Download versi cetak: 1276_KebaktianPagi_2026-9-Agu
Eksposisi Matius (95) – Datanglah Kerajaan-Mu
Matius 6:9-10
Pdt. Adrian Jonatan M.Th
*Ringkasan khotbah ini belum diperiksa pengkhotbah
Waktu kita berelasi dengan Tuhan, kita sering kali lupa bahwa Dia itu Tuhan dan kita itu manusia. Karena itulah Doa Bapa Kami dimulai dengan “Bapa kami yang di surga.” Suatu privilege yang begitu besar untuk memanggil Allah Pencipta seluruh alam semesta sebagai Bapa. Jangan take it for granted. Itu diberikan bukan cuma-cuma, tetapi itu dibayar dengan harga yang mahal, yaitu dengan Yesus Kristus, yang sebagai Anak satu-satunya membagi hak itu bagi kita supaya kita boleh memanggil Allah sebagai Bapa. Anak sendiri mati di atas kayu salib, sehingga kita boleh datang kepada Bapa.
Lalu waktu kita datang kepada Bapa dan memanggil Dia sebagai Bapa, apa yang menjadi permintaan pertama? “Dikuduskanlah nama-Mu.” Biasanya kita berdoa meminta makanan, pertolongan dalam studi atau pekerjaan supaya dapat promosi. Tanpa kita sadari, sering kali fokus utama kita di dalam berdoa adalah diri kita. Tetapi kita belajar dari Doa Bapa Kami bahwa pusat dari doa itu adalah Allah.
Mazmur bisa menjadi contoh bagaimana memulai doa dengan memuliakan nama Allah. Mazmur 8:2, “Ya TUHAN, Tuhan kami, betapa mulianya nama-Mu di seluruh bumi! Keagungan-Mu yang mengatasi langit dinyanyikan.” Mazmur 9:2-3, “Aku mau bersyukur kepada TUHAN dengan segenap hatiku, aku mau menceritakan segala perbuatan-Mu yang ajaib; aku mau bersukacita dan bersukaria karena Engkau, bermazmur bagi nama-Mu, ya Mahatinggi.” Hal pertama yang perlu kita lakukan di dalam doa itu adalah menguduskan dan memuliakan nama Tuhan di dalam hati kita. Ini masalah positioning, menempatkan segala sesuatu pada tempatnya. Kalau tidak, kita akan menaruh diri kita di tempat yang paling penting dan menaruh Tuhan sebagai pembantu kita. Kalau kita mau memiliki relasi yang benar, kita perlu positioning yang benar akan posisi Allah.
Di dalam pertandingan sepak bola, setiap pemain mesti tahu posisi dia. Kalau tidak, akhirnya tim itu pasti kacau balau. Kalau segala sesuatu ada pada tempatnya, kita menjadi tenang (at rest). Kalau segala sesuatu tidak pada tempatnya, kita akan menjadi gelisah. Demikian juga waktu kita berdoa, ada proses positioning, menempatkan Tuhan pada tempat-Nya yang khusus. “Dikuduskanlah nama-Mu.” Kudus artinya khusus.
Tetapi kenapa hal ini menjadi sulit di dalam dunia ini? Pertama, tentu saja karena kita memang sudah jatuh di dalam dosa. Dosa membuat kita ingin menempatkan diri kita di dalam posisi Tuhan. Kita berusaha untuk menonjolkan diri dan akhirnya kita gelisah. Orang di Singapura itu mengenal istilah kiasu, artinya berusaha mendapat yang terbaik bagi diri kita. Ini adalah akibat dari kejatuhan kita. Kenapa kita gelisah (deep anxieties)? Karena kita menginginkan sesuatu. Jadi sebenarnya kalau kita menempatkan diri kita pada tempat yang tepat dan menempatkan Tuhan pada tempat yang tepat, kita boleh menjadi tenang.
Kita juga perlu waspada karena di dalam dunia ini kita diajar untuk tidak menghargai dan tidak menguduskan nama Tuhan. Ini terjadi tanpa kita sadari. Misalnya dalam film zaman ini, nama Tuhan sering dipakai dengan sia-sia. Dan karena itu sudah terlalu sering kita dengar, kita tidak terlalu peka lagi (desensitized). Dunia makin lama makin susah untuk betul-betul memuliakan Tuhan. Oleh karena itulah, kita sebagai orang yang belajar firman Tuhan dan menyadari permintaan yang paling utama, yaitu menguduskan nama Tuhan, marilah kita jaga hati kita, dan tempatkan nama Tuhan di dalam tempat yang khusus. Setiap kali kita berdoa, “Dikuduskanlah nama-Mu,” kita sedang menempatkan Tuhan di dalam tempat yang paling tinggi yang bisa kita bayangkan.
Lalu kemudian bagian yang kedua, waktu kita memikirkan “Dikuduskanlah nama-Mu,” kita sadar bahwa kekudusan dan kemuliaan Allah itu ada karena Dia adalah Allah yang kudus dan suci. Sepanjang sejarah agama di dalam dunia ini, kita melihat ada orang-orang yang menyembah dewa-dewi, simply karena mereka lebih kuat dan lebih hebat saja, tetapi mereka tidak memiliki kehidupan yang kudus. Ini semua bukan Allah yang sejati. Itu cuma ekstrapolasi keinginan manusia. Tuhan yang sejati itu adalah Tuhan yang menyatakan diri-Nya dan menyatakan diri-Nya sebagai Tuhan yang kudus dan suci. Waktu malaikat memuji Tuhan, apa yang mereka katakan? “Kudus, kudus, kuduslah Tuhan.” Kemuliaan Tuhan ada di dalam kekudusan-Nya.
Di dalam suatu acara pemberkatan nikah, pengantin perempuan menggunakan cadar yang kemudian akan dibuka setelah diberkati. Cadar adalah lambang dari kesucian yang dia jaga. Mempelai wanita ini sudah menjaga kesuciannya terus sampai pada hari pernikahannya. Kalau orang yang sudah tidak menjaga kesuciannya, biasanya di dalam tradisi kita dia tidak boleh memakai cadar. Tentu saja ada pengampunan di dalamnya; dia masih boleh menikah. Tetapi dia harus menyatakan bahwa dia memang sudah tidak menjaga kesuciannya. Sehingga waktu seorang mempelai wanita itu masuk dengan cadar, itulah kemuliaannya. Kemuliaan itu berkait dengan kesucian. Tetapi di dalam dunia ini, sekali lagi kita diajarkan suatu hal yang lain, sebuah falsafah yang sangat berlawanan. Di dalam dunia entertainment, orang yang menjaga kesuciannya justru dianggap remeh. Orang yang bisa gonti-ganti pasangan itu baru yang laku. Di mata Tuhan, kemuliaan itu berkait dengan kekudusan. Maukah kita menjadi orang yang mulia? Marilah kita hidup kudus seperti Allah itu kudus.
Ketika kita berkata, “Bapa kami yang di surga, dikuduskanlah nama-Mu,” implikasinya bagi diri kita berarti sebagai anak, kita juga mau berusaha menjaga kekudusan kita. Kita semua bukan anak-anak Allah yang natural. Kita semua adalah ciptaan Allah, bukan anak Allah. Tetapi kita menjadi anak Allah karena kita diadopsi oleh Allah, sehingga kita boleh memanggil Allah sebagai Bapa. Tetapi sebagaimana seperti anak angkat, ia tidak secara otomatis memiliki karakter yang sama dengan ayah angkatnya. Latar belakangnya akan masih terus memengaruhi dia. Tetapi sebagai anak angkat yang baik, dia akan belajar. “Saya tidak mau membiarkan latar belakang saya membentuk diri saya. Saya mau melihat kepada Bapa saya yang baru.” Sebagaimana Dia adalah Allah yang kudus, saya juga mau jadi kudus. Kadang-kadang masih gagal, tetapi saya mau berusaha. Saya melihat Bapa saya yang kudus, dan di dalam kekudusan itulah Dia begitu mulia, saya mau jadi seperti Dia.”
Kalimat berikutnya, “Datanglah Kerajaan-Mu.” Ini topik yang juga besar sekali. Sering kali orang mengalami kebingungan mengenai Kerajaan Allah, dan kadang-kadang kita sebagai orang Kristen malah tidak melihat betapa penting dan sentralnya topik Kerajaan Allah itu. Tetapi jika Saudara membaca Alkitab, membaca Injil, lalu Saudara tandai setiap kali melihat istilah Kerajaan Allah atau Kerajaan Surga, Saudara akan menyadari bahwa ternyata Kerajaan Allah itu adalah topik sentral. Jika ditanya apa inti Injil, orang umumnya menjawab keselamatan. Tetapi sebenarnya topik sentral Injil adalah Kerajaan Allah. Kita melihat keselamatan menjadi sentral karena kita sering melihat dari sudut pandang kita. Keselamatan itu termasuk bagian di dalam topik Kerajaan Allah. Keselamatan adalah suatu langkah kita masuk ke dalam Kerajaan Allah.
Yesus sangat menyadari pentingnya Kerajaan Allah. Di sepanjang pelayanan-Nya, Dia terus berbicara mengenai Kerajaan Allah. Semua perumpamaan Yesus bicara mengenai Kerajaan Allah. Apakah artinya Injil? Kabar baik. Tetapi istilah “Injil” itu juga bersifat kontekstual. Bagi kita sekarang, Injil berarti Injil keselamatan. Tetapi pada zaman Yesus, istilah Injil dipakai secara umum. Euangelion adalah Injil mengenai kerajaan, sebuah promosi dari suatu kerajaan. Misalnya ketika Kerajaan Romawi menguasai wilayah orang-orang Yunani, mereka mengatakan, “Jangan takut dengan adanya kerajaan yang baru ini. Engkau akan maju.” Itulah Injil. Injil menjadi suatu traktat politik yang berkait dengan topik kerajaan. Sehingga waktu kita bicara mengenai Injil, itu selalu berkait dengan Kerajaan Allah.
Tetapi bagaimana mendefinisikan Kerajaan Allah? Yesus sendiri tidak pernah memberikan definisi apa itu Kerajaan Allah. Yesus selalu mengatakan, “Kerajaan Allah itu seperti ini, seperti itu …” Yesus tidak pernah precise di dalam mendefinisikan Kerajaan Allah. Kita inginnya dengar yang precise. Manusia terus berusaha mencari presisi definisi tentang Kerajaan Allah. Tetapi Kerajaan Allah tidak bisa didefinisikan secara lahiriah karena tidak ada apa pun di dalam dunia ini yang bisa diasosiasikan langsung dengan Kerajaan Allah. Yesus sendiri berkata, “Hati-hati dengan orang yang berkata Kerajaan Allah itu akan datang sekarang atau kapan.” Juga, “Hati-hati dengan orang yang berkata Kerajaan Allah ada di sini atau di sana.” Yesus bahkan berkata bahwa Kerajaan-Nya bukan dari dunia ini. Sehingga kita perlu berhati-hati supaya kita tidak mengasosiasikan sesuatu di dalam dunia ini begitu erat dengan Kerajaan Allah.
Problemnya bisa bermacam-macam. Ada orang yang dulu meramalkan bahwa Kerajaan Allah akan datang pada tahun 2012. Tuhan sendiri sudah mengatakan bahwa tidak ada orang yang bisa tahu, tetapi di dalam kekristenan masih ada saja orang yang ‘berjualan’ seperti itu. Tetapi kadang-kadang problemnya bisa lebih subtle. Kerajaan Allah bisa diasosiasikan dengan kebudayaan yang maju. Pada abad ke-19, orang-orang di Eropa dan Amerika berpikir, “Inilah dia Kerajaan Allah.” Kebudayaan begitu maju, semua orang jadi cultured. Tetapi ironisnya, mereka kemudian mulai tidak lagi menghargai firman Tuhan dan Injil. Saat kita mengasosiasikan sesuatu dengan Kerajaan Allah secara persis, efeknya adalah kita jadi tidak melihat pentingnya firman Tuhan lagi karena merasa sudah ‘sampai’. Tetapi Kerajaan Allah tidak bisa didefinisikan dengan karakter dunia. Kerajaan Allah itu bukan suatu tempat. Waktu kita berdoa, “Datanglah Kerajaan-Mu,” kita tidak sedang membayangkan nanti ada satu kerajaan yang tiba-tiba turun. Itu adalah suatu kalimat metafora yang menggambarkan realitas Kerajaan Allah.
Saya melihat istilah “kerajaan” ini juga bagus untuk kita renungkan. Istilah “kerajaan” itu bukan sekadar bicara mengenai teritorial (kingdom), tetapi ke-raja-an (kingship). Seperti istilah kedudukan tidak bicara tentang tempat duduk, tetapi suatu keadaan ada orang yang duduk dan bertakhta. Inilah Kerajaan Allah (the kingship of God), suatu keadaan di mana Allah diterima sebagai Raja. Sehingga Kerajaan Allah ada di antara orang-orang yang menyadari bahwa Allah adalah raja.
Geerhardus Vos mengatakan, “God’s kingdom is always about His reign, His rule, and never about His domain.” Sehingga waktu Yesus ditanya oleh orang Farisi, “Jadi kapan Kerajaan Allah akan tiba?” Yesus justru menjawab, “Kerajaan Allah atau Kerajaan Surga itu ada di antara kamu.” Kenapa? Karena di antara mereka—orang-orang yang mengikuti Yesus—ada orang-orang pilihan yang betul-betul melihat Allah sebagai Raja. Kerajaan Allah itu adalah orang-orang yang melihat Allah sebagai Raja mereka.
Realitas Kerajaan Allah juga mengandung unsur already but not yet. Orang kadang-kadang bingung Kerajaan Allah sudah datang atau belum? Waktu Yesus mengusir setan, Dia mengatakan, “Kalau engkau melihat setan diusir, engkau sadar Kerajaan Allah sudah tiba.” Tetapi Yesus juga mengajarkan, “Datanglah Kerajaan-Mu.” Jadi sudah atau belum? Sudah dan belum. Dr. Richard Pratt menjelaskan ini memakai analogi naik pesawat. Kalau Saudara naik pesawat, Saudara berada dalam keadaan already but not yet. Misalnya dari Singapura ke Jakarta, setelah berangkat, Saudara already not in Singapore, tetapi not yet in Jakarta. Jadi itulah area already but not yet. Prosesnya sampai kegenapannya, tetapi sudah dimulai. Dan kapan itu dimulai? Waktu Kristus datang ke dalam dunia, di situlah mulainya Kerajaan Allah di dalam dunia.
Dan semua tanda-tanda yang Dia lakukan itulah tanda-tanda Kerajaan Allah. Kerajaan Allah adalah tempat di mana setan tidak bisa berkuasa. Kerajaan Allah adalah tempat di mana sakit penyakit tidak merusak manusia. Kerajaan Allah adalah tempat di mana manusia memuliakan Tuhan. Dan di mana Kristus ada, Dia menyatakan tanda-tanda Kerajaan Allah, tetapi belum sepenuhnya. Tuhan sedang menggenapi dan kemudian membawa orang-orang masuk dalam Kerajaan Allah.
Bagaimana manusia bisa melihat Kerajaan Allah? Di dalam Yohanes 3, kita melihat pembicaraan Yesus dengan Nikodemus. Nikodemus datang dengan basa-basi, “Wah, Engkau adalah guru yang baik.” Tetapi entah dari mana Yesus langsung menjawab, tidak ada basa-basi, “Kecuali engkau dilahirkan kembali, engkau tidak dapat melihat Kerajaan Allah.” Bagaimanakah kita bisa mengalami atau menyadari realitas Kerajaan Allah? Tidak di dalam apa pun dalam dunia ini, tetapi dengan pekerjaan Roh Kudus yang melahirbarukan kita. Saat kita menyadari adanya Kerajaan Allah, kita juga sadar bahwa Kerajaan Allah itu sangat berbeda dari dunia ini. Dalam dunia ini, orang berlomba-lomba menjadi raja. Siapa yang lebih kuat? Siapa yang bisa lebih menonjolkan diri? Siapa yang bisa mendapatkan lebih banyak? Siapa yang bisa memanfaatkan kesempatan untuk menekan dan menggunakan orang lain? Inilah keadaan kerajaan dunia. Oleh sebab itu, gereja menjadi suatu bagian yang sangat penting, sebagai kumpulan orang-orang yang bersama-sama mengakui Allah sebagai Raja. Gereja memang tidak sempurna, banyak orang yang datang untuk mencari keuntungan bagi dirinya sendiri. Tetapi marilah Saudara di dalam seluruh proses, kita menyadari bahwa waktu kita datang di dalam gereja dan beribadah bersama-sama, kita sedang berkumpul bersama orang-orang yang mengakui Allah adalah Raja. Kita seharusnya mendapatkan kelegaan, karena kita tidak perlu berusaha lagi menjadi raja. Rajanya sudah ada, yaitu Allah, saya tinggal hidup sebagai rakyat.
Tetapi kita sadar waktu kita berdoa, “Datanglah Kerajaan-Mu,” Kerajaan Allah itu belum sepenuhnya datang. Untuk sementara ini, kita masih berada di bawah kerajaan dunia. Karena itu kita menaruh pengharapan bukan dalam dunia ini tetapi di dalam Kerajaan Allah. Di saat yang sama, kita juga berharap supaya orang-orang di sekitar kita, dunia di mana kita berhubungan, juga boleh menyadari Allah sebagai Raja. Inilah kenapa Pdt. Stephen Tong dan juga kita semua didorong untuk menginjili. Menginjili bukanlah supaya meramaikan gereja. Menginjili adalah membuka mata orang lain untuk melihat Allah sebagai Raja. Supaya apa? Supaya segera genap Kerajaan Allah.
Setiap orang yang ditetapkan untuk menjadi bagian dari Kerajaan Allah, segeralah menjadi bagian dalam Kerajaan Allah. Mereka hanya bisa menjadi bagian dari Kerajaan Allah kalau ada yang menginjili mereka. Sehingga waktu kita menginjili, kita sedang berbagian dalam menggenapi Kerajaan Allah. Sehingga waktu kita berdoa, “Datanglah Kerajaan-Mu,” kita terus berjuang juga di dalam kerajaan dunia ini. Kiranya Tuhan boleh memberkati kita semua.