Sesi Pembuka
Saya berharap di dalam retreat empat hari ini kita boleh sama-sama mendapatkan kesegaran dan kekuatan dengan kita memikiran pertanyaan. Empat pertanyaan yang terdiri dari apa (what), mengapa (why), bagaimana (how) dan kemana (where).
1. Apa (what) itu gereja? Atau siapa itu gereja?
Apa itu gereja buat Allah, apa itu gereja buat kita? Di dalam booklet retreat ada ayat di cantum di dalam. Mari kita baca bersama: “But you are a chosen people, a royal priesthood, a holy nation, God’s special possession, that you may declare the praises of him who called you out of darkness into his wonderful light.” (1 Pet 2:9, NIV).
Di Alkitab dikatakan bahwa kita adalah God’s special possession. Umat kepunyaan Allah sendiri. Bahkan di dalam kitab Ulangan pasal ketujuh, kita di bilang kita adalah umat kesayangan-Nya. Jadi gereja itu adalah sesuatu yang sangat berharga bagi Tuhan. Di Perjanjian Baru (PB), apa itu geerja bagi Kristus? Bagi Kristus, gereja adalah mempelai wanita-Nya dan tubuh-Nya. Jadi kita tidak usah ragu lagi, bahwa gereja itu adalah sesuatu yang sangat berarti dan dikasihi oleh Tuhan. Bukan karena gereja itu terisi oleh orang-orang yang baik dan sempurna. Malah sebaliknya, gereja terdiri dengan orang-orang yang sudah mendukakan hati Tuhan. Tapi Tuhan berkorban, mencurahkan darah-Nya untuk menebus gereja-Nya. Jadi, gereja itu adalah sesuatu yang sangat bernilai. Pertanyaanya saudara sekalian, apa itu gereja bagi engkau?
Banyak manusia di dunia mencari identitas dirinya dengan berusaha mencapai segala pencapaian. Mereka mencoba mencari nama untuk diri sendiri. Ini yang terjadi untuk Kain dan orang-orang yang membangun menara Babel. Tetapi kalau kita lihat siapa itu umat Tuhan, dari perjanjian lama sampai perjanjian baru, kita melihat umat Tuhan adalah mereka yang diberikan nama oleh Tuhan. Mereka adalah orang-orang yang mendapatkan identitasnya bukan karena segala kebaikan kehebatan tetapi karena Tuhan yang memberikannya kepada mereka. Maka demikian juga saudara sekalian, kalau kita boleh menjadi gereja, menjadi umat Allah bukan karena kita sudah berhasil melaksanakan ini dan itu, tetapi karena Tuhan sudah memberikannya kepada kita. Gereja bukanlah sesuatu yang kita masuk untuk bergabung di dalamnya, tetapi gereja adalah yang Tuhan sudah ciptakan, hadirkan dan kita dimasukkan ke dalamnya. Maka seharusnya bagi kita gereja adalah tempat dimana kita itu belong. Bukan karena kita pantas untuk masuk di dalamnya, bukan karena kita bergabung dengan kelompok orang-orang yang mirip dengan kita, bukan karena kita bergabung dengan orang-orang yang setuju dengan kita, yang sesuai kemauan kita. Tapi kita ada di dalam gereja karena Tuhanlah yang telah mempersatukan kita di dalam Kristus bersama dengan saudara seiman.
Saudara, mungkin ada kita yang baru bergabung dengan gereja beberapa tahun kebelakang. Atau mungkin ada saudara yang dari kecil lahir sudah di GRII. Tetapi terlepas apa pun, kapan pun anda bergabung dengan gereja, gereja seharusnya menjadi tempat dimana ini menjadi bagian dari identitas kita. Bukan sekedar organisasi atau komunitas yang kita bergabung di dalamnya, tetapi sesuatu yang mewarnai seluruh kehidupan saudara. Itulah kenapa saya bersyukur jikalau saudara di dalam waktu libur ini boleh berkumpul bersama-sama dengan keluarga Allah ini untuk memikirkan tentang apa artinya menjadi umat Tuhan.
2. Kenapa (why) kita perlu gereja? Kenapa gereja itu hal yang penting?
Khususnya di dalam zaman dimana orang semakin skeptis terhadap yang institusi, dimana semakin banyak orang mengatakan: “saya mengasihi Yesus, tapi saya tidak suka gereja.”; “saya beribadah kepada Tuhan tapi saya tidak perlu gereja”. Karena gereja hanyalah sebagai institusi buatan sosial manusia saja. Tapi Kitab Suci tidak mengajarkan demikian. Komunitas gereja adalah komunitas yang harus ada dan sangat penting bagi setiap orang Kristen. Kenapa demikian? Karena kita tidak bisa bertumbuh bersama dengan seorang diri. Kita harus bertumbuh bersama sesama saudara seiman. Kita tidak bisa menjadi orang yang mau ikut Kristus lalu berharap semakin hari semakin serupa dengan Kristus tanpa kita mengkomitkan diri di dalam satu tubuh Kristus. Di dalam gerejalah kita bisa belajar untuk saling mendorong, meng-encourage satu dengan lain. Di dalam gerejalah kita bisa belajar untuk saling mengasihi tanpa syarat. Di dalam gereja kita bisa belajar untuk memaafkan dan dimaafkan. Kita belajar untuk saling berkorban, saling melayani satu dengan yang lain.
Paulus di dalam surat Efesus mengatakan, “inilah cara kita bertumbuh, makin dewasa makin serupa seperti Yesus Kristus”.
3. Bagaimana (how) kita bisa hidup bersama sebagai tubuh Kristus?
Bagaimana kita dengan orang-orang yang berbeda-beda latar belakang, berbeda-beda cara pikir, cara bekerja, bisa bersatu dengan baik di dalam gereja?
4. Untuk apa dan kemana (where) kita akan pergi? Kemana gereja kita akan melangkah?
Untuk apa Tuhan mempersatukan kita, panggilan apa yang harus kita kerjakan?
Kiranya saudara sekalian, kita boleh bersama-sama pikirkan empat pertanyaan ini di dalam empat hari kedepan.
Pertanyaan yang mungkin setelah empat hari ini akan terus bisa kita gumulkan dan perdalam semakin hari di dalam kita hidup bergereja. Tapi biarlah setelah retreat ini kita boleh semakin disegarkan, dikuatkan, kembali didorong untuk kita bersama-sama menjalani panggilan kita sebagai orang Kristen di dalam tubuh Kristus. Dimana kita menjadi orang Kristen yang ke gereja bukan sekedar sebagai customer tetapi sebagai member. Bukan sekedar bertanya: “apa yang bisa saya dapatkan?”, “apa yang saya bisa nikmati?” Tapi, di mana tempat saya dan apa yang saya bisa kerjakan bersama-sama. Saudara sekalian, boleh semakin mempererat kita satu dengan yang lainnya. Dan kita boleh memikirkan kira-kira apa panggilan Tuhan bagi gereja kita baik itu GRII Singapura maupun MRII Kuala Lumpur.