Download versi cetak: 1249_1422_KebaktianPagiSore_2026-1-Feb
Definisi Cinta oleh Dunia dan Alkitab
Yeremia 31:1-7
Pdt. Hendra Wijaya, M.Th.
*Ringkasan khotbah ini belum diperiksa pengkhotbah
Memasuki bulan Februari, bulan yang biasa ditandai dengan bunga dan coklat, hari ini kita akan pikirkan tentang cinta. Seorang yang bernama Ilona Brenner lahir 18 Oktober 1924 di Hungaria. Ketika Jerman menduduki Hungaria pada tahun 1944, tentara Nazi mulai melakukan pembantaian terhadap kelompok minoritas, yakni orang-orang Hungaria keturunan Yahudi. Ilona Brenner termasuk di dalam kelompok pertama yang dikirim ke camp konsentrasi di Auschwitz. Pada musim dingin antara tahun 1944-1945, Ilona Brenner belum genap 21 tahun, ia dideportasi lagi, dikirim menjadi tenaga pekerja paksa di kamp konsentrasi Ravensbrück di Jerman, terpisah dari keluarga. Kamp konsentrasi adalah tempat yang paling menakutkan. Tempat di mana harapan manusia dengan sengaja dihancurkan. Tempat di mana nama seseorang diganti dengan angka dan tempat di mana kata cinta tidak mungkin lagi pernah boleh diucapkan. Suatu hari di tempat kerja paksa di kamp konsentrasi Ilona menemukan selembar kertas kecil yang terselip di dalam lapisan dalam sebuah mantel tua. Kertas itu adalah potongan sebuah surat yang di telah ditulis oleh seorang ibu kepada anak perempuannya ketika mereka dipaksa berpisah oleh tentara di sebuah stasiun kereta. Di dalam potongan surat itu tertulis, “Anakku, bila surat ini masih ada di tanganmu, ingatlah engkau telah dicintai melampaui kegelapan ini. Bertahanlah, aku akan mencarimu kelak.” Ilona tidak kenal ibu dan anak perempuan itu. Ilona juga tidak tahu apakah pada akhirnya anak dan ibu ini kemudian betul-betul selamat dari kamp konsentrasi. Ilona melipat potongan surat itu dengan hati-hati dan menyembunyikan potongan surat itu di dalam sepatunya. Ia menyimpannya karena di dalam potongan surat itu terdapat satu kalimat yang menjadi pengingat baginya yaitu supaya dia dengan semangat bertahan hidup. Kita butuh pengingat bahwa cinta itu tidak akan pernah melupakan kita. 21 Maret 1944 Ilona Brenner dibunuh di dalam kamar gas di kamp konsentrasi Ravensbrück.
Sepanjang sejarah umat manusia bergumul dan bertanya, apa itu cinta? Para filsuf Yunani dengan teliti melakukan observasi tentang perasaan, hati, dan hidup manusia. Mereka menemukan cinta itu tidak cukup diwakili dan dilukiskan dengan hanya satu kata saja. Itu sebabnya mereka memberi banyak bentuk kata untuk melukiskan tentang cinta. Ada eros untuk melukiskan tentang keinginan, kerinduan, rasa suka mendalam terutama kepada hal-hal keindahan. Ada kata philia yaitu rasa afeksi dan pengikat persahabatan di dalam kebajikan. Ada kata storge, cinta kasih di dalam relasi keluarga. Ada kata agape, cinta yang tanpa pamrih, ekspresi dari cinta yang tertinggi yang penuh kebajikan. Menurut para filsuf Yunani, cinta adalah sesuatu yang sangat mulia, namun memerlukan usaha manusia untuk memupuk dan menyempurnakannya. Plato di dalam karyanya yang berjudul Phaedrus melukiskan cinta sebagai sebuah misteri yang manusia senantiasa bergumul dan berjuang untuk dapat memahami sepenuhnya. Kata Plato, cinta adalah penyakit mental yang serius. Di bagian lain Plato mengatakan, “Saat seseorang disentuh oleh cinta, setiap orang akan menjadi penyair.” Dua kalimat ini menyiratkan betapa cinta memampukan kita melakukan sesuatu yang melampaui penjelasan. Di dalam karya yang lain, Plato menuliskan sebuah dialog filosofis dalam pertemuan di kota Atena kuno, tamunya adalah Sokrates, Aristophanes, dan Agathon. Ketiganya secara bergantian menyampaikan pujian kepada Eros, dewa cinta. Dialog ini menjelajah berbagai dimensi tentang cinta, mulai dari daya tarik fisik hingga pengertian filosofis yang lebih mendalam tentang keindahan dan kebajikan. Sokrates yang kemudian memperoleh inspirasi dari ajaran filsafat Diotima memaparkan cinta sebagai seperti sebuah tangga yang dipanjat ke atas. Dari keindahan tubuh menuju keindahan jiwa, menuju keindahan kebajikan, pengetahuan dan akhirnya mencapai puncak, yaitu mencintai bijaksana itu sendiri. Itulah sebabnya Sokrates mengatakan cinta adalah sebuah gerakan yang menuju ke atas, menuju transendensi kebenaran yang hakiki dan kesempurnaan. Ide tentang cinta dari para filsuf Yunani ini sangat mulia dan sangat mendalam tetapi terasa masih kurang lengkap.
Di dalam abad pertengahan, Agustinus menyelami natur tentang cinta melalui karyanya di dalam pengakuan-pengakuan. Namun Agustinus juga lagi-lagi mengakui cinta ternyata begitu sulit untuk didefinisikan. Agustinus bertanya “Apakah yang dicintai ketika seseorang mencintai Allah?” Waktu saudara mengatakan saudara cinta Allah, apanya yang kamu cintai? Sementara Allah itu tidak bisa kita comprehend, tidak bisa kita lihat, tidak bisa kita raba. Apanya yang kita cinta? Bagi Agustinus, cinta adalah sesuatu yang seharusnya berakar di dalam pemahaman yang berdasarkan iman tentang natur dan realitas. Sementara itu apa yang dimaksudkan oleh Agustinus sebagai kebajikan? Kebajikan itu tidak lebih dari kesempurnaan cintanya Allah. Agustinus memberi definisi kebajikan sebagai cinta yang terarah dengan benar. Dalam filsafat moralnya, Agustinus mengatakan dosa adalah cinta yang tidak terarah dengan benar. Ketika seseorang mencintai seseorang yang lain, atau mencintai sesuatu melebihi dari yang seharusnya maka waktu itu ia telah mengabaikan relasinya yang seharusnya dengan Allah. Cinta yang demikian adalah cinta yang salah arah, ini dapat berwujud seperti penyembahan kepada berhala. Saudara menyembah berhala artinya saudara mencintai yang bukan Allah dengan cinta yang arahnya salah. Karena itu bagi Agustinus tugasnya adalah bagaimana jiwa kita harus mengarahkan cinta? Allah yang utama, baru kemudian sesama, bersikap benar pada diri dan menempatkan semua ciptaan pada tempatnya. Inilah arah yang seharusnya dilakukan oleh jiwa kita. Dengan demikian, cinta telah menjadi satu bentuk arsitektur moral yaitu satu bentuk keinginan yang selalu sejalan dengan tujuan-tujuan yang bersifat ilahi. Cinta sebagai suatu gerakan mendalam dari jiwa, hati yang terus merindukan perhentian yang sejati dalam Allah. Cinta adalah orientasi keinginan di dalam jiwa, penataan ulang arah dari afeksi hati. Pemahaman ini sesungguhnya sangat indah dan sangat mendalam, tetapi lagi-lagi kita menemukan ternyata pemahaman dari Agustinus tentang cinta ini masih juga belum cukup untuk mencingkapkan misteri tentang cinta dengan sepenuhnya. Hal ini seiring dengan posisi Agustinus yang pernah dipengaruhi oleh filsafat Neoplatonisme sehingga dia cenderung di dalam pemikirannya hanya meninggikan hal-hal yang bersifat rohani dan merendahkan hal-hal yang bersifat jasmani dan karena itu Agustinus hanya melihat cinta sebagai satu bentuk orientasi yang menuju ke atas, ke dalam wilayah rohani saja. Posisi Agustinus yang berada di persimpangan antara filsafat Yunani kuno dan abad pertengahan Kristen mengingatkan kita betapa kuatnya manusia berusaha untuk menemukan definisi cinta. Bagaimanapun agungnya manusia berusaha membicarakan tentang cinta ternyata masih juga belum lengkap sempurna.
Seiring dengan dunia yang kemudian bergerak meninggalkan abad pertengahan memasuki dunia modern, konsep tentang cinta juga mengalami perubahan yang sangat dramatis. Konsep tentang cinta di era modern sekarang ini telah bergeser menjadi berorientasi kepada kebebasan diri yang bersifat individu. Waktu orang bicara tentang cinta, tidak ada lagi unsur transendensi di dalamnya. Semua ada di dalam konteks kebebasan diri yang bersifat individu. Bagi orang modern, cinta adalah kebebasan individu. Cinta adalah bentuk ekspresi dan keinginan yang bersifat individu. Mengikuti ide dari filsafat modern ini maka mencintai adalah berarti memilih dengan bebas, mengekspresikan diri dengan penuh kejujuran. Mencintai berarti mengambil resiko dengan keberanian mengikuti suara hati yang paling dalam. Cinta adalah proyeksi diri, sebuah deklarasi akan otonomi manusia, sebuah perjalanan yang hanya menuju kepada pemenuhan bagi diri manusia.
Perubahan konsep semacam ini tidak terjadi dalam satu malam. Perubahan konsep ini telah dibentuk melalui suara para filsuf yang begitu kuat melakukan definisi ulang tentang apa artinya menjadi manusia, termasuk mendefinisi ulang apa artinya mencintai dan dicintai. Rene Descartes dengan kalimatnya yang paling terkenal, “I think therefore I am”. Saya ada karena saya bisa berpikir. Ini yang membedakan saya dengan makhluk yang lain, cogito ergo sum (Latin). Kalimat ini telah menempatkan kesadaran individu sebagai titik pusat realitas. Dengan demikian, cinta hanyalah sebuah ekspresi diri yang bersifat otonomi.
Tokoh yang kedua Jean Jacques Rousseau dengan filsafatnya kemudian memberi penekanan kepada dua hal tentang manusia, yaitu jati diri manusia yang alami dan authentik dan kebaikan alamnya manusia. Rousseau percaya bahwa manusia pada hakikatnya baik dan memiliki diri yang alami, ditandai dengan sifat yang penuh kejujuran dan autentik. Ini pasti bukan konsep orang Kristen. Pasti dia tidak percaya original sin. Jacques Rousseau mengatakan, “Seiring seorang individu bertumbuh dan berinteraksi secara sosial, jikalau manusia menjadi tidak baik oleh karena manusia kehilangan sentuhan naluri yang alami, dan kehilangan keinginannya yang autentik.” Dengan demikian, apa yang tidak baik di dalam diri manusia sebetulnya hanya terjadi karena hasil pengkondisian social. Manusia suka mengejar akan validasi social, takut FOMO. Saya takut orang tidak recognize, maka cepat-cepat posting supaya seluruh dunia tahu bahwa saya ada dan saya tahu. Bagi Rousseau, cinta yang tulus dan murni hanya mungkin terjadi bila manusia mampu mengekspresikan jati diri yang sebenarnya. Cinta menurut Rousseau harus bersifat autentik, spontan, dan bebas.
Immanuel Kant mengatakan cinta adalah pilihan moral yang diberikan secara cuma-cuma. Sedangkan bagi Soren Aabye Kierkegaard, cinta adalah sebuah pilihan yang bersifat eksistensial. Para filsuf zaman romantik sudah geser lagi, mereka menandai cinta sebagai luapan emosi, pengagungan perasaan, kegairahan yang bersifat authentic. Itulah drama Korea. Jadi kalau saudara ditanya referensimu apa bicara tentang cinta? Saya percaya 90% kita akan refer kepada drama Korea. Padahal referensi yang saudara pakai adalah referensi yang dibangun oleh zaman romantik yaitu menandai cinta sebagai bentuk luapan emosi, pengagungan perasaan dan kegairahan yang bersifat autentik.
Memasuki zaman postmodern di mana kepercayaan terhadap kepastian rasional akal manusia yang pada masa zaman modern sangat dipercaya sebagai sesuatu yang mutlak dan sekarang mulai dicurigai dan dipertanyakan hingga fondasi topangannya yang paling dasar. Mewakili filsuf era postmodern, Jacques Derrida melalui filsafat dekonstruksinya mempertanyakan akan kepastian kebenaran realitas yang diungkapkan melalui bahasa. Filsafat dekonstruksi bersinggungan banyak dengan soal filsafat bahasa. Mereka mempertanyakan medium yang dipakai waktu kita menyatakan kebenaran, yaitu bahasa. Bagi Derrida, bahasa pada dasarnya adalah sesuatu yang tidak mempunyai kepastian. Kita tidak bisa percaya kepada bahasa karena bahasa itu selalu berubah-ubah. Itu sebabnya bagi Derrida apa yang disebut sebagai kebenaran sebenarnya hanyalah sebuah konstruksi sosial yang disepakati bersama. Waktu saudara mengatakan ini kebenaran, dia akan tanya dari mana kamu tahu itu benar? Dari mana kamu tahu bahwa ini pasti benar? Karena penyampaiannya lewat bahasa sementara, medium yang kamu pakai itu sudah digoncang pondasinya. Jadi yang kamu sebut kebenaran itu apa? Derrida mengutip filsafat Plato, dalam bahasa selalu ada unsur yang disebut pharmakon, yaitu semacam aspek ambigu dalam bahasa yang tidak dapat dengan pasti bisa ditetapkan maknanya. Contoh, kata ‘bisa’ tergantung dirangkaikan di dalam konteks yang mana. Derrida mengatakan mengapa sebuah pen itu bukan disebut garpu? Karena sosial mengkonstruksi dan menyebutnya pen.Kalau ada orang mengatakan itu garpu maka orang ini dianggap gila. Ini serangan postmodern kepada kita. Nah, bila kata ‘bisa’ dilepaskan dari konteksnya, maka kata itu akan menjadi ambigu. Kata itu bisa berarti “bisa/kemampuan”, tetapi juga bisa berarti “racun”. Karena itu Derrida tidak mungkin dapat memberi definisi apa itu cinta. Di dalam konteks postmodern, cinta telah menjadi pertanyaan, bukan jawaban. Cinta telah menjadi begitu sulit untuk diberikan definisi.
Sekarang saya akan menyelesaikan problem pergumulan manusia tentang cinta di sepanjang sejarah. Yeremia 31 adalah kalimat cinta yang diucapkan oleh Tuhan kepada manusia di tengah-tengah masa pembuangan. Para ahli biblika menyebutnya pasal ini sebagai pasal penghiburan, terutama pasal 30 sampai 33, satu bagian pendek yang menyisip suara pengharapan kepada umat Tuhan yang hidup dalam masa pembuangan. Yehuda telah lama jatuh dalam krisis politik dan kerohanian. Tahun 586 SM Yehuda ditaklukkan oleh Babel. Bait Allah dibakar habis, umat Tuhan diangkut ke dalam pembuangan ke Babel dan Yeremia yang sering disebut sebagai nabi ratapan itu telah berpuluh-puluh tahun memberi peringatan akan segera datangnya penghakiman dan penghukuman dari Tuhan. Umat Tuhan telah berulang kali mengabaikan peringatan itu dan sekarang setelah penghakiman dan penghukuman itu dijatuhkan, Yeremia menyampaikan perkataan pengharapan dari Allah bahwa pembuangan itu bukan akhir segalanya. Penghakiman Allah memang nyata tetapi pembuangan itu bukan kata akhir dari Allah. Maka melalui Yeremia 31:31-34 Tuhan memberikan janjinya. Allah akan melakukan restorasi bagi Israel. Allah akan membawa mereka kembali dari pembuangan dan membangun kembali tanah perjanjian mereka. Allah memperbaharui ibadah mereka, bahkan Tuhan berjanji akan mengikat lagi perjanjian yang baru di dalam hati mereka. Dan janji ini adalah sebuah deklarasi akan cinta Allah yang kekal. Sekalipun umat Tuhan selalu tidak setia memelihara janjinya, Allah tidak menawarkan sebuah definisi dan filsafat tentang cinta. Tapi Ia memberikan dirinya sebagai realitas cinta yang sempurna dan kekal. Para filsuf Yunani, Sokrates, Plato, Aristotle, dan kaum stoik membicarakan cinta seperti sebuah tangga yang dipanjatkan ke atas tetapi upaya mereka tidak pernah bisa benar-benar sampai di atas. Namun cinta dari Allah adalah dari atas ke bawah. Itulah inkarnasi sang Imanuel, bukan Israel yang harus memanjat ke atas kepada Allah tetapi Allah yang Maha Tinggi itu turun kepada mereka yang ada dalam pembuangan. Cinta adalah pribadi yang mencari dan menemukan mereka. Di dalam abad pertengahan, cinta adalah sesuatu yang menjaga masyarakat tetap pada tempatnya. Konsep tentang cinta abad pertengahan telah dipengaruhi dan dibentuk melalui hierarki, loyalitas feodal, dan teolog skolastik yang melihat cinta sebagai kewajiban, loyalitas, dan stabilitas.
Cinta abad pertengahan memperlihatkan upaya manusia menguasai dan mengendalikan segala sesuatu lewat struktur. Namun Yeremia pasal 31 membawa kita kepada satu pribadi Allah yang tetap mencintai. Dunia modern kemudian telah dibentuk melalui pemikiran Descartes, Rousseau, Kant, Kierkegaard, Nietzsche hingga Sigmund Freud. Mereka berupaya melakukan definisi ulang apa itu cinta. Cinta adalah pilihan individu yang bersifat otonomi, pilihan manusia yang autentik, ekspresi diri untuk mencapai kepuasan pribadi dan juga adalah hak untuk memilih siapa dan bagaimana akan mencintai. Para filsuf modern ini telah berusaha mendefinisi ulang apa itu cinta dengan hanya memperhatikan aspek dari dalam diri manusia semata-mata. Di dalam Yeremia 31 Allah menyingkapkan adanya satu-satunya cinta yang autentik dan sejati yang justru berasal dari luar diri manusia. Cinta yang telah memilih kita sekalipun kita tidak memilih Allah. Sedangkan para filsus postmodern seperti Levinas, Derrida, Foucault dan Lyotard telah mengatakan bahwa cinta adalah sesuatu yang tidak dapat sepenuhnya kita kuasai dan kita definisikan dan itu sebabnya mereka telah curiga, meragukan, dan mempertanyakan sejumlah hal. Misalnya kepastian makna yang tetap di dalam sebuah tekstual. Kemudian motivasi daripada para pembaca teks, kuasa dinamis yang mendominasi di balik relasi antar manusia. Para filsuf postmodern ini memberikan kita indikasi bahwa mereka percaya manusia harus mengakui kekalahannya, tidak dapat mendefinisikan sama sekali cinta itu apa. Ketika definisi manusia runtuh, wahyu ilahi dari Allah berdiri tegak. Melalui wahyu ilahi dari Allah di dalam kitab Yeremia, cinta adalah Allah yang menemukan umatnya kembali. Aku akan mencintai engkau dengan cinta yang kekal.
Cukup menyelesaikan pergumulan manusia tentang cinta? Tidak. Di dalam Injil Markus, di dalam Perjanjian Baru, cinta yang kekal itu berwujud di dalam tubuh sama seperti manusia. Dia adalah cinta yang melayani, cinta yang menyentuh orang lain, cinta yang menyembuhkan orang lain, bahkan Dia adalah cinta yang memberikan hidupnya. Injil Markus adalah Injil yang paling pendek di antara keempat Injil, tetapi di dalam Injil Markus ada berita yang paling mendesak, paling dinamis, dan paling menegangkan. Dalam Injil Markus, Yesus selalu bergerak dari satu perjalanan berlanjut kepada perjalanan yang lain. Di dalam tindakannya menyembuhkan, menyentuh, memulihkan bahkan mengampuni, Injil Markus tidak membicarakan panjang tentang apa itu cinta, tetapi Injil Markus mewujudkan kepada kita apa yang disebut cinta. Yesus yang menyentuh si kusta adalah cinta yang melampaui batasan. Yesus yang membangkitkan anak perempuan Yairus adalah cinta yang mengalahkan kematian. Yesus yang memberi makan bagi banyak orang adalah cinta yang melihat kebutuhan sebelum itu diucapkan. Yesus yang meneduhkan angin ribut adalah cinta yang menghadirkan damai sejahtera di tengah kekacauan. Yesus yang memperhatikan orang-orang yang terabaikan, seperti pemungut cukai, perempuan yang mengalami pendarahan, anak-anak, orang-orang berdosa lainnya adalah cinta yang tanpa prasyarat, adalah cinta yang insclusivie dan transformatif. Di dalam Injil Markus, cinta bukan sebuah ide, bukan satu bentuk rasa, bukan pula sebuah kategori filosofis, tapi cinta adalah satu pribadi. Cinta adalah sebuah gerakan kepada mereka yang hancur. Cinta adalah salib. Ketika bahasa manusia gagal memberi nama kepada cinta, Yesus adalah nama cinta yang sesungguhnya. Masih ingat potongan surat yang disimpan Ilona Brenner? Ia menyimpan potongan kertas itu untuk mengingatkan kepada dirinya sendiri cinta tidak akan pernah mengabaikannya. Itu adalah kata-kata yang menopangnya ketika ia sendiri tidak mampu menopang bagi dirinya sendiri. Yeremia pasal 31 adalah surat dari Allah untuk kita yang sedang ada di dalam badai. Injil Markus adalah adalah perwujudan cinta Allah bagi kita yang dinyatakan dalam daging dan darah. Itulah cinta Allah di dalam Kristus. Itulah cinta yang disingkapkan di dalam Injil Markus. Itulah cinta yang merubah segalanya.
Saya akan tutup khotbah hari ini dengan lima hal. Pertama, bagi engkau yang merasa harus mendaki ke atas dengan kekuatanmu sendiri, untuk dapat dicintai dengan layak oleh Allah, Yesus turun ke bawah bagimu. Engkau tidak harus memanjat tangga ke atas. Engkau tidak perlu untuk menjadi sempurna untuk dicintai oleh Allah. Yang kedua, bagi engkau yang merasa kosong dan lelah di dalam hidupmu dengan cinta, cinta Allah bukanlah sebuah upaya pencapaianmu tetapi itu adalah pemberian Allah, bukan hasil usahamu. Yang ketiga, bagi engkau yang takut terluka oleh cinta, Yesus memahami kerentanmu. Dia telah mencintai engkau dengan hati yang juga bisa terluka. Dia telah membiarkan hati dan tubuhnya terluka demi engkau yang dicintai. Yang keempat, bagi engkau yang meragukan cinta karena luka di masa lalu, Yesus adalah cinta yang tidak memanipulasi, cinta yang tidak mengabaikan, cinta yang tidak mengkhianati. Yesus adalah cinta yang menyembuhkan. Yang kelima, bagi engkau yang ingin mengikuti Yesus, cinta bukanlah sebuah kata pengganti ungkapan perasaan, bukan pula hanya sebuah ide yang menjadi slogan. Tetapi cinta adalah perbuatan, cinta adalah belas kasihan, cinta adalah pengorbanan, cinta adalah model kehidupan dalam kerajaan Allah. Di sepanjang sejarah manusia, manusia kekurangan model tentang cinta. Waktu kita bicara cinta yang abstrak bagaimana kita memahaminya? kecuali satu kalau kita menemukan model. Oleh karena itu, karena Yesus telah terlebih dahulu mencintai kita, maka barulah kita sekarang memiliki modal dengan bebas dan mampu mencintai orang lain. Untuk saudara bisa mencintai orang lain, saudara harus perlu punya model dan modal terlebih dulu, yaitu engkau mengalami dicintai, baru engkau bisa mencintai orang lain dengan benar. Tanpa itu, cinta menjadi sesuatu ide kosong yang abstrak dan tidak ada artinya. Kiranya Tuhan menolong kita, memampukan kita untuk terus menghayati cinta Kristus kepada kita dan menghidupi cinta Kristus dalam kehidupan kita.