggup, artinya Saudara sekalian kita belum melihat realita apa yang sebetulnya harus kita kerjakan. Kita tidak menyadari betapa lemahnya kita, betapa kita itu penuh kegagalan. Apa yang harus dikerjakan oleh gereja? Gereja bukan sekedar dipercayakan untuk membuat berbagai macam kegiatan demi kegiatan. Gereja bukan dipercayakan untuk sekedar mengumpulkan jumlah angka statistik dalam setiap acara-acara yang kita adakan. Tapi gereja dipanggil untuk memberitakan firman di mana ketika firman diberitakan ada manusia berdosa menjadi bertobat. Bertobat bukan sekedar dengan minta diri dibaptis tetapi ada perubahan yang sejati di dalam hatinya. Pertobatan yang bukan sekedar ikut kelas katekisasi lalu dibaptis atau disidi menjadi anggota gereja dewasa. Tetapi pertobatan yang betul-betul menangisi dosa dan menyerahkan hidup kepada Tuhan yang sejati. Kalau kita pikir kita bisa melakukan hal ini, maka kita menipu diri. Karena dalam Injil Yohanes 12 setelah Tuhan Yesus membangkitkan Lazarus disaksikan oleh orang banyak, memang banyak orang bertobat. Tetapi banyak juga orang yang semakin mengeraskan hati. Ada orang-orang Farisi yang lihat Yesus membangkitkan Lazarus yang sudah betul-betul mati, mereka masih mengatakan ini bukan dari Tuhan. Ini pasti ada tipuan atau setan dan segala macam. Justru mau menangkap Yesus. Di situ Yesus mengatakan inilah yang dikatakan oleh Nabi Yesaya, “Banyak orang melihat tetapi mengeraskan hati dan tetap tidak percaya.” Banyak orang pernah ikut banyak wadah di gereja yang baik, mendengarkan firman yang dipersiapkan dengan baik-baik, diberitakan dengan sungguh-sungguh, tetap tidak berubah. Sebagai hamba Tuhan, ketika lulus STT yang jadi pergumulan besar saya adalah bagaimana mempersiapkan khotbah. Tapi semakin saya melayani, saya melihat kesulitan paling besar jadi hamba Tuhan bukan di situ. Tapi karena kita dipanggil untuk mendatangkan pertobatan bagi umat Tuhan. Padahal pada saat yang sama kita juga tahu, kita tidak bisa mengubah hati manusia yang keras. Tuhan Yesus sendiri tidak bisa mengubah hati orang Farisi. Kalau kita pikir kita bisa mempertobatkan orang, maka kita menipu diri. Kalau kita pikir kita bisa melayani, pasti semua jadi berkat, pasti ada kebangunan rohani — itu mimpi. Tetapi justru di situlah kita bisa melihat apa yang Kristus berikan bagi gerejanya menjadi kekuatan bagi kita. Kristus memberikan kepada kita bukan sekedar strategi-strategi, tetapi kuasa Roh-Nya sendiri. Inilah peringatan kepada siapa kita menggantungkan pelayanan kita. Kalau kita bergantung pada organisasi, maksimal kita akan mendapatkan apa yang organisasi bisa berikan. Kalau kita bergantung pada edukasi, maksimal kita dapatkan apa yang bisa diberikan edukasi. Kita bergantung pada orang atau tokoh tertentu, maksimal kita dapatnya dari orang itu. Tapi kalau lewat doa, kita bergantung kepada Allah yang empunya Roh kehidupan, maka kita bisa mendapatkan apa yang Allah bisa kerjakan. Itulah mengapa persekutuan doa itu penting. Di tengah-tengah padatnya kegiatan kita, ketika kita ada kesempatan, mari kita sama-sama bergantung kepada Tuhan dalam doa-doa kita.
Berbagai macam strategi, wadah, pelayanan, kalau tidak ada kuasa Kristus yang menyertai, semuanya sia-sia. Tapi sebaliknya, dengan persiapan sesederhana mungkin, dengan segala keterbatasan dan kelemahan, ketika ada Tuhan hadir dan menyertai pelayanan, maka dikatakan Roh Allah itu sanggup untuk menghidupkan tulang-tulang yang kering. Dan itulah yang dipercayakan oleh Kristus kepada kita, gereja-Nya. Kita juga gumulkan ketika kita hadir beribadah di dalam gereja, mendengarkan firman, ikut berbagai macam kegiatan. Apakah kita menjadi orang-orang yang tetap mengeraskan hati? Tuhan bekerja dengan begitu besar di tengah-tengah kita, tapi kita menjadi orang yang terlewatkan. Semua itu karena kita mengeraskan hati. Berdoalah pada Tuhan supaya Roh-Nya boleh bekerja dalam hati. Karena problem terbesar dalam hidupmu bukanlah sekedar masalah keuangan, kesehatan, pekerjaan, relasi, dan seterusnya. Problem terbesar adalah ketika kita mengeraskan hati kita kepada Tuhan dan kita tidak mau datang mendengarkan suara-Nya. Dengarkanlah ketika gereja Tuhan memberitakan firman-Nya. Kepada gereja diberikan otoritas. Dalam kalimat yang terakhir dikatakan, “Jikalau kamu mengampuni dosa orang, dosanya diampuni. Jikalau kamu menyatakan dosa orang tetap ada, dosanya tetap ada.” Tentu hanya Allah yang bisa mengampuni dosa, bukan dosa kita diampuni karena gereja. Tetapi kepada gereja dipercayakan berita pengampunan dosa. Ketika gereja mengatakan, “Engkau akan binasa dalam dosamu jikalau engkau tidak bertobat, jangan keraskan hatimu!” Gereja diutus untuk memberitakan proklamasi ini. Gereja diutus bukan untuk mengajarkan moralitas dan mendatangkan keadilan sosial. Tapi gereja dipanggil untuk memberitakan pengampunan dosa. Shalom dari Tuhan. Inilah panggilan kita sebagai komunitas yang lemah dan banyak kekurangan. Ketika kita dikumpulkan bersama-sama dalam segala kebingungan, kekuatiran, kita berkumpul bersama di upper room, di ruangan yang bersama dengan Tuhan itu, kita sedang dipersiapkan untuk menjalankan panggilan Tuhan yang begitu besar. Gereja adalah sekelompok orang yang telah ditebus oleh Tuhan. Kepada kita diberikan shalom, relasi kita dibenahi dengan Allah, kita tidak lagi takut. Tapi juga shalom yang mengutus kita untuk memberikan damai yang sama kepada dunia ini. Dalam gereja kita dikumpulkan oleh Tuhan, ditopang oleh anugerah-Nya dan dikuatkan oleh Tuhan. Gereja dipanggil oleh Tuhan untuk memberitakan pengampunan dosa. Sebelum Tuhan Yesus melakukan hal-hal yang besar, seringkali Dia mengumpulkan para murid-Nya dan mempersiapkan mereka. Dalam perjamuan terakhir Yesus memberikan banyak pengajaran dan mempersiapkan mereka. Dalam hari pertama kebangkitan-Nya, Yesus hadir di tengah-tengah mereka. Ruangan di mana murid-murid Tuhan berkumpul, Tuhan hadir di dalamnya. Tuhan menguatkan dan Tuhan memanggil. Panggilan misi pelayanan yang Tuhan percayakan pada kita itu bukan hanya sekedar KKR regional di Kalimantan Tengah, tapi juga termasuk di Singapura. Biarlah ini menjadi beban dalam hati kita. Tuhan memanggilku untuk memberitakan shalom bagi dunia ini. Kepada siapa aku bisa memberitakan hal ini? Dan sebagai satu tubuh Kristus, satu komunitas, hal apa yang kita bisa lakukan untuk memberitakan shalom ini? Mari kita bersatu di dalam doa.