Download versi cetak: 1269_1442__KebaktianPagiSore_2026-21-Jun_HW
Transformasi Hidup Setelah Diselamatkan
Lukas 19:1-10
Pdt. Hendra Wijaya, M.Th.
*Ringkasan khotbah ini belum diperiksa pengkhotbah
Yerikho kota tua yang temboknya runtuh ketika sangkakala ditiup oleh bangsa Israel mendapatkan kunjunagn dari 2 orang pengintai Israel. Hanya Rahab yang memahami makna kunjungan pengintai itu, yaitu penghakiman dari Allah segera tiba. Dalam Injil Lukas dicatat Yesus sedang dalam perjalanan panjang menuju Yerusalem, tempat persinggahan terakhir yang telah ditetapkan bagi Yesus menuju ke sengsara dan salib, demi menggenapkan rencana keselamatan yang telah ditetapkan oleh Bapa. Dan Yerikho adalah persinggahan terakhir sebelum Yerusalem. Ada dua alasan mengapa Yesus perlu sengaja memilih rute ini.
Yang pertama, karena di situ ada seorang yang buta sejak lahir, yang memohon belas kasihan kepadaNya. Yesus mencelikkan matanya sehingga ia bisa melihat kembali. Yang kedua, ada seorang yang kaya yang buta secara rohani. Yesus memulihkan dan menyelamatkan jiwanya. Karena dua alasan penting ini Yesus mengambil waktu untuk memutar lewat Yerikho menuju Yerusalem. Ini menjadi tipikal perjalanan Yesus yang selalu mengambil jalan yang sedikit memutar untuk hal-hal yang signifikan dalam konteks sejarah keselamatan. Di tengah kerumunan orang banyak yang mengikuti Yesus berbondong-bondong, ada seorang lelaki bertubuh kecil. Seseorang yang tidak pernah dihargai oleh siapapun di kota itu. Nama orang itu Zakheus (Ibrani: Zakai yang berarti murni atau berwatak polos). Ditranslasi ke dalam bahasa Yunani sebagai Zakheus. Sekalipun menyandang nama yang sangat bermakna, namun hidup Zakheus telah lama kehilangan kemurniannya. Zakheus dianggap seorang pengkhianat yang bekerja sama dengan penjajah Romawi. Seorang yang menjadi simbol bagi ketidakadilah secara ekonomi akibat dari profesinya sebagai pemungut cukai, profesi yang paling dibenci oleh semua orang. Pemerintah Romawi mencari orang yang bisa dipercaya, lalu diberi otoritas untuk memungut pajak. Mereka akan menetapkan sejumlah angka tertentu yang harus dibayarkan kepada Romawi. Namun Romawi juga memberikan keleluasaan kepada pemungut cukai untuk memungut seberapa banyak yang dianggap bisa dipungut dari orang dan sisanya adalah menjadi milik si pemungut cukai. Itulah caranya pemungut cukai memperkaya diri.
Zakheus menyimpan satu motif sederhana, dia hanya ingin melihat Yesus dan memastikan semua rumor yang ia dengar tentang Yesus itu benar adanya. Tetapi kerumunan orang banyak tidak memberi dia kesempatan. Zakheus bukan tipe orang yang mudah putus asa dan menyerah, dia berpikir cepat dan bertindak dengan tangkas. Dia mengambil keputusan yang tidak biasa, yaitu berlari dan memanjat pohon ara. Ini bukan urusan sederhana, karena dalam tradisi timur kuno, laki-laki kaya itu tidak akan berlari. Berlari akan merusak image keanggunan sebagai orang yang sukses dan mapan. Orang sukses adalah orang yang bisa kontrol segala sesuatu dan dia bisa menguasai situasi. Dia tidak akan tergopoh-gopoh, melainkan menyelesaikan apapun dengan tenang dan pasti. Berlari saja orang enggan untuk lakukan, apalagi memanjat pohon. Tetapi Zakheus berlari dan memanjat pohon. Ia merelakan martabat dan harga dirinya jatuh. Pohon ara yang dipanjat oleh Zakheus itu rendah. Pohon yang umumnya hanya dipanjat oleh anak-anak, bukan pohon untuk dipanjat oleh orang dewasa. Di atas cabang pohon yang rapuh itu Zakheus menggantungkan seluruh harapannya, harapannya Yesus akan lewat dan dia dapat melihat Yesus dengan jelas. Zakheus tidak pernah menyangka bahwa Yesus bukan hanya lewat, bahkan Yesus akan memanggil dan menjumpainya. Pertemuan Zakheus dengan Yesus yang hanya sekali ini, membawanya mengalami pertobatan dan transformasi hatinya.
Sampai di sini kita memperoleh kesan bahwa tindakan ini seolah memberikan kita indikasi bahwa Zakheus adalah pihak yang berinisiatif mencari Yesus. Dalam pemahaman kita, beragama itu adalah keputusan dan inisiatif yang datangnya dari manusia. Manusialah yang berinisiatif mencari dan menemukan Allah. Di dalam konteks agama, kita sering kali beranggapan bahwa kitalah yang memutuskan. Kitalah inisiator dan Allah itu obyek yang kita control dan kuasai. Kalau saya mau percaya, maka Dia mendapatkan saya menjadi orang yang percaya padaNya. Tetapi jikalau saya tidak mau percaya, maka Allah rugi tidak mendapatkan saya percaya kepada Dia. Itulah cara kita berpikir manusia percaya kepada Allah, keputusannya ada di tangan kita, bukan di tangan Allah. Dan banyak orang mempunyai cara pandang seperti ini. Waktu kita beritakan injil dan mengundang orang percaya kepada Tuhan Yesus, orang mengatakan, “Nantilah, tunggu semua urusan saya selesai, baru saya percaya Tuhan.” Artinya, percaya Tuhan itu adalah prioritas terakhir, bukan prioritas pertama. Saya yang ambil Keputusan, Allah itu tidak bisa apa-apa kecuali saya respon. Maka saya yang penting, saya inisiatornya. Allah tunduk kepada inisiasi saya. Itulah cara manusia beragama kepada Tuhan. Dalam konteks ini, Lukas sengaja membalikkan kebenaran itu. Bukan Zakheus yang mencari Yesus, tetapi Yesus yang mencari Zakheus. Demikianlah kesaksian kitab suci, insiatif selalu datang dari Allah yang mencari manusia. Tanpa inisiatif dan anugerah Allah yang menyatakan diri kepada manusia, manusia mustahil dapat menemukan Allah. Dari mana datangnya agama? Mengapa agama ada di dalam hidup manusia? Mengapa di kebudayaan manusia ada agama? Siapa yang menciptakan agama? Mengapa agama bisa menjadi sesuatu yang penting dalam kebudayaan manusia? Sadar atau tidak sadar, manusia sedalam-dalam dirinya ada satu perasaan terhadap yang ilahi yang tidak bisa manusia hindarkan. Yang manusia tidak bisa untuk tidak memberi respon kepada yang Ilahi. Itulah yang Calvin katakan sebagai benih agama.
Di dalam diri manusia ada satu perasaan, suka tidak suka, sadar tidak sadar, percaya ada sesuatu yang Ilahi di luar sana. Bahkan bukan hanya percaya adanya Allah, manusia juga percaya adanya setan. Ketika manusia coba meresponi terhadap apa yang disebut Ilahi di dalam dirinya, manusia coba meresponi dengan cara meraba, kemudian manusia mulai memproyeksi bahwa yang ilahi itu adalah sesuatu yang begitu besar di luar diri kita. Ketika gempa bumi terjadi, manusia percaya bumi ini ada dewanya. Ketika manusia lihat gunung menakutkan dan batu yang besar, maka manusia percaya di balik gunung dan batu itu ada dewanya. Manusia berusaha menyembah kepada ciptaan melalui sebuah proyeksi karena ada kesadaran Ilahi di dalam dirinya. Dari mana kesadaran yang ilahi itu di dalam diri manusia? Hanya satu jawaban, karena manusia diciptakan menurut peta teladan Allah, sehingga manusia tidak bisa lepas untuk berhubungan dengan Allah. Tetapi ketika manusia jatuh dalam dosa, relasi ini putus dan manusia meraba-raba untuk kembali kepada Allah. Manusia mengganti Allah yang sejati dengan dunia ciptaan untuk mengisi kekosongan dalam hatinya. Semakin manusia mengganti, semakin manusia kecewa. Semakin manusia menganggap ini Allah, semakin manusia merasa tidak menemukan Allah. Jadi bagaimana manusia menemukan Allah?
Alkitab juga mengatakan bahwa sejak awal, Allah sudah menyatakan diriNya kepada manusia melalui apa yang disebut sebagai wahyu. Allah memberikan wahyu begitu lengkap dan sempurna. Apakah wahyu Allah itu?
Wahyu Allah itu bukan kita malam-malam merenung-renung, terus dapat sesuatu. Wahyu itu adalah pernyataan diri Allah kepada manusia. Allah menyatakan diri kepada manusia melalui dua cara yang penting. Satu, yang berada di luar diri manusia. Yang kedua melalui yang ada dalam diri manusia. Ini yang disebut sebagai wahyu secara natural atau secara umum. Allah, secara natural, secara alamiah, menyatakan diri kepada manusia bahwa Dia adalah Allah. Pertama, melalui alam. Ketika kalau saudara jujur memperhatikan seluruh tatanan alam semesta dan memperhatikan seluruh dalil yang ada di alam semesta, scientist yang jujur, dia tidak bisa menghindarkan diri untuk menyimpulkan bahwa alam semesta ini tidak terjadi karena kebetulan. Tetapi alam semesta ini terjadi karena ada penyebab utama.
Itulah sebabnya Stephen Hawking menjelang akhir hidupnya dia mengatakan ada grand design dari alam semesta. Dia tidak menyebut ada Allah. Dia konsisten dengan pendiriannya yang ateis dan tidak percaya kepada Allah. Tetapi dia tidak bisa menghindarkan realitas bahwa alam semesta ini ada satu struktur yang diciptakan oleh grand design itu. Yang kedua, Allah telah menyatakan Diri melalui hati nurani. Hati nurani dengan peka menegur kita saat melakukan kesalahan. Meski tidak ada orang tahu, tapi teguran ketika kita bersalah itu tetap datang.
Manusia meskipun tahu ada Allah, tetapi bagaimana manusia menemukan Allah yang benar? Ketika manusia berusaha mencari Allah, manusia berusaha menemukan Allah melalui etika, melalui moralitas, melalui agama. Tetapi antara satu ajaran moral dengan ajaran moral yang lain, antara agama yang satu dengan agama yang lain menunjukkan figur yang berbeda-beda. Jadi Allah yang benar itu Allah yang mana? Allah menyatakan diri kepada manusia dengan jelas. Tidak hanya dengan alam, tapi dengan sesuatu yang lebih personal kepada manusia. Injil Yohanes mengatakan firman itu telah menjadi manusia dan tinggal di antara kita. Allah inkarnasi menjadi manusia. Firman menjadi manusia hanya dengan satu motivasi, supaya dikenal oleh manusia. Itu sebabnya Yesus tidak datang di dalam segala kepenuhan AllahNya. Dia datang dengan membatasi diri menjadi sama dengan saudara dan saya. Supaya saudara dan saya mengenal Dia. Itulah sebabnya Yesus berkata, “Akulah jalan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorang pun sampai kepada Bapa kecuali melalui Aku.” Ini bukan kalimat sombong, tetapi karena Dia sungguh berasal dari Bapa, maka kalimatNya adalah kebenaran, bukan kesombongan. Manusia menolak karena manusia hanya melihat satu sisi dari diri Yesus. Yaitu bagaimana seorang Yahudi yang berumur 30, dan sekarang mengaku Dia adalah Allah yang menjadi manusia. Manusia lupa tidak ada yang mustahil bagi Allah. Dan itu sebabnya ketika Allah datang menyatakan diri, maka tidak mungkin lagi manusia salah mengenal Allah. Setelah Yesus selesai pelayanan di dunia, Allah meninggalkan kepada manusia, kesaksian tentang peryataan diri Allah melalui sesuatu yang lebih permanen, yaitu wahyu yang tertulis. Melalui itu manusia sepanjang sejarah dan sepanjang zaman menemukan jalan untuk bertemu dengan Allah yang benar. Alkitab adalah wahyu Allah kepada manusia. Kembali kepada Zakheus, inisiatif selalu datang dari Allah yang mencari manusia. Tanpa inisiatif dan anugerah Allah yang menyatakan diri kepada manusia, mustahil manusia dapat menemukan Allah.
Tepat di bawah pohon ara, Yesus menghentikan langkahNya dan Dia menengadah ke atas. Yesus berkata, “Zakheus, turunlah! Sebab hari ini aku harus menumpang di rumahmu.” Kata harus itu di dalam text Yunani memakai kata ‘dei’, sebuah kata dengan konotasi memilih, menetapkan dan mengasihi yang tidak bisa ditunda. Zakheus tidak berseru memanggil nama Yesus lebih dahulu, Yesus yang lebih dahulu memanggil namanya sebelum ia sempat berkata apa-apa. Bukan inisiatif Zakheus untuk menemukan anugerah dengan mencari dan menemukan Yesus. Tetapi Yesus yang menunda perjalananNya dengan jeda, menemukan Zakheus dan memberikannya anugerah. Inilah keindahan Injil, nama kita telah dipanggil dulu oleh Yesus. Kristus mengasihi kita terlebih dulu, sebelum kita sanggup untuk berubah. Anugerah Allah mendahului respon manusia di dalam pertobatan. Anugerah di dalam Kristus yang tidak hanya ada penerimaan, tetapi juga adalah anugerah yang mengubahkan. Anugerah Allah itu, mengubah cara kita melihat struktur hidup kita. Anugerah yang memulihkan kita di dalam relasi sosial.
Ayat ke-7 yang adalah ayat kunci mencatat Zakheus segera turun dan menerima Yesus dengan sukacita. Tetapi semua orang yang melihat hal itu bersungut-sungut. Katanya Ia menumpang di rumah orang berdosa. Lukas tidak mencatatkan bagi kita beberapa orang atau orang Farisi, atau para pemuka agama Yahudi. Tetapi Lukas memakai satu bentuk hiperbolik dengan mengatakan semua orang. Lukas dengan memakai sebuah teknik bercerita yang disengaja untuk mengkontraskan reaksi orang banyak yang melihat peristiwa itu dengan keputusan Yesus yang memberi belas kasihanNya kepada Zakheus. Zakheus bukan hanya ditolak dan dibenci oleh para pemuka agama, tapi dia juga dibenci oleh masyarakat luas. Lukas dalam bagian ini secara detail ingin memperlihatkan kepada kita betapa kebencian kolektif semacam ini sangat berbahaya. Kebencian kolektif semacam ini bukan hanya menumpulkan bahkan melukai hati nurani dan moralitas. Lebih jauh lagi, kebencian kolektif semacam ini dapat menghancurkan esensi dari agama itu sendiri, yaitu belas kasihan Allah kepada manusia. Seperti di Perjanjian Lama ketika orang Israel bersungut-sungut pada Allah ketika mereka di padang belantara. Ini bukan sekedar pengeluhan biasa. Mereka mengeluh karena tidak memahami cara Allah bekerja. Tetapi ini adalah sikap penolakan terhadap cara Allah bekerja. Karena tidak sesuai dengan ekspektasi mereka tentang bagaimana seharusnya Allah bekerja. Orang-orang yang bersungut-sungut ini, bukan hanya menolak Zakheus, tetapi mereka juga sebetulnya menolak Yesus, yang telah memilih dan mengambil keputusan untuk menumpang di rumah Zakheus. Inti keberatan mereka adalah bukan karena Yesus berbicara kepada Zakheus, tetapi karena Yesus masuk ke rumah Zakheus. Karena berdasarkan Taurat dan tradisi Yudaisme, ini memasuki wilayah yang najis. Di sini kita melihat betapa seringkali tradisi agama telah diterima dan dipercayai melampaui esensi dan hakikat kebenaran dari agama itu sendiri. Yang tidak mutlak telah mengambil alih posisi yang mutlak. Menurut tradisi orang Yahudi, memang masuk ke rumah dan makan bersama dengan seseorang, adalah tindakan yang mengekspresikan penerimaan, pengakuan, merangkul bahkan mengikat diri dalam relasi. Oleh karena itu, bagi mereka yang melihat Yesus masuk ke rumah Zakheus, ini adalah sebuah skandal moral besar. Sebuah skandal yang sangat bersinggungan dengan status Yesus. Apakah betul Yesus itu suci? Apakah betul Yesus seorang nabi? Jikalau dia suci dan jikalau dia seorang nabi, dia seharusnya kenal betul siapa Zakheus itu, dan dia tahu tidak pantas bagi dia untuk masuk dan tinggal di rumah orang seperti Zakheus itu. Tidak pantas seorang nabi duduk satu meja dengan orang berdosa. Menurut logika orang banyak itu, jikalau Yesus orang suci, Dia pasti tidak memilih dan masuk ke rumah dan duduk makan bersama dengan Zakheus. Tetapi bagi Yesus, tindakanNya memasuki rumah Zakheus, justru adalah penggenapan misi. Dia datang untuk mencari dan menyelamatkan yang hilang. Daniel Bell seorang teolog Lutheran, dia mengatakan orang banyak itu telah terjebak dengan cara pandang ekonomi yang bersifat moral meritokrasi. Tetapi Yesus telah melaksanakan ekonomi anugerah. Sebuah keputusan dan tindakan yang tidak tunduk dan tidak didasarkan pada logika kelayakan yang ada pada orang yang menerima anugerah. Tetapi logika berdasarkan kerelaan sang pemberi anugerah.
Di tengah-tengah tatapan mata yang menghakimi dan merendahkan, Zakheus berdiri dan berbicara. Saat itu juga terjadi perbenturan worldview yang sangat keras. Suara orang banyak yang mewakili pembenaran diri yang berdasarkan dalil normatif agama, menolak cara Allah bekerja, bersinggungan dengan suara dari jiwa yang telah disentuh oleh anugerah Allah. Zakheus berdiri karena anugerah Allah yang telah menguatkan dan menopangnya untuk berdiri tegak. “Tuhan, setengah dari milikku akan kuberikan kepada orang miskin. Dan sekiranya ada sesuatu yang kuperas dari seseorang, akan kukembalikan 4x lipat.” Ini bukan soal etika dan moral yang rela memberikan derma dan bermurah hati, tetapi ini adalah komitmen Zakheus. Tidak mudah untuk orang yang selama hidupnya dikuasai oleh uang, kemudian mengambil keputusan untuk menolak uang. Daniel Bell di dalam bukunya The economy of Desire, mengingatkan kita bahwa mamon itu bukan hanya sekedar soal uang dan harta. Mamon adalah sebuah bentuk disiplin yang memerintah dan menguasai keinginan manusia melalui praktek kompetisi, konsumsi, mengumpulkan dan menguasai. Mamon adalah suatu bentuk kuasa pembentukan spiritualitas yang membentuk liturgi tandingan yang melawan Allah di dalam hidup manusia. Mamon membentuk cara kita mengingini sesuatu. Ia membentuk cara kita menghitung ekonomi dan ia membentuk cara kita memandang sesama kita.
Di dalam tradisi Yudaisme, orang yang memberikan sedekah 10% disebut bermurah hati. Orang yang memberikan 20% disebut sangat bermurah hati. Tetapi kalau ada orang yang bisa memberi 50%, itu disebut tidak mungkin terbayangkan, hampir tidak mungkin bisa dilakukan. Zakheus rela memberikan 50% dari miliknya, dia tidak sedang mempertontonkan amal dan kesalehannya. Dia sedang menunjukkan komitmennya untuk memutuskan kesetiaannya kepada mamon. Zakheus dengan sadar sedang memecahkan dan menghancurkan altarnya mamon. Lalu dia membangun kembali altar yang baru, altar yang sekarang penuh dengan keinginan ekonomi yang suka memberi. Altar baru yang tidak lagi menindas dan menguasai sesama. Tetapi altar yang penuh dengan belas kasihan dan solidaritas dengan sesamanya manusia. Yang lebih mengcengangkan lagi Zakheus berkata, “Sekiranya ada sesuatu yang kuperas dari seseorang, akan kukembalikan empat kali lipat.” Sebuah keberanian menentukan sikap ketaatan yang seolah melampaui tuntutan taurat. Imamat 5: 14 sampai 6:15 mencatat jika seseorang melakukan kesalahan terhadap sesamanya seperti penipuan, pencurian, menahan upah atau bersumpah palsu, dan ketika orang itu menyadari kesalahannya, maka menurut Taurat, dia wajib untuk mengembalikan sepenuhnya kepada sesamanya itu dengan menambahkan seperlima sebagai kompensasi kesalahannya. Keluaran 22:4 yang merupakan bagian dari hukum tentang kepemilikan menurut hukum Taurat, disini telah diatur secara rinci tentang seseorang yang melakukan pencurian dan tindakan pencurian itu terbongkar. Jika yang dicuri itu masih dalam keadaan hidup. Baik lembu, keledai ataupun domba, maka ia harus membayar ganti kerugian dua kali lipat atas kesalahan yang telah dilakukannya itu. Sedangkan tuntutan untuk membayar ganti rugi 4x adalah kewajiban yang dikenakan berdasarkan Keluaran 22:1, sebuah kesalahan paling berat yang dilakukan dengan sengaja. Zakheus memilih kategori tuntutan rugi yang paling keras ini bukan demi untuk menjalankan tuntutan Taurat dengan sempurna, tetapi Zakheus sadar betul apa artinya diterima oleh Yesus.
Bagaimana kita bisa melepaskan diri dari cengkeraman mamon? Kecuali saudara melihat bahwa keselamatan di dalam Kristus lebih mahal, lebih bernilai dari semua harta yang mungkin saudara bisa kumpulkan seumur hidup, baru saudara ada kekuatan melepaskan ikatan uang. Jikalau hidup dan hati kita masih belum bisa dilepaskan dari cengkeraman mamon, betapa sia-sianya anugerah keselamatan yang diberikan Kristus kepada kita. Berani mengakui kesalahan di hadapan publik adalah satu bentuk ekspresi pertobatan yang sejati. Daniel Bell sekalilagi menyebut keberanian Zakheus membayar ganti rugi 4x lipat, adalah sebuah ekspresi dari sikap dan tindakan yang menolak terhadap logika kapitalisme eksploitatif. Sebagai gantinya Zakheus memilih logika salib. Tindakan Yesus masuk ke rumah Zakheus adalah tindakan yang telah memulihkan Zakheus. Teolog Andy Wright membingkai peristiwa ini, melihatnya sebagai penggenapan Yehezkiel 34, yaitu Allah Israel sebagai Gembala Agung yang telah datang dan mencari domba-dombanya yang tercerai-berai dan hilang. Kisah Zakheus adalah kisah kita. Zakheus melalui pertemuan dan penerimaan dari Yesus telah membuat dia mengalami transformasi dan berubah secara radikal dalam segala aspek hidupnya. Setelah engkau dan saya mengenal dan beriman kepada Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat pribadi kita, transformasi dan perubahan radikal yang mana yang telah terjadi di dalam hidup kita? Kiranya perubahan itu boleh menjadi tanda kesaksian yang hidup dan memberikan pengharapan kepada dunia ini. Hidup Kristen kita boleh menjadi cahaya yang mempermuliakan nama Tuhan.