Download versi cetak: 1245_1418_KebaktianPagiSore_2026-4-Jan
Hidup Berhikmat: Keuntungan, Limitasi, Tetap Takut Akan Allah
Pengkhotbah 8:1-17
Pdt. Ivan Adi Raharjo, M.Th.
*Ringkasan khotbah ini belum diperiksa pengkhotbah
Ketika kita memasuki tahun baru, kita merasa seperti mendapatkan suatu fresh start. Kita akan memikirkan dan merencanakan hal-hal yang ingin kita kerjakan dan capai di tahun ini. Tentu itu adalah hal yang baik dan perlu untuk dilakukan. Tetapi mungkin kita sering melakukannya dengan sebuah ilusi, seolah-olah kalau saja kita merencanakan dengan serapi dan seketat mungkin, maka tahun ini pasti akan menjadi tahun yang sangat baik. Kalau saya betul-betul berkomitmen dan hidup dengan benar, dengan sungguh-sungguh di tahun ini, hidup suci, maka Tuhan pasti akan memberikan berkat-Nya kepada kita. Tetapi Pengkhotbah tidak memberikan janji-janji demikian.
Pengkhotbah mengajak kita untuk melihat kepada realitas hidup di bawah matahari. Sang Pengkhotbah tidak menawarkan ilusi, tetapi hikmat yang realistis. Hikmat di sini digambarkan sebagai sesuatu yang lebih modest, lebih hina, lebih humble daripada seperti biasanya. Kalau ditanya apa itu hikmat, mungkin kita akan berpikir seorang yang agung, yang sepertinya mengerti segala sesuatu di depan, apa yang harus dia kerjakan, atau mungkin seorang yang genius. Tetapi di pasal 8 ini, hikmat dihadirkan secara lebih sederhana. Hikmat digambarkan sebagai suatu sikap yang tunduk kepada otoritas. Dengan hati-hati, dengan berbagai macam pertimbangan, mengambil sikap yang merendahkan diri di hadapan otoritas, yang mungkin juga otoritas yang jahat. Maka Pengkhotbah bukan bertanya bagaimana kita bisa mengendalikan tahun 2026 ini sesuai dengan kemauan kita, tetapi mengajar kita berpikir bagaimana kita bisa hidup berbijaksana ketika di tahun ini kita ada di bawah kuasa yang tidak bisa kita kendalikan.
Ada beberapa tema kecil yang menyambung menjadi satu alur pikiran. Ayat 1-4 bicara tentang hikmat dan sikap tunduk di bawah otoritas. Ayat pertama terdengar seperti sebuah pujian terhadap hikmat. Siapa yang begitu hebat, begitu luar biasa dibandingkan dengan orang berhikmat? Siapa yang bisa interpret segala hal yang terjadi? Tidak ada yang lebih hebat dan lebih agung dibandingkan orang yang berhikmat, yang bisa memiliki pengertian, interpretasi akan segala hal yang terjadi. Dan orang yang punya hikmat, wajahnya menjadi bercahaya. Wajah itu adalah semacam indeks dari perasaan kita. Jadi ini menggambarkan orang yang bijaksana itu adalah orang yang hidupnya punya damai, punya kestabilan yang susah untuk diguncangkan.
Tetapi seperti apa orang yang berhikmat itu? Ayat ke-2 mengatakan, “Orang yang berhikmat adalah orang yang mematuhi perintah raja.” Orang yang mengerti interpretasi hal-hal tertentu mengingatkan kita akan orang-orang seperti Yusuf yang bisa menafsirkan mimpi Firaun yang berkuasa di Mesir, dan Daniel yang juga bisa menafsirkan mimpi Nebukadnezar. Jadi ini orang-orang yang berhikmat tetapi yang hidupnya harus melayani raja yang tyrannical. Di ayat 3-4, kita melihat raja yang berbuat apa yang dikehendakinya, yang tidak bisa dipertanyakan. Karena orang yang memegang kuasa adalah orang yang cenderung akan mengejar keuntungan bagi diri sendiri sekalipun itu akan menindas orang lain, seperti dikatakan power corrupts and absolute power corrupts absolutely (kuasa akan merusak hati seseorang dan kuasa yang mutlak itu mutlak pasti akan merusak). Tetapi bagi orang berhikmat, jikalau dia harus ada di bawah orang yang berkuasa seperti ini, maka dia dipanggil untuk patuh. Kenapa kita harus tunduk kepada otoritas yang jahat seperti ini?
Dikatakan “demi sumpahmu kepada Allah”. Ketaatan kita kepada otoritas yang kejam pada dasarnya adalah wujud ketaatan kita kepada Allah. Orang yang berhikmat adalah orang yang punya bijaksana ketika dia berhadapan dengan kuasa yang menindas seperti ini. Dia tidak akan terburu-buru dengan suara keras melawan si raja itu, tetapi dia akan memiliki pertimbangan-pertimbangan dan mengambil langkah yang sesuai. Dan inilah kenapa hikmat itu sangat penting. Kita perlu punya hikmat untuk bisa survive di tengah-tengah dunia yang bahaya dan tidak adil ini.
Ayat 5-6 menggambarkan keuntungan dari hikmat (benefit of wisdom). Orang yang berhikmat akan tidak mudah mengalami perkara yang mencelakakan, dan hati orang yang berhikmat mengetahui waktu pengadilan, karena untuk segala sesuatu ada waktu pengadilan. Ini mengingatkan kita pada pasal ketiga. Ada waktunya untuk berbicara, ada waktunya untuk tahan. Orang yang bijaksana mempunyai kepekaan akan proper time untuk melakukan ini dan itu. Dan inilah yang nanti akan menyelamatkan dia di tengah-tengah dunia yang jahat.
Tuhan Yesus sendiri berbijaksana di dalam pelayanan-Nya di dunia ini. Ketika banyak orang mau menangkap Dia sebelum waktunya, Dia dengan diam-diam menyingkir dan kabur. Dia tidak mengonfrontasi orang banyak itu. Ketika Dia ditanya oleh orang Farisi, “Haruskah kita membayar pajak kepada kaisar?” Dia memberikan jawaban dengan bijaksana, “Lihat koin itu ada gambar siapa dan berikanlah kepada siapa yang seharusnya menerima itu.” Kita perlu hikmat supaya kita tidak mati konyol. Karena Tuhan Yesus memberikan panggilan kepada para murid-Nya, “Aku mengutus kamu seperti domba ke tengah serigala.” Suatu panggilan yang terkesan konyol, tidak mungkin ada kesempatan bagi domba ini untuk survive. Tetapi Yesus mengatakan, “Oleh karena itu, hendaklah kamu cerdik seperti ular dan tulus seperti merpati.” Ada peluang untuk domba di tengah-tengah serigala ini survive, yaitu ketika dia cerdik seperti ular sekalipun tetap menjaga ketulusannya seperti merpati.
Maka di dalam tahun baru ini, Pengkhotbah mengajar kita bukan bagaimana kita bisa mengendalikan tahun di depan ini, tetapi bagaimana kita bisa hidup dengan bijaksana ketika kita harus menjalaninya di bawah kuasa yang tidak bisa kita kendalikan. Hidup kita tidak pernah lepas dari otoritas di atas kita. Perjanjian Baru memberikan banyak contoh bagaimana umat Tuhan hidup di bawah otoritas yang kadang juga tidak sempurna. Roma 13 mengingatkan pada kita bahwa tiap orang harus takluk kepada pemerintah di atasnya karena tidak ada pemerintah yang tidak berasal dari Allah, termasuk pemerintah-pemerintah yang jahat, egois, dan korup. Tentu kita bisa tidak setuju akan banyak kebijakan mereka, tetapi kita diajar untuk tetap tunduk dan menghormati, bukan karena kita mau kompromi dengan dosa atau cari aman, tetapi karena Allah. Pola ini juga yang kita lihat di dalam Pengkhotbah 8, yaitu tunduk kepada raja yang jahat karena janji kepada Allah.
Tetapi otoritas di atas kita juga bukan hanya bicara tentang pemerintah. Efesus 5 bicara relasi antara suami dan istri. Efesus 5:22 mengatakan, “Hai istri, tunduklah kepada suamimu seperti kepada Tuhan.” Tentu pria dan wanita adalah setara, sama-sama gambar dan rupa Tuhan, tetapi Allah mendesain suatu ordo di mana pria menjadi kepala dan wanita menjadi penolong. Bukan karena pria lebih baik dan wanita kurang baik, tetapi memang ini adalah desain yang sudah Tuhan berikan supaya keluarga bisa berfungsi dengan baik. Sebagai kepala, suami tidak menggunakan otoritasnya untuk berbuat semaunya sendiri, tetapi bertanggung jawab ketika ada masalah datang. Demikian juga, istri sebagai penolong itu bukan karena dia lebih lemah daripada pria, bahkan in a sense dialah yang lebih kuat daripada pria sehingga pria perlu ditolong.
Efesus 6 bicara tentang jenis otoritas yang lain bahwa seorang anak harus menaati orang tuanya di dalam Tuhan. Bukan karena orang tua kita lebih pintar atau lebih benar di dalam memutuskan segala sesuatu, tetapi karena memang seharusnya demikian. Kita harus menaati orang tua di dalam Tuhan. Memang kadang tunduk kepada otoritas, bahkan kepada orang tua sendiri, itu tidaklah mudah. Ada orang tua yang mungkin jahat, atau yang sering mempermalukan anaknya di depan teman-temannya. Ketika anaknya berhasil juga bukan dipuji, tetapi malah diberi nada sinis, “Ah, cuma begitu saja.” Kita tidak bisa memilih otoritas yang Tuhan berikan kepada kita. Tetapi firman Tuhan mengingatkan pada kita seperti apa pun orang tua kita, sekalipun kita tidak harus mengikuti kemauannya apalagi kalau kemauannya itu salah, kita tetap harus belajar menghormati. Dan itu adalah tindakan yang perlu penyangkalan diri yang besar, mungkin seperti melakukan hal yang konyol, tetapi kadang itulah harga yang harus dibayar untuk menjadi orang yang punya hikmat. Rasul Paulus juga melanjutkan di Efesus bagaimana seorang hamba harus menaati tuannya di dalam dunia dengan gentar dan tulus hati, sama seperti taat kepada Kristus. Mungkin di Singapore majikan kita mempekerjakan kita seperti kuda. Tetapi ketika kita dipercayakan tanggung jawab ini di bawah majikan ini, kita perlu belajar taat seperti kepada Kristus.
Ibrani 13:17 bicara tentang pemimpin-pemimpin di gereja. Semua hamba Tuhan dipercayakan otoritas atas gereja, tetapi semua hamba Tuhan tidak ada yang sempurna. Semuanya memiliki kelemahan yang suatu saat bisa menyakiti Saudara dengan tidak adil. Banyak pemimpin gereja yang memang seharusnya dikritik, yang seharusnya diubah, tetapi orang yang berhikmat adalah orang yang tahu waktunya, tahu apa yang harus dikerjakan dengan bijaksana.
Pengkhotbah mengajarkan kepada kita bahwa hikmat itu bukanlah pemberontakan yang reckless, tetapi discernment yang hati-hati sebelum gegabah mengambil tindakan. Itu adalah sesuatu yang perlu dilakukan jikalau kita ingin survive atau tidak mengalami perkara-perkara yang mencelakakan di dalam dunia yang sering kali memang tidak adil dan bahaya ini. Sekali lagi, bukan sekadar kita mau cari aman, bukan sekadar kita kompromi terhadap dosa. Tetapi hal ini kita lakukan sebagai wujud rasa takut (submit) kita kepada Allah yang memang menempatkan otoritas-otoritas itu dalam hidup kita.
Sekalipun hikmat memberikan benefit seperti ini, ayat 7-9 berbicara tentang keterbatasan (limitation) dari hikmat. Sekalipun hikmat itu berguna, hikmat manusia itu terbatas. Ada hal-hal di dalam dunia yang kita tidak mengerti. Manusia tidak bisa menyelami kekekalan, tidak dapat mengetahui rencana Tuhan di dalam kekekalan yang menjadi gambaran utuh yang Tuhan ingin hadirkan. Maka orang berhikmat tidak mengetahui apa yang akan terjadi di masa depan. Kita tidak bisa mengendalikan masa depan. Jangankan mengendalikan, tahu saja tidak. Dan jangankan bicara soal masa depan, bicara soal masa sekarang ini pun kita tidak bisa mengendalikannya. We are not in control of the present moment. Di ayat 8 dikatakan, tidak ada seorang pun yang berkuasa menahan angin. Film Twister menceritakan sekelompok scientist yang berusaha menyelidiki tentang tornado. Akhirnya mereka berhasil meluncurkan semacam device yang memungkinkan mereka untuk memprediksi kapan akan terjadi tornado. Jadi manusia sudah sampai dalam tahap di mana sepertinya mereka bisa memprediksikan kapan badai itu akan terjadi. Tetapi apakah sudah bisa menghentikan badai yang akan terjadi atau bahkan yang sedang terjadi? Ada yang mengusulkan mungkin kita kasih bom atau partikel atom, tetapi sampai sekarang sepertinya tidak ada manusia yang bisa mengendalikan dan menghentikan angin.
Dan selain tidak bisa menghentikan angin, tidak ada seorang pun berkuasa atas hari kematian. Tuhanlah yang menuliskan setiap hari kita, kapan kita lahir dan kapan kita mati. Tidak ada seorang pun yang bisa menambah sehasta saja pada umurnya. Tidak ada orang yang bisa ambil istirahat di dalam peperangan. Ketika sedang terjadi peperangan, tidak ada orang yang bisa seenaknya mengatakan, “Ah, sudahlah saya capek, saya mau pulang saja.” Tidak bisa semudah itu. Kadang ada situasi yang memaksa kita untuk mau tidak mau kita terseret di dalamnya. Dan yang terakhir, kefasikan juga tidak melepaskan orang yang melakukannya. Artinya, tidak peduli seberapa berkuasanya raja yang jahat itu, pada akhirnya mereka tidak bisa kabur dari konsekuensi kejahatan yang mereka lakukan. Mereka pikir mereka berkuasa bisa melakukan kejahatan semaunya, tetapi ironinya justru nanti kejahatan mereka itu yang menguasai mereka dan akan mengembalikan segala konsekuensinya kepada diri mereka.
Jadi kita sudah melihat bagaimana di pasal ke-8 ini Pengkhotbah menyarankan kita untuk memakai hikmat di dalam berhadapan dengan raja-raja yang jahat seperti itu. Tetapi dia juga mengingatkan kita bahwa bijaksana itu juga ada batasnya. Manusia berhikmat tidak tahu masa depan. Manusia berhikmat juga tidak bisa mengendalikan apa yang terjadi di saat ini. Dan ia tidak bisa mengubah hari kematiannya. Ini mengingatkan kita kembali kepada tahun baru, bagaimana kita perlu mencari hikmat untuk menolong kita melewati hidup ini. Tetapi kita harus sadar, seberapa besar pun hikmat yang kita miliki, kita tidak bisa menjadi tuan atau mengendalikan hidup kita. Kita memasuki tahun ini dengan penuh kesadaran. Iya, kita tahun ini harus mengambil banyak keputusan ini dan itu. Dan tentu harus mengambil keputusan itu dengan sebijaksana mungkin. Tetapi kita harus sadar hasilnya belum tentu seperti apa yang kita mau. Bijaksana tidak menjanjikan kita kepastian karena bijaksana tidak bisa mengendalikan apa pun. Dan sebagai manusia itu memang bukan panggilan kita untuk mengendalikan hidup ini. Tetapi bijaksana mengajarkan kepada kita bagaimana menjalani hidup ini.
Keterbatasan hikmat ini juga kita lihat di bagian penutup yaitu ayat 16-17. Walaupun orang berhikmat tahu banyak hal, tetapi ia tetap tidak dapat menyelami pekerjaan Allah. Hikmat manusia itu terbatas. Pekerjaan Allah seperti apa yang manusia tidak bisa mengerti? Yaitu tentang ketidakadilan yang terjadi di dunia dalam ayat 10, 11, dan 14, yang kadang orang bijaksana pun tidak bisa menjelaskan kenapa.
Di sini kita kembali melihat suatu ironi yang sering kali terjadi dalam dunia yang real, seperti ada pemutarbalikan antara hukuman dan pahala. Orang yang benar yang seharusnya menerima pahala malah menerima ganjaran atau hukuman. Dan orang yang fasik, orang yang harusnya diganjar dan dihukum, justru mereka dapat pahala. Dikatakan di ayat 10, orang yang fasik itu dikuburkan dengan terhormat. Lalu semasa hidupnya dia keluar masuk bait Allah, dihormati banyak orang. Jadi orang fasik sudah mati pun, kadang orang masih menghormatinya. Entah karena orang banyak itu betul-betul tidak tahu kebobrokan orang jahat ini, atau mungkin mereka juga tahu tetapi tetap berusaha baik atau dekat-dekat dengan keluarganya yang mungkin masih kaya, masih punya kekuasaan. Sedangkan orang benar yang kadang menjadi korban orang-orang seperti ini malah dianggap tidak ada dan tidak dipedulikan. Ini hal yang terus terjadi dalam sejarah manusia. Tahun demi tahun berganti, tetapi realitas ini tetap sama. Maka iman yang tidak bisa menerima realitas seperti ini susah untuk bisa survive dalam menghadapi tahun-tahun yang akan datang. Di sini Pengkhotbah kembali mengajarkan pada kita untuk melihat realitas dunia yang kejam dan tidak adil. Dan sekalipun Pengkhotbah tidak bisa menjelaskan kenapa begitu, dia tetap mengatakan bahwa kita harus hidup berbijaksana, takut akan Allah.
Ayat 12, 13, dan 15 adalah bagian terakhir yang menjadi pesan inti. Sekalipun hikmat itu terbatas, sekalipun dunia ini tidak adil, kita tetap perlu menjadi orang berhikmat. Pengkhotbah tidak mengatakan bahwa hidup di bawah matahari ini akan jadi hidup yang adil. Tetapi dia mengatakan orang yang takut akan Allah pada akhirnya merekalah yang akan memperoleh kebahagiaan. Sekalipun kita tidak tahu mengapa Allah memberikan kita jalan hidup seperti ini—dalam keadaan yang membuat kita sangat susah menahan emosi, susah sekali untuk hidup jujur—kita tetap dipanggil untuk tunduk dan takut akan Allah, karena the way of wisdom adalah the way of obedience. Ketika kita mau hidup berhikmat, kita harus hidup tunduk dan taat. Dan ketaatan bukanlah sesuatu yang kita kerjakan kalau perintahnya itu masuk akal dan bisa kita mengerti. Terkadang Allah memanggil kita untuk beriman, melangkah maju sekalipun kita kurang paham. Maka pertanyaannya sekarang bukan apa yang akan terjadi pada tahun ini, tetapi siapa yang akan kita takuti tahun ini? Hikmat memiliki keterbatasan tetapi lebih baik untuk hidup berhikmat. Hidup berhikmat berarti takut akan Allah, memercayai Dia sekalipun kita tidak bisa mendapatkan penjelasan yang lengkap, tetap setia sekalipun kadang kita kelihatan seperti orang konyol. Ini adalah kerendahan hati kita ketika sebagai orang bijaksana kita menerima, iya, ini keterbatasan kita sebagai manusia, inilah yang bisa saya lakukan.
Tetapi bersyukur di dalam hidup ini, Tuhan juga memberikan penghiburan demi penghiburan. Ada masa-masa di mana Tuhan izinkan kita tertindas. Tetapi juga ada banyak masa di mana Tuhan memberikan berkat-berkat-Nya. Itulah yang Pengkhotbah kembali ingatkan, agar kita menikmati segala pemberian dan karunia Tuhan di bawah matahari ini. Betul, engkau berjerih payah dalam dunia ini, tetapi nikmatilah makan, minum, dan sukacita yang menyertai semua itu. Menikmati pemberian Tuhan hari demi hari. Inilah bukti kebaikan Allah. Penyertaan Tuhan yang baru bukan saja setiap tahun, tetapi setiap hari.
Tetapi bukti kebaikan Allah yang paling besar adalah tentu di dalam Anak-Nya, yaitu Tuhan kita, Yesus Kristus, yang turun ke dunia dan sendirinya mengalami pemutarbalikan antara hukuman dan pahala itu. Orang yang satu-satunya sungguh-sungguh benar tetapi diadili dan menderita kejahatan dengan tidak adil. Dan di dalam Kristus, kita juga melihat Tuhan sepertinya berlambat-lambat, tidak dengan tergesa-gesa, mendatangkan waktu penghakiman. Kalau tadi Pengkhotbah mengatakan waktu penghakiman itu datangnya lama, maka banyak orang makin ingin berbuat jahat. Tetapi di Perjanjian Baru kita membaca itu adalah wujud belas kasihan dan kesabaran Tuhan. Tuhan tidak terburu-buru menghakimi dunia ini dan menghukum orang-orang jahat karena Dia bersabar menantikan banyak orang bertobat.
Di dalam Kristus, misteri Allah yang tersembunyi itu dinyatakan. Allah yang tidak kelihatan itu sekarang bisa memiliki tubuh—darah dan daging—sehingga manusia bisa mengenal siapa Allah. Manusia tidak bisa menyelami pikiran Allah, tetapi manusia bisa mengatakan, “Saya mengenal Allah sebagai Bapa yang mengasihi saya. Saya kadang tidak mengerti kenapa Dia izinkan ini terjadi, tetapi saya percaya dan tahu Dia baik kepada saya.” Kita bisa mengatakan itu karena ada Kristus yang datang ke dunia, mengampuni dosa kita dan menjadikan kita anak-anak Allah.
Biarlah kita memasuki tahun baru ini bukan dengan sikap optimis yang tidak realistis, bukan juga dengan sikap hati yang pesimis tanpa pengharapan, tetapi dengan hikmat bijaksana yang dengan rendah hati berjalan di bawah kuasa Tuhan. Kita berdoa bukan meminta kelancaran atau kesuksesan, tetapi kita berdoa meminta hikmat, hikmat untuk tahu kapan waktunya berbicara, kapan waktunya menunggu, dan kapan waktunya kita terus bersandar kepada Tuhan.