Download versi cetak: 1285_KebaktianPagi_2026-11Okt
Murid Yesus yang Sejati
Yohanes 6:60-71
Pdt. Ivan Adi Raharjo, M.Th.
*Ringkasan khotbah ini belum diperiksa pengkhotbah
Ini bagian akhir dari pengajaran Yesus tentang diri-Nya sebagai roti hidup. Yohanes 6:60-71. Sebuah gereja penuh dengan orang, belum tentu penuh dengan murid yang sejati. Dalam perjalanan iman kita pun, tidak semua orang yang memulai perjalanan bersama dengan Tuhan Yesus akan terus berjalan bersama dengan Yesus sampai akhir. Ada orang yang mulanya begitu bersemangat dalam ibadah dan pelayanan, merasa kehidupan Kristen indah. Namun tiba-tiba mereka berhadapan dengan firman Tuhan, jawaban, atau pimpinan Tuhan yang tidak sesuai dengan keinginan mereka, hal-hal yang sulit untuk diterima. Mereka mulai bertanya, apakah betul ikut Tuhan itu worth it? Orang seperti ini tidak sedikit yang mungkin langsung meninggalkan gereja, atau pelan-pelan menjauh dari persekutuan dan firman Tuhan. Mereka menerima bagian firman Tuhan yang menyenangkan, yang cocok dengan mereka, dan menolak bagian-bagian yang mereka tidak suka, yang menegur dan mengoreksi mereka. Karena itu, pertanyaan penting: apakah kita sungguh-sungguh percaya kepada-Nya sebagaimana murid-murid Yesus yang sejati.
Ini satu pertanyaan yang terus-menerus dilontarkan dalam Yohanes 6. Di bagian awal kita lihat banyak orang yang mencari dan mengikut Yesus. Tetapi ketika Yesus mulai menjelaskan siapa diri-Nya dan untuk apa Dia datang [Yoh 6:51] maka respons orang banyak mulai berubah. Mereka bersungut-sungut, mereka anggap perkataan Yesus terlalu keras. Akhirnya banyak yang meninggalkan Yesus. Di situasi itu, Yesus bertanya kepada para murid-Nya. “Apakah kamu tidak mau pergi juga?” [Yoh 6:67]. Lalu Petrus menjawab dengan satu pengakuan yang sangat penting dan indah [Yoh 6:68]. Kita akan melihat dua gambaran murid Kristus. Ada murid-murid yang palsu yang akhirnya meninggalkan Yesus, dan ada murid yang sejati yang tetap datang kepada-Nya. Kita lihat bagaimana perbedaan antara murid yang sejati dan palsu ini bukan terletak pada kehebatan manusia, tetapi sekali lagi semata-mata karena anugerah Tuhan.
Murid yang palsu itu yang dekat dengan Yesus tetapi tidak sungguh-sungguh percaya kepada-Nya. Dalam Yoh 6:60 “murid-murid Yesus” ini bukan merujuk kepada 12 murid; ini orang banyak yang mengikuti Yesus. Yohanes juga menyebut orang-orang ini sebagai murid-murid Yesus karena mereka bukan sama sekali belum pernah dengar tentang Yesus. Mereka telah ikut Yesus, mencari Yesus, mendengarkan pengajaran-Nya, menyaksikan mukjizat-mukjizat-Nya. Tetapi di ayat 64 Yesus berkata, “Di antara kamu, ada yang tidak percaya.” Yesus tahu ini sejak semula, dalam lingkaran pengikut Yesus, ada garis pemisah yang tidak terlihat dari luar. Ada tiga kelompok murid Yesus, pertama adalah orang banyak yang ikut Yesus karena tertarik, tetapi setelah mendengar perkataan Yesus yang keras, mereka meninggalkan Yesus. Kata “keras” itu bahasa Yunaninya Sklēros, dan “keras” ini bukan berarti sulit dicerna, sulit dimengerti. Jadi mereka bukan tidak mengerti Yesus bicara apa, mereka mengerti dengan jelas, tetapi mereka sulit menerimanya karena bagi mereka ini tidak menyenangkan dan menyinggung. Ini bertentangan dengan pemahaman mereka tentang Allah dan keselamatan. Mereka mengerti dengan jelas, tetapi mereka tidak mau menerima. Mereka bersungut-sungut dan meninggalkan Yesus. Karena sejak awal mereka ikut Yesus demi roti, mereka ikut Yesus karena ingin Yesus menjadi raja seturut kemauan mereka. Ketika mereka mendengarkan perkataan Yesus dan tidak sesuai dengan apa yang mereka inginkan, mereka menggerutu dan pergi.
Dalam Yohanes 6 ada tiga alasan kenapa pengajaran Yesus itu keras. Pertama, perkataan Yesus keras karena Yesus bicara tentang salib yang hina. Ayat 61, Yesus mengatakan, “Apakah perkataan itu menggoncangkan imanmu?” Bahasa Inggrisnya “do you take offense”, atau dalam terjemahan lain, kenapa kamu tersandung dengan perkataan ini? Kata offense / stumble / tersandung itu dalam bahasa Yunani scandalizo. Skandal. Salib itu adalah skandal bagi orang Yahudi. Sebelumnya Yesus berkata bahwa Ia akan memberikan daging-Nya bagi hidup dunia, ini bicara tentang nanti kematian-Nya di kayu salib. Bagi banyak orang, gagasan Mesias yang mati itu tidak bisa diterima. Mesias, orang Israel mati di kayu salib, itu skandal yang sangat susah diterima. Karena orang Yahudi mengharapkan seorang Mesias, seorang pembebas yang membawa kemenangan, kekuatan, kemuliaan. Mereka menginginkan seorang raja yang dapat memenuhi harapan mereka. Mereka ingin kemenangan dan kemuliaan, bukan salib dan kehinaan. Tetapi Yesus sebaliknya datang untuk menyerahkan diri-Nya mati di kayu salib yang hina. Inilah yang membuat salib itu menjadi batu sandungan. Allah tidak menyelamatkan kita dengan cara yang sesuai dengan kebanggaan manusia, tetapi Ia menyelamatkan kita melalui Anak-Nya yang merendahkan diri, yang menderita dan mati bagi orang berdosa.
Persis 511 tahun yang lalu reformasi, Martin Luther membedakan dua macam teologi. Pertama dia sebut “teologia glory” atau teologi kemuliaan. Ini adalah teologi yang mencari Allah di tempat yang terlihat kuat, sukses, dan mulia. Allah dikenal lewat kemenangan, keberhasilan, dan berkat yang terlihat. Itulah kenapa teolog zaman itu sangat meninggikan pemikiran manusia, filsafat dari Aristotel, dst; sangat mementingkan kuasa institusi gereja, kesuksesan yang bisa dilihat dan dikagumi, kesempurnaan moralitas. Yang menganut teologi kemuliaan ini, dianggap sedang mencoba menaiki tangga kerohanian. Mereka ingin naik tangga kerohanian, makin hari makin rohani, dengan berbuat baik, belajar makin pintar, bahkan dengan memberikan uang, surat penghapusan dosa. Inilah kecenderungan manusia berdosa, menganggap bahwa kuasa dan penyertaan Allah itu harus terlihat, kemenangan yang bisa dibanggakan. Luther mengontraskan ini dengan teologia yang menurut dia lebih benar yaitu “teologia crucis” atau teologia salib, di mana kita bisa menemukan Allah justru dalam kehinaan, penderitaan, dan kelemahan. Allah paling dinyatakan justru di atas kayu salib Kristus. Allah menyatakan diri-Nya, lewat kelemahan, penderitaan, dan hal-hal yang bagi dunia tampak bodoh, justru di situ Allah bekerja. Allah menyatakan kesucian-Nya, keadilan-Nya, kasih-Nya justru lewat Kristus yang tersalib.
Allah menyelamatkan kita dengan cara yang membuat manusia berdosa tersandung, yaitu Ia memberikan kita penebusan lewat kehinaan. Raja segala raja mati sebagai orang yang dihukum. Kita sulit menerimanya, karena kita cenderung ingin Kristus yang tanpa salib dan kekristenan yang tanpa penderitaan. Sepertinya lebih waras untuk kita menerima Injil yang menjanjikan kesuksesan, kesehatan, kemudahan. Tidak ada yang mau jadi pengikut prinsip ‘harus pikul salib karena Tuhanmu itu tersalib.’ Hanya orang-orang bodoh yang mau menjadi orang Kristen. Karena itu bagi dunia, salib itu adalah kebodohan, suatu skandal. Tetapi justru bagi murid-murid Kristus yang sejati, salib menjadi satu hal yang memang mengerikan, hina, berat, tetapi juga indah. Karena justru di atas kayu salib, kita makin melihat kekudusan Allah yang tidak menganggap remeh dosa. Di atas kayu salib keadilan Allah justru dijunjung tinggi, dosa harus dihukum. Di atas kayu salib, kita juga melihat Allah yang mengasihi orang berdosa sedemikian sehingga Dia menyerahkan Anak Tunggal-Nya. Kekristenan itu bukanlah kisah tentang manusia yang berhasil naik tangga sampai kepada tempat Allah, tetapi kekristenan adalah kisah tentang Allah yang turun ke dunia menyelamatkan manusia yang tidak sanggup menyelamatkan dirinya. Kita tidak diselamatkan karena kita berhasil menjadi cukup baik untuk Allah. Tetapi kita diselamatkan karena Kristus telah melakukan bagi kita apa yang tidak pernah dapat kita lakukan bagi diri kita sendiri.
Ini point kedua, perkataan Yesus susah diterima karena ini mengajarkan anugerah yang menghancurkan kesombongan kita. Kita membutuhkan kematian Kristus karena masalah kita jauh lebih dalam dari kurang pengetahuan, kebiasaan buruk, atau kurang motivasi. Masalah kita adalah dosa dalam hati. Kita bukanlah sekadar sesekali melakukan kesalahan. Kita adalah orang-orang berdosa dan jahat yang butuh diperdamaikan dengan Allah. Kita tidak sanggup membayar hutang dosa kita lewat perbuatan baik sebanyak apa pun. Orang yang punya hutang begitu besar, ketika dia berusaha membayar sedikit demi sedikit, jumlah yang harus dibayarnya itu jauh melampaui kemampuannya untuk membayar seumur hidup, maka hutangnya itu tidak mungkin selesai dengan hanya dia berusaha lebih keras, karena itu tidak mungkin dia bayar. Kalaupun kita bisa hidup baik dan taat, itu bukan sesuatu yang kita bisa pakai untuk membayar hutang kepada Tuhan. Karena segala kebaikan yang kita bisa lakukan itu pun anugerah dari Tuhan. Dan yang kita perlukan untuk menyelamatkan diri kita bukan hanya teladan yang baik untuk ditiru. Yang kita perlukan adalah seseorang Juruselamat yang menanggung utang dosa kita. Itulah yang Kristus lakukan di atas kayu salib. Dia tidak datang untuk mengajarkan bagaimana hidup yang benar saja, tetapi Dia datang untuk memberikan kebenaran-Nya bagi kita. Karena itu, keselamatan adalah anugerah, kita menerimanya itu melalui iman, bukan karena jasa atau prestasi rohani kita. Ini juga satu hal yang dikemukakan dalam gerakan Reformasi: sola fide. Seperti dalam Yoh 6:65 Sola gratia, semuanya hanya karena anugerah. Perkataan ini sulit diterima, karena ini menghancurkan segala yang bisa dibanggakan. Karena sebagai manusia yang sangat kerdil ini, kita ingin memiliki sesuatu yang boleh kita banggakan di hadapan Allah, Saya diselamatkan karena saya ini lebih bijaksana, lebih baik, lebih tulus, lebih rohani daripada orang lain. Tetapi Injil Kristus meruntuhkan semua kesombongan itu. Orang yang diselamatkan tidak bisa merasa hebat bisa menemukan Kristus. Dia hanya bisa mengucap syukur betapa besarnya anugerah Allah, sehingga Allah mencari dan menyelamatkan dia.” It’s only by grace, sola gratia, hanya karena anugerah.
Ketiga, perkataan Yesus sulit diterima karena Yesus menuntut iman eksklusif kepada diri-Nya. Dalam Yohanes 6, Yesus tidak memperkenalkan diri-Nya sebagai salah satu jalan untuk memperoleh hidup kekal. Dia menyatakan bahwa Dialah Sang roti hidup, bahwa semua orang yang mau mendapatkan hidup kekal harus datang dan percaya kepada-Nya. Hanya dalam Dia, solus Christus. Inilah membuat pengajaran-Nya sulit diterima. Karena kita sebagai manusia ingin punya banyak pilihan. Bahkan bicara Yesus pun, kita ingin pilih-pilih menurut keinginan kita sendiri. Kita senang kalau Yesus mengajarkan cinta kasih, pengampunan, ketika Ia memberikan penghiburan. Tetapi ketika Yesus mengatakan Dialah satu-satunya Juruselamat, bahwa keselamatan tidak bisa diperoleh lewat jasa atau usaha kita sendiri, kita keberatan. Salah satu prinsip Reformasi adalah solus Christus (hanya Kristus). Kita diselamatkan bukan lewat Kristus plus jasa kita, bukan plus prestasi moral kita, bukan Kristus sebagai pelengkap bagi sistem keagamaan yang kita bisa andalkan. Keselamatan kita semata-mata terletak hanya dalam Kristus dan karya-Nya yang sempurna, karena hanya Kristus yang sanggup melakukan apa yang tidak sanggup kita lakukan. Hanya Kristus yang bisa mendamaikan kita dengan Allah. Hanya Dia yang telah mati bagi dosa kita dan bangkit mengalahkan maut.
Tiga hal yang berkaitan ini membuat pengajaran Yesus itu terlalu keras bagi banyak orang: (1) salib adalah skandal yang memalukan dan bodoh; (2) konsep anugerah itu menghancurkan yang kita bisa banggakan; dan (3) Kristus satu-satunya Juruselamat berarti menutup jalan lain untuk menyelamatkan diri. Yoh 6:66, Mereka ikut Yesus ketika mereka rasa ikut Yesus itu masuk akal dan sesuai apa yang mereka bayangkan dan inginkan. Tetapi waktu Yesus tidak mau melakukan apa yang mereka minta dan memberikan pengajaran yang tidak sesuai dengan mereka, maka mereka pergi. Ini betul-betul bahaya yang sampai gereja di zaman sekarang pun kita masih hadapi. Kita pun mungkin tergoda untuk mencari Yesus waktu kita rasa ikut Yesus itu baik dan make sense. Tetapi ketika firman Tuhan menegur hati kita, dosa yang kita sukai, kita mulai mundur. Ketika Tuhan menegur, meminta, menuntut kita untuk mengampuni satu orang yang sangat menyakiti hati kita, kita mundur. Ketika Tuhan menuntut ketaatan kita sehingga harus melepaskan sebuah keuntungan yang sebetulnya kita tahu tidak benar, kita mundur. Ketika hal itu terjadi, apakah kita tetap mau mengikuti Dia? Ujian terhadap iman kita bukan hanya bagaimana kita merespons pertolongan Tuhan, tetapi bagaimana kita merespons kebenaran yang Tuhan nyatakan ketika hal itu mengoreksi kita. Ini golongan murid pertama yang ketika tidak sesuai dengan kemauan mereka, mereka pergi meninggalkan.
Tetapi ada golongan murid kedua yang lebih bahaya, yaitu murid-murid Yesus yang palsu. Itu di akhir pasal 6, tentang Yudas Iskariot. Yesus sudah tahu dari awal siapa yang sungguh-sungguh percaya dan siapa yang tidak percaya dan akan menyerahkan Dia. Tapi Yudas menjadi murid Yesus, itu juga bukan suatu kecelakaan atau kesalahan. Karena Yesus sendiri mengatakan [Yoh 6:70]. Salah satu pertanyaan tentang Yudas sepanjang sejarah gereja adalah: mengapa Tuhan memilih Yudas? Ini pertanyaan tidak mungkin menjawab seluruh rahasia rencana Allah. Tapi beberapa hal yang bisa direnungkan, pertama, pengkhianatan Yudas itu bukan sesuatu yang menggagalkan rencana Allah, tetapi itu adalah supaya Kitab Suci itu digenapi. Karena 1 tahun sebelum pengkhianatan itu terjadi, Yesus sudah tahu. Yesus tidak dikejutkan oleh pengkhianatan Yudas, Ia melewati 3 tahun bersama pengkhianat ini. Yesus makan bersamanya, bahkan membasuh kakinya, sembari tahu bahwa dia nanti akan mengkhianati. Dalam beberapa bagian Yesus mengutip nubuat Mazmur 41:10 yang mengatakan bahwa sahabat karib itu yang makan roti bersamanya akan mengangkat tumit terhadap Dia. Jadi ini bukanlah menggagalkan rencana Tuhan, tapi justru supaya Kitab Suci digenapi. Ini memang satu misteri yang kita tidak bisa mengerti sepenuhnya.
Kedua yang bisa direnungkan, kehadiran Yudas itu menyatakan betapa mengerikannya dosa itu, bisa sangat membutakan hati kita. Yudas melihat semua yang dilihat murid lain, berbagai mukjizat yang Yesus lakukan, betapa Yesus penuh cinta kasih, kesucian, dan tidak ada cacat cela dalam hidup-Nya. Tapi dosa tetap tidak menghentikan Yudas untuk menjual gurunya itu. Itulah gambaran hati manusia berdosa yang tidak diubahkan oleh anugerah Allah. Dekat dengan Yesus seperti itu pun tidak memberikan keselamatan. Renungan ketiga tentang Yudas yang paling relevan bagi kita adalah kehadiran Yudas menjadi peringatan sangat besar bagi kita. Yudas hidup begitu dekat dengan Yesus, mendengarkan berbagai pengajaran, menyaksikan berbagai pekerjaan-Nya, tetapi kedekatan yang seperti itu tidak menghasilkan iman yang menyelamatkan. Kita boleh dibesarkan dalam keluarga Kristen, mendengar khotbah yang baik, aktif pelayanan, tapi belum betul-betul percaya. Apakah kita sungguh-sungguh tetap bersandar kepada Kristus? Kepalsuan seorang murid seperti Yudas ini jauh lebih berbahaya. Seseorang bisa sangat terlibat dalam lingkungan gereja tanpa betul-betul mengenal Kristus dan punya iman yang menyelamatkan. Kalau dia tidak sungguh-sungguh menjadikan Yesus sebagai Tuhan dan Juru Selamat, itulah kebahayaan yang besar. Ketika momennya datang, sangat mudah dia menjual Tuhan Yesus.
Warning tentang Yudas ini bukan menjadi alasan untuk kita mencurigai atau menghakimi orang lain. Karena hanya Yesus yang tahu hati manusia dengan sempurna, kita tidak bisa tahu hati manusia lain. Kita bahkan tidak tahu isi hati kita sendiri sesungguhnya. Tetapi peringatan ini ditujukan bagi setiap kita masing-masing: Apakah saya mengikuti Yesus hanya karena saya sadar saya membutuhkan dan mengasihi Dia? Ataukah karena saya ingin sesuatu lewat agama Kristen? Apakah saya menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juru Selamat yang menyelamatkan saya dari dosa, ataukah saya menginginkan Dia hanya sebagai penolong yang membuat hidup saya sesuai maunya saya? Jangan sampai kita sibuk terlihat sebagai murid Yesus, tapi kita lupa yang terutama adalah sungguh-sungguh datang kepada Yesus dalam iman. Namun juga janganlah kita menjadi putus asa. [Yoh 6:63] Rohlah yang memberikan hidup. Keselamatan itu bukanlah hasil kekuatan kebaikan diri kita sendiri, tetapi pekerjaan Allah yang diberikan karena anugerah-Nya. Marilah kita terus datang kepada Kristus, memohon supaya firman-Nya membongkar hati kita, dan minta Roh Kudus bekerja dalam hati kita memberikan iman yang sejati. Kalau kita betul-betul bisa percaya, itu bukan karena kita lebih baik, tetapi karena pekerjaan Roh Kudus. Dalam Injil Yohanes, kita melihat karya Allah Tritunggal yang begitu besar. Seperti dalam Kejadian 1:1, dalam Injil Yohanes pun ada Allah yang menginisiasi, ada yang menggenapkan, dan ada Roh Kudus yang bekerja. Keselamatan itu bukan hanya Allah Bapa dan Allah Anak, tetapi ada Allah Roh Kudus yang bekerja mengaplikasikannya dalam hati kita, yang akhirnya menjadikan kita murid-murid Kristus yang sejati. Apakah murid Kristus yang sejati tidak pernah gagal, tidak pernah jatuh dalam dosa? Bukan. Jenis murid ketiga dari bagian ini adalah Petrus. Petrus yang melakukan kesalahan yang begitu hina, rendah, memalukan; 3 kali berturut-turut dia menyangkali Tuhannya. Tetapi justru inilah gambaran murid Yesus yang sejati, bukan seseorang yang tanpa kegagalan. Tetapi ketika berhadapan dengan perkataan Yesus yang keras, murid sejati tetap datang kepada Yesus ketika orang lain meninggalkan Yesus. [Yoh 6:66-67] Yesus tidak mencoba mengejar orang lebih banyak dengan membuat perkataannya lebih bisa diterima, tapi Yesus malah bertanya pada 12 murid pilihannya, apakah mereka tidak mau ikut pergi.
Membandingkan empat Injil: Matius, Markus, Lukas, dan Yohanes, dalam Injil Sinoptik (Matius, Markus, dan Lukas), ada satu pertanyaan Yesus kepada Petrus yang juga menjadi cornerstone (bagian penting): “Menurutmu siapa Aku?” Orang banyak mengatakan, “kamu Elia, kamu Yohanes Pembaptis,” tapi Petrus mengatakan, “Engkau adalah Anak Allah. You are the Christ.” Percakapan itu terjadi di Kaisarea Filipi, di hadapan mezbah dewa-dewa asing, proklamasi bahwa di antara semua dewa palsu, Yesuslah Sang Anak Allah yang sejati, Dialah Kristus. Equivalent dari percakapan itu dalam Injil Yohanes adalah bagian ini. Ketikda orang lain meninggalkan Yesus, Yesus bertanya kepada Petrus, “Tidakkah kamu mau pergi juga?” Saya percaya bagi Petrus dan para murid lain, perkataan Yesus itu juga susah diterima. Percaya Yesus berarti pikul salib, berarti tidak ada lagi yang bisa dibanggakan, berarti hanya boleh ikut Yesus satu-satunya. Bagi Petrus ini juga pasti susah, tapi sekalipun begitu, yang membedakan Petrus dari yang lain adalah dia mengatakan, “Tuhan, kepada siapa kami akan pergi selain kepada Engkau?” Inilah iman yang sejati. Iman yang sejati bukan berarti kita tidak pernah punya pertanyaan lagi. Iman sejati bukan berarti kita bisa jelaskan semua doktrin Kristen dengan sempurna. Iman sejati juga bukan berarti perjalanan hidup kita tanpa masa-masa susah lagi. Justru iman sejati itu di tengah-tengah pertanyaan dan berbagai pergumulan hidup, kita tetap datang kepada Kristus. Karena kita sadar tidak ada lagi yang lain yang bisa jadi Juru Selamat kita. Lagu choir tadi juga sangat indah. Hidup kita sebagai manusia itu mengalami berbagai macam musim di luar kendali kita. Ada musim kita penuh sukacita, tawa, tapi ada musim di mana kita sangat broken hearted dan penuh dengan air mata. Iman sejati adalah iman yang dalam musim apa pun kita mengatakan, “Tuhan, kepada siapa lagi kami bisa datang?” Karena pada akhirnya dalam segala musim itu hanya ada kasih Allah yang tetap selamanya. Ketika kita tidak paham kenapa Tuhan izinkan hal ini terjadi, atau mungkin ada ajaran Alkitab yang masih sulit dipahami, ada perintah Tuhan yang menuntut kita melepaskan sesuatu yang sangat kita pegang; dalam keadaan ini tentu kita boleh bergumul, diskusi, bertanya, bahkan boleh berdoa marah kepada Tuhan. Tetapi kita tetap datang kepada Dia karena Dialah satu-satunya Allah yang sejati. Seperti [Yoh 6:68], “Tuhan, saya belum paham semuanya, tidak mudah menerima perkataan-Mu, tapi kepada siapa lagi aku dapat pergi? Karena hanya Engkau yang memiliki perkataan hidup yang kekal.” Jadi ciri murid yang sejati: sadar bahwa tidak ada opsi lain selain tetap datang kepada Tuhan.
Ciri murid sejati kedua adalah mengakui siapa Yesus. Pengakuan Petrus di Yoh 6:68-69 itu bukan hanya ungkapan kesetiaan emosional, tapi pengakuan yang menyatakan siapa identitas Yesus. Pertama Petrus memanggil Yesus sebagai Tuhan kemudian sebagai Yang Kudus dari Allah. Petrus mulai dengan panggil Yesus sebagai Lord / Tuhan / Kyrios. Ini kata dalam Perjanjian Lama yang dipakai hanya untuk Allah, bukan sapaan yang sopan. Apalagi ‘Yang Kudus dari Allah’, ini gelar yang jarang dipakai. Dalam Perjanjian Lama, ini gelar bagi Allah sendiri. Ketika Yesus mengusir roh jahat di Kapernaum, roh jahat itu menyebut Yesus dengan gelar ini: Yang Kudus dari Allah. Yesus bukanlah sekadar orang kudus seperti Nabi Elia, yang berdoa mohon supaya anak janda itu hidup. Tapi betul-betul Dialah Sang Kudus yang bisa memanggil orang keluar dari kubur. Jadi Petrus sadar bahwa Yesus memiliki otoritas dan kedudukan yang tidak bisa disamakan dengan manusia biasa. Dia bukan hanya seorang pengajar yang memberikan nasihat baik atau teladan moral untuk dikagumi. Tapi Dia adalah Allah yang kepada-Nya kita harus datang dan serahkan hidup kita. Kita tidak bisa memanggil Yesus sebagai Tuhan lalu memperlakukan firman-Nya hanya sebagai saran yang boleh diterima atau ditolak sesuka hati. Kalau Dia Tuhan, maka apa yang Dia katakan itu perintah. Mengakui Yesus sebagai Tuhan berarti apa pun yang Dia katakan, sekalipun itu tidak sesuai kemauan kita atau mengoreksi kita, kita harus terima.
Yang kedua, sebagaimana Petrus katakan, perkataan Yesus adalah perkataan hidup yang kekal. [Yoh 6:63] Perkataan Yesus sangat powerful. Ketika orang banyak mengikut Yesus karena mukjizat roti, Petrus tetap tinggal karena perkataan dan firman Yesus. Roti akan habis dimakan dalam sehari, tetapi firman Yesus memberikan pada kita hidup yang kekal. Sekalipun perkataan itu bukan perkataan yang menarik, menghibur, atau bermanfaat untuk kehidupan sehari-hari, tetapi perkataan yang keras, yang susah diterima karena menghancurkan hati kesombongan kita, tetapi itulah perkataan yang membawa hidup yang kekal. Hanya Kristus yang sanggup menyelamatkan kita dari dosa dan membawa kita kembali kepada Allah. Jawaban atas kebutuhan paling besar hidup kita adalah salib Kristus dan kebangkitan-Nya. Tapi bagaimana kita bisa mengenal Yesus? Lewat firman-Nya. Kita tidak bisa memisahkan Yesus dari firman-Nya. Ketika kita merindukan, haus, lapar akan Yesus, sudah selayaknya kita juga mencari, lapar, dan haus akan firman-Nya. Karena firman Kristus itu bukan hanya informasi tentang agama Kristen. Lewat firman yang Yesus berikan kepada kita, Roh Kudus membuka mata hati kita, membantu kita melihat dosa dalam hati kita, membuat kita mengenal Kristus, percaya kepada-Nya, dan bertumbuh dalam kehidupan yang baru. Inilah dalam teologia Reformed dikenal sebagai Sola Scriptura, kita tidak mencari kehidupan di tempat lain tetapi di bawah firman yang diilhamkan oleh Roh Kudus.
Inilah yang Petrus, murid yang sangat tidak sempurna ini, bisa lihat. Ini penghiburan besar bagi kita. Kalau murid sejati itu haruslah sempurna, maka Petrus tidak lulus. Petrus orang yang bolak-balik ditegur Yesus, orang yang pernah menyangkal Yesus tiga kali. Yang membuat kita waktu baca tentang Petrus, kita bisa saja berpikir apa bedanya Petrus dan Yudas. Karena sungguh dua-duanya sama-sama tidak baik, gagal, sama-sama jatuh. Perbedaannya Yesus telah berdoa untuk Petrus supaya imannya jangan gugur. Sehingga setelah menyangkali Yesus, Petrus bertobat, Petrus menangis dan kembali kepada Yesus. Yesus memulihkannya dengan pertanyaan yang lembut: “Simon, apakah engkau mengasihi Aku?” Ini yang membedakan, Yudas pergi dari Yesus, sedangkan Petrus kembali kepada Yesus. Tapi itu pun karena Yesus yang berdoa bagi Petrus. Murid sejati bukanlah orang yang tidak pernah jatuh. Murid sejati adalah orang yang terus-menerus ditarik oleh firman dan Roh Kudus. Murid sejati adalah orang yang dalam dirinya ada pekerjaan Roh Kudus yang tidak pernah berhenti, yang memulai pekerjaan baik dalam diri kita dan yang akan menyelesaikannya. Karena itu bagi Saudara yang mungkin lelah, gagal, dan mudah jatuh, kabar baik bagi kita adalah bagaimana arah hidup kita itu lebih penting daripada kesempurnaan hidup kita, dan ada Tuhan yang memegang hidup kita.
Sebagai penutup, apa yang membuat seorang murid menjadi murid yang sejati? Bukan saja melihat Yesus sebagai Tuhan yang memiliki perkataan hidup yang kekal, tapi melihat Yesus sebagai satu-satunya Juru Selamat. Ini yang sudah dibahas dalam perkataan yang susah diterima. Ketika Petrus mengatakan, “Kepada siapa kami akan pergi selain kepada Engkau?”, dia sadar tidak ada alternatif lain, betul-betul hanya Kristus, Solus Christus. Yesus itu bukan hanya the best option dari segala macam option yang ada, tapi Dialah the only option yang bisa memberikan hidup yang kekal. Menarik kekristenan itu agama yang satu sisi sangat eksklusif, tetapi sisi lain juga sangat inklusif. Orang yang paling gagal, paling jahat sekalipun kalau dia datang kepada Kristus, dia akan diampuni. Tidak ada dari kita yang terlalu berdosa yang Kristus tidak sanggup membayarnya. Tapi sisi lain, tidak ada dari kita yang terlalu baik sampai kita bisa cari keselamatan di luar Kristus. Keselamatan hanya ada di dalam Kristus.
Melihat berbagai macam kelompok orang dalam bagian ini, dan ketika Yesus bertanya kepada 12 murid, “Apakah kamu tidak mau pergi juga?”, pertanyaan itu juga sekarang diberikan kepada kita. Apakah kita juga mau pergi? Kalau kita meninggalkan Yesus, mau pergi ke mana? Kembali kepada kekosongan hidup? Hidup yang kelihatan sibuk, ramai, tapi hampa dan tanpa tujuan dan arti? Apakah kita mau kembali kepada kenikmatan dosa? Dosa yang menjanjikan kepuasan, tapi selalu membawa kita ke tempat yang sama: rasa bersalah, hubungan yang rusak, jiwa yang makin hari makin rusak. Apakah itu membawa kenikmatan hidup? Apakah kita akan kembali kepada materialisme hidup ini? Bisakah keberhasilan, kekayaan, kenyamanan itu menyelamatkan kita dari kekosongan hidup? Atau apakah kita mau lari kembali kepada moralitas, prestasi rohani kita? Berapa lama kita berusaha menjadi baik demi menyenangkan Allah, tapi akhirnya kita tidak pernah yakin bahwa itu cukup? Orang yang moralnya setinggi Paulus pun mengatakan itu semua sampah. Apakah kita mau kembali kepada sampah itu?
Tidak ada jalan keselamatan lain di luar Kristus. Biarlah ini menjadi satu refleksi bagi diri kita, periksa diri kita di hadapan Tuhan. Ketika mengikut Tuhan tidak lagi mudah, apakah kita mau pergi meninggalkan Dia? Dan Dia yang bertanya seperti itu, mengatakan, “Roti yang Kuberikan ialah daging-Ku, yang Kuberikan bagi hidup dunia.” Setelah semua yang Dia lakukan ini, apakah kita mau pergi meninggalkan Dia? Biarlah kita semua yang mendapatkan pertanyaan ini, kita menjawab seperti Petrus. Bukan karena kita penuh dengan keyakinan, paham segala sesuatu, bukan karena kita kuat atau lebih baik dari orang lain, tetapi karena Tuhan yang memegang kita. Kita mengatakan, “Tuhan, kepada siapa kami akan pergi? Perkataan-Mu ialah perkataan hidup yang kekal, dan kami telah percaya dan tahu bahwa Engkaulah Yang Kudus dari Allah.”