Sesi 4
Hari ini kita akan mengamati tren gereja di luar. Agar kita dapat mengerti baik apa yang gereja kita lakukan maupun arus apa yang terjadi pada gereja-gereja di luar. Arsitektur gereja Reformed adalah refleksi dari teologinya. Pada masa abad pertengahan, jendela gereja katolik didesain menggunakan kaca patri (stained glass) yang berwarna-warni. Dengan demikian, sinar cahaya matahari yang masuk ke dalam ruangan gereja melalui kaca tersebut berpencar menjadi cahaya dengan berbagai warna. Kita merasa masuk ke dunia yang lain. Allah merupakan sosok misterius yang merupakan arsitek yang agung. Pada gereja-gereja yang dipengaruhi oleh Reformasi, kaca tersebut diganti dengan kaca transparan dan cahaya matahari dapat masuk secara alamiah, tidak berubah warna. Mereka ingin menggambarkan bahwa Allah tidak lagi merupakan sosok misterius, melainkan dapat dikenali melalui waktu yang kita terima di dalam Alkitab. Manusia dapat membaca kitab suci dan mengenali-Nya. Pusat dari ibadah gereja katolik, termasuk Metodis kontemporer, adalah sebuah altar, yang diletakkan di tengah bagian paling depan dari ruang kebaktian. Tetapi di gereja Reformed, GRII, salib menjadi pusat dari ibadah, diletakkan di tengah bagian paling depan ruang ibadah. Tepat di bawah salib, mimbar yang besar diletakkan. Hal ini mencerminkan firman sebagai pusat ibadah yang harus menundukkan dirinya di bawah salib.
Pada abad ke-18 dan ke-19, beberapa arsitek Reformed terpengaruh gaya teatrikal. Karena pada saat itu terdapat ledakan jumlah orang Kristen, sehingga ruang gereja harus besar. Meskipun demikian, tujuan agar seseorang dapat mendengarkan firman Tuhan secara jelas tetap diutamakan. Di bawah mimbar terdapat meja untuk melakukan perjamuan kudus dan sakramen baptis. Menyatakan sakramen mendapatkan makna dari firman Tuhan. Gereja Metodis dan Reformed memiliki bentuk arsitektur gereja yang berbeda karena mereka memiliki teologi yang berbeda.
Tetapi gereja pada masa ini, dari denominasi mana pun, semua memiliki arsitektur yang sama. Di belakang adalah layar yang besar, bukan salib. Mimbar tidak lagi besar. Pengkhotbah tidak lagi perlu berdiri di belakang di atas mimbar dam meletakkan tangannya di atas mimbar tersebut pada waktu berkhotbah, menggambarkan ia mendapatkan mandat dari Alkitab untuk berkhotbah. Sebaliknya, pengkhotbah berjalan-jalan dan membangun attachment dengan pendengarnya. Cahaya alamiah yang terang diubah menjadi ruangan dengan lampu remang-remang. Pengkhotbah tidak lagi memakai jas, tetapi memakai baju santai, celana jins, dan sepatu santai, serta menyapa orang-orang dengan gaya anak muda. Khotbah tidak lagi doktrinal. Kalaupun di dalam gereja Reformed, mungkin hanya mengkhotbahkan satu atau dua poin doktrin saja.
Beberapa dari Anda mungkin bertanya, kenapa GRII tidak mengadopsi gaya ibadah semacam itu? Tidakkah ini merupakan bagian dari mandat budaya? Pernahkah Saudara bertanya, sebenarnya darimana gaya semacam itu berasal? Bentuk ibadah semacam itu, apa filosofinya. Marshall McLuhan mengatakan, the medium is the message itself (media yang digunakan merupakan pesan itu sendiri). Bentuk arsitektur, gaya ibadah, dan lagu yang dinyanyikan tidak netral.
Hari ini saya ingin mengajak Anda menelusuri sejarah untuk menemukan benang merah yang menjadi akar fenomena semacam ini. Ketika Anda menjawab orang lain, Anda akan dapat menjawab bukan hanya ‘boleh’ dan ‘tidak boleh’, melainkan juga menjelaskan dari mana semua fenomena tersebut berasal dan apa dampaknya.
Saya akan memulai dengan sebuah gerakan yang disebut dengan Church Growth Movement (Gerakan Pertumbuhan Gereja), dimulai sekitar tahun 1950-an. Filsafat Pak Tong sangat berseberangan dari Church Growth Movement. Church Growth Movement dimulai dari seorang misionaris bernama Donald McGavran. Dia adalah seorang intelektual, tetapi bukan pendiri gereja, melainkan seorang misionaris di India. Dia memulai dengan menanyakan suatu pertanyaan: mengapa ada wilayah yang dapat memenangkan banyak orang dan ada wilayah yang tidak? Dia mengamati bahwa misionaris selalu memakai pendekatan klasik di dalam bermisi. Membuka sekolah, membangun rumah sakit, lalu mendirikan gereja. Pola itu sering dikenal dengan istilah mission triangle (segitiga misi). Namun ia merasa bahwa pendekatan ini menghabiskan banyak biaya dengan hasil yang sedikit.
Ia kemudian melakukan penelitian empiris dan sosiologis. Ia mengatakan banyak orang cenderung merohani-rohanikan isu yang mereka hadapi, tidak didukung data dan hasil penelitian empiris. Dalam beberapa hal kita bisa menyetujui hal ini. Saya bertanya kepada teman-teman di pemuda, kenapa banyak orang tidak datang ke persekutuan pemuda. Banyak dari teman-teman aktivis pemuda menjawab dengan berbagai alasan rohani, “pemuda lebih cinta perut mereka lebih daripada Tuhan”, “tidak mau membayar harga”, “tidak mau berusaha”, “sudah berpikir secara sekuler, tidak lagi memperdulikan hal rohani”. Saya kemudian berdiri di luar pintu kebaktian dan menanyai pemuda, sebanyak kurang lebih 150 orang, yang keluar dari pintu tersebut selepas kebaktian satu per satu, apa alasan mereka tidak mau dapat ke persekutuan pemuda. Mereka menjawab bahwa mereka datang dari kota sekitar Jakarta dan tidak cukup waktu untuk mengejar waktu mengikuti persekutuan pemuda di sore hari, mereka biasanya sudah kelelahan. Jawaban mereka berbeda dari yang dikemukakan oleh teman-teman aktivis pemuda. Mereka tidak lebih mencintai dunia ketimbang Tuhan atau digoda oleh setan. Lalu saya melakukan survei kedua dengan pertanyaan yang lebih mudah. Saya menanyakan apakah mereka akan menghadiri persekutuan pemuda jika persekutuan tersebut diadakan pada jam sesudah ibadah pagi. Banyak dari mereka yang menyatakan kesediaannya. Sesudah saya mengubah jam persekutuan dari sore hari menjadi sesudah ibadah pagi, jumlah orang yang hadir dalam persekutuan pemuda membludak tiga kali lipat.
Ada tempat bagi data dan penelitian empiris. Tidak semua hal harus dirohani-rohanikan. Ini juga yang menjadi pemikiran Donald McGravan. Mengapa orang datang atau tidak datang ke gereja. Adakah hasil risetnya? Ia menemukan bahwa, di India, tidak seperti di budaya Barat, banyak orang tidak menerima Kristus secara pribadi, namun secara komunal. Pada saat seorang pemimpin kelompok bertobat, seluruh kelompok bertobat. Bagaimana mengubah penginjilan agar tidak lagi memenangkan pribadi demi pribadi, namun memenangkan kelompok.
Ia menggagas gerakan bernama People Movement. Di dalam pendekatan ini, dalam menginjili, kita tidak mengubah gaya mereka menjadi gaya orang Barat. Sebaliknya, kita mencoba mengenali ciri khas dan budaya setempat, tidak mengubah hal-hal tersebut. Pada saat mereka menjadi Kristen, mereka tidak harus membuang akar budaya mereka. Ia kemudian mengembangkan konsep unit homogen. Saat kita memasuki komunitas dengan banyak orang kulit putih, kita membuat gereja untuk orang kulit putih. Dalam komunitas dengan banyak pemuda, kita membuat gereja untuk pemuda. McGavran menyarankan pendekatan yang lebih empiris untuk memulai gereja. Aplikasi dalam zaman sekarang, misalnya, anak muda di kota memiliki budaya menyukai musik jazz, rock, dan pop. Gereja jangan memaksa mereka belajar himne, tetapi masuk dari jenis musik yang disukai mereka.
McGavran kembali ke Amerika dan menjadi dosen misi di seminari Fuller. Dia memiliki seorang murid bernama Peter Wagner. Wagner mengembangkan konsep McGavran dari untuk misionaris menjadi untuk membangun gereja di kota. Dia melakukan kontekstualisasi yang bersifat pragmatis. Meminjam sosiologi, marketing, dan medis untuk melakukan riset. Misalnya, ia membuat tes standar untuk mengklasifikasikan karunia roh pada diri seseorang.
Wagner mengajar bertahun-tahun di Fuller dan mempengaruhi banyak orang. Di sana, ia mulai tertarik dengan gerakan Karismatik. Dalam gerakan Karismatik, cara manajemen gereja mereka berasal dari Church Growth Movement. Mereka menjalankan gereja berdasarkan filsafat seeker-sensitive. Hal ini dikarenakan oleh pengaruh Peter Wagner. Wagner bertemu dengan John Wimber dan mengatakan bahwa mujizat dapat digunakan di depan untuk menarik orang datang, sesuai dengan pendekatan Church Growth Movement. Wagner juga mempopulerkan istilah spiritual warfare yang sangat Karismatik.
Sebagian orang Reformed seperti Mark Driscoll juga mengadopsi Church Growth Movement. Di dunia Barat, selain pemikir seperti McGavran dan Wagner, muncul pula praktisi-praktisi Church Growth Movement. Tahun 1950-an McGavran mulai merumuskan teorinya. Tahun 1970-an dia menerbitkan bukunya Understanding Church Growth Movement. Di tahun 1955, ada seorang bernama Robert Schuller.
Ironisnya, Robert Schuller awalnya merupakan seorang pendeta Reformed. Dia sedih melihat gereja tidak berkembang dan memikirkan bagaimana agar gereja dapat berkembang. Secara teologi, ia dipengaruhi oleh teologi positive thinking. Dia mengatakan bahwa gereja terlalu banyak memberitakan hal-hal yang negatif seperti penghakiman, dosa, dan penghukuman. Dia melakukan riset, menanyakan mengapa orang tidak datang ke gereja, mengetuk pintu-pintu rumah di Orange County satu per satu.
Nantinya, hal ini akan menjadi ciri khas gereja yang mengadopsi Church Growth Movement, di mana gereja mengambil peran sebagai penyedia smart solution untuk “pelanggannya” (jemaatnya). Jika BCA mau menyediakan smart solution untuk pelanggannya, hal ini cocok. Namun jika gereja bersikap demikian, di mana kita meletakkan Tuhan (dan solusi yang ditawarkan-Nya)?
Schuller menemukan alasan mengapa orang-orang tidak mau datang ke gereja: oleh karena gereja terlihat seperti gereja. Anda melihat aplikasinya pada zaman sekarang: gereja tidak lagi terlihat seperti gereja, lebih terlihat mirip dengan mal. Orang lebih suka pergi ke mal, bioskop, dan konser daripada gereja. Maka bagaimana membuat orang mau datang ke gereja adalah dengan membuat gereja tidak lagi terlihat seperti gereja. Kita melihat suatu gerakan arsitektur yang disebut Walmartism, karena gereja sekarang mirip Walmart, yang penting besar dan dapat memuat banyak orang. Jika hari ini masuk ke auditorium gereja tanpa melewati pintu masuknya, Anda mungkin tidak akan tahu bahwa Anda sedang berada di dalam gereja. Tidak lagi ada salib atau ornamen-ornamen lain yang menandai bahwa ruangan tersebut ruangan ibadah gereja.
Gereja yang tidak terlihat seperti gereja. Ini yang dilakukan oleh Robert Schuller. Bagaimana mendesain gedung gereja agar tidak seperti gereja, untuk membuat orang merasa nyaman. Orang mengatakan bahwa mereka bekerja dari Senin sampai Sabtu, melihat orang mengenakan pakaian formal. Maka hari Minggu, kebaktian gereja diadakan, orang-orang memakai baju santai. Kenapa tidak memberi tato pada badan agar kita menjadi lebih mirip dengan orang muda masa kini? Kami merasa dihakimi! Maka Schuller menggagas agar gereja tidak banyak memberitakan pesan, dan kalaupun memberikan pesan, harus bersifat positif. Semua ini berakar pada filsafat bagaimana membuat orang merasa nyaman pada saat datang ke gereja. Ini berkontras dengan gereja Reformed yang menekankan eksegesis.
Di GRII, kita terkesan menuntut jemaat dengan banyak pelayanan dan juga meminta mereka memberikan persembahan. Kesan yang sama juga ditemukan dalam penelitian Robert Schuller. Oleh karena itu, ia membuat jemaat tidak wajib memberikan persembahan. Namun gereja berbisnis untuk mendapatkan sumber penghasilan baru, seperti lewat acara televisi berjudul The Hour of Power. Gereja yang tidak menuntut jemaat. Jemaat hadir dan dilayani. Gereja menyediakan tempat nyaman seperti kafe. Ada sebuah gereja di Jakarta yang mengadakan ibadah di kafe dan saya mendapatkan iklan untuk mengundang orang hadir dari gereja ini. Ini adalah aplikasi ekstrim bagaimana pendengar menjadi yang utama.
Pesan Robert Schuller dipengaruhi oleh gurunya yaitu Norman Vincent Peale. Dia adalah orang yang menggagas positive thinking. Schuller mengadopsinya menjadi possibility thinking. Pak Tong sudah pernah mengkritik keduanya. Saya ingin memberikan kerangka darimana kedua pemikiran ini berasal.
Pada abad ke-19 ada sebuah gerakan bernama New Thought Movement berasal dari seorang bernama Phineas Quimby. Dia memengaruhi orang-orang seperti Ralph Waldo Emerson. Quimby memiliki konsep bahwa dunia materi itu ilusi. Orang sakit bukan karena fisik melainkan mental. Dan kesembuhan bersifat rohani, bukan fisik. Pikiran ini diterima oleh seorang bernama Eddy Mary Baker. Dia adalah penggagas Christian Science. Dan dia melakukan penyembuhan ilahi melalui pikiran dan doa. Dan ini memengaruhi banyak kegiatan penyembuhan ilahi di abad ke-20. Napoleon Hill mengadopsi pikiran Quimby dan mengaplikasikannya dalam area bisnis. Anda yang berusia cukup lanjut mungkin pernah mendengar mengenai Multi-Level Marketing (MLM) dan bukunya Think and Grow Rich. Sebagaimana mahasiswa yang cekak keuangan pada waktu itu, saya disuruh ikut MLM dan membaca bukunya.
Ide buku tersebut sederhana: pikiran kita seperti magnet. Jika Anda berpikir Anda kaya, maka Anda akan kaya. Jika Anda berpikir Anda orang gagal, maka Anda akan menjadi orang gagal. Alam semesta beresonansi dengan cara Anda berpikir. Cara berpikir tersebut umum di zaman sekarang. Berbagai buku seperti Psychology of Money dan The Secrets menawarkannya. Motivator seperti Anthony Robbins, Oprah Winfrey, dan Andrew Tate memopulerkannya. Mereka semua memiliki logika yang sama: pikiranmu menarik uang datang. Yang celaka adalah orang Kristen Reformed berpikir demikian pula. Napoleon Hill membawa cara berpikir tersebut ke dunia bisnis. Norman Vincent Peale mengawinkan konsep ini dengan kekristenan dan mendapatkan bentuk dalam pengajaran gereja melalui Robert Schuller. Ini bukan injil, melainkan self-esteem yang ditunjang oleh teori-teori dunia.
Seminari Fuller berlokasi dekat dengan gereja Robert Schuller. Pada tahun 1970-an, Wagner dan Schuller bertemu dan bekerja sama. Schuller mendapatkan teori menjelaskan apa yang ia kerjakan. Wagner mendapatkan bukti dari teori yang dikemukakannya.
Kita sekarang akan membahas bagaimana teori dan praktek ini menyebar ke seluruh dunia. Wagner mempunyai murid yang mengambil program doktoral di Seminari Fuller, berada langsung di bawah bimbingan Wagner, yang bernama Rick Warren. Rick Warren mulai membangun gereja di Saddleback menggunakan seluruh teori yang ia terima dari Wagner dan Schuller. Saudara dapat membaca buku Purpose-Driven Church dan mendapati konsep yang sama diajarkan dalam buku tersebut. Warren pergi menyurvei dari rumah ke rumah menanyakan kenapa seseorang tidak mau pergi ke gereja dan jika ia mau pergi ke gereja, gereja macam apa yang ia ingin datangi. Dari sana ia membuat segmentasi pasar, menanyakan grup homogen apa yang akan ia sasar. Siapa yang bisa masuk ke gereja Saddleback dan siapa yang tidak bisa. Memang nantinya gereja Saddleback membesar dan mampu menampung banyak segmen. Namun, pada masa awalnya, Rick Warren harus memilih segmen mana yang menjadi sasarannya.
Di dalam pemasaran, Saudara mengenal istilah positioning. Warren memposisikan gerejanya untuk menarik bagian segmen pasar tertentu. Ia membuat avatar bagi gereja Saddleback bernama “Sam”. Sam adalah seorang yang kasual, anti-formal, tidak membutuhkan yang rumit-rumit, ia datang ke gereja untuk menikmati ibadah. Sam menyukai musik pop, suka kopi, dan suka hangout dengan teman-temannya. Warren mulai menyasar orang-orang seperti Sam untuk dimenangkan. Ia tidak mengubah mereka ke budaya yang lain. Orang di kota memiliki budayanya sendiri. Ia akan mendatangi Sam di mana Sam berada dan Sam tidak perlu mengubah dirinya. Ia tidak memberikan beban tambahan kepada Sam yang sudah lelah bekerja dari Senin hingga Sabtu. Di sini, lahirlah gereja yang seeker-sensitive.
Salah satu kontribusi Wagner adalah ketika ia mengatakan gereja tidak boleh puas hanya dengan berelasi di dalam, melainkan harus menjangkau ke luar. Tetapi ketika orang luar masuk, mereka tidak merasa diterima. Mereka merasa kita tidak berbicara dengan bahasa yang mereka dapat mengerti. Suatu kali seorang beragama Budha mengikuti kebaktian yang saya pimpin di gereja. Seusai ibadah, saya mendatangi dia untuk menanyakan kalau-kalau dia memiliki pertanyaan. Ia menanggapi dengan bertanya, “Pak, apa itu darah domba? Apa hubungannya darah domba dengan Yesus?” Bagi kita, istilah darah domba merupakan istilah yang biasa dan kita mengenal hubungannya dengan Yesus Kristus. Tidak demikian bagi orang bukan Kristen, apalagi ketika dijelaskan bawah darah domba digunakan untuk membersihkan dosa.
Seeker-sensitive adalah merasakan ada orang-orang seperti itu di gereja. Terkadang seorang pengkhotbah mengkritik orang ateis dan orang-orang agama lain. Orang seeker-sensitive akan berkata, “Coba Anda ada di sana, menjadi orang tersebut, apa yang Anda rasakan?” “Bayangkan jika orang tersebut ada di depan mata kalian, akankah Anda mengkritik dengan cara yang sama?” “Ingatlah ada orang-orang semacam itu di antara pendengar”. Ada hal-hal yang dapat kita pelajari, namun logika seeker-sensitive ini mengganti kedaulatan Tuhan dengan selera orang-orang yang mendengar.
Warren mengatakan mereka tidak benci Kristus, melainkan bagaimana gereja menampilkan Kristus. Apa solusinya? Ganti pakaian pengkhotbah. Ke mana pun Anda melihat Rick Warren pergi, dia tidak pernah mengenakan jas, melainkan selalu mengenakan baju santai. Di salah satu acara di Korea, Rick Warren hadir (Pak Tong diundang). Di tengah semua orang yang mengenakan jas, kita melihat Rick Warren mengenakan baju santai. Pilihan ini tidak netral, tetapi dihasilkan oleh filsafat teologi yang dipegangnya.
Jadi, jika Anda menanyakan kepada saya, “mengapa Anda tidak mengenakan jeans” atau “mengapa Anda tidak ditato?” atau “mengapa Anda tidak memakai sepatu futsal?” Ini bukan sekedar masalah baju, tetapi masalah filsafat pelayanan. Bukan juga kita anti lagu kontemporer, karena kita banyak memasukkan lagu-lagu kontemporer ke dalam daftar lagu gereja kita, termasuk lagu-lagu kontemporer buatan Pak Tong.
Dengan demikian, mengganti penampilan bukanlah solusi. Mengubah mimbar menjadi lebih kecil, mengganti organ dengan band, himne dengan musik pop, pesan doktrinal dengan pesan praktis dan relevan. Pertanyaannya, apakah benar semua itu hanya mengganti kemasan? Media yang Anda gunakan merupakan pesan itu sendiri. Demikian pula sebaliknya, bentuk yang Anda ambil dan Anda jalankan akan mengubah teologi di dalam diri Anda. Intinya, seeker-sensitive adalah gereja yang berangkat dari kebutuhan pasar. Klien kita adalah raja. Warren mempengaruhi seluruh dunia. Ke mana pun ia diundang, ia membagikan mengenai Church Growth.
Orang kedua yang mempopulerkan Church Growth Movement ke seluruh dunia adalah Bill Hybels dari gereja Willow Creek. Ia mensistematisasikan pendekatan Church Growth. Intinya ada tiga. Pertama, gereja harus nyaman. Kedua, gereja tidak boleh mengintimidasi. Ketiga – yang saya anggap menarik – gereja harus menarik semua golongan. Willow Creek menyediakan begitu banyak program untuk kebutuhan jemaat. Anak Anda ingin belajar bahasa Mandarin? Ada programnya. Pelatihan kepemimpinan? Ada. Memanjat tebing? Ada juga. Berenang? Juga ada. Mereka begitu profesional dan menyediakan semua jenis program.
Kita tidak dapat meremehkan kekuatan model semacam ini. Model semacam ini sungguh menghasilkan sesuatu yang nyata. Gereja seolah-olah menjadi solusi dari semua kesulitan masyarakat. Dan memang orang-orang tidak percaya jadi tertarik untuk datang ke gereja. Program yang kaya dan manajemen gereja yang rapi. Model semacam ini juga mempengaruhi orang-orang Reformed.
Salah satu orang yang sudah saya sebutkan adalah Mark Driscoll. Ia sangat terkenal dan sempat diundang oleh orang-orang Reformed yang ketat di mana-mana. Ia mengatakan saya tidak mau menjadi seeker-sensitive. Saya ingin teologi Reformed. Saya tidak ingin jemaat menjadi lembek. Jika Anda mendengarkan Mark Driscoll, Anda akan mengira bahwa Mark Driscoll bukan seorang seeker-sensitive. Dia berkhotbah selama satu jam dan berbicara doktrin yang menegur dosa, dengan pesan yang sulit. Ini adalah contoh seorang yang mau isinya Reformed, tetapi bentuknya tetap merupakan seeker-sensitive. Dia ditato dan dia memiliki gaya kasual. Dia memiliki gaya yang seeker-sensitive. Gerejanya berkembang dengan sangat pesat. Hanya dalam beberapa tahun jumlah cabang gerejanya berkembang dari 50 menjadi 400.
Namun ada masalah yang kemudian muncul, masalah yang sama yang juga menimpa banyak pemimpin gereja yang lain: ia mulai jatuh dalam skandal. Dia mulai menikmati kepemimpinan tunggal. Schuller akhirnya jatuh karena ada perpecahan dalam keluarganya dan dia menjadi bangkrut. Bill Hybels kena skandal. Lalu, Rick Warren baru-baru ini terjadi perdebatan karena doktrin tidak kental namun ia masih mengaku dirinya Baptis.
Mark Driscoll juga terkena skandal. Apa bedanya Mark Driscoll dengan Pak Tong? Pak Tong membuat berbagai macam lapisan kepemimpinan yang begitu banyak. Untuk teologi ada STT. Dan di STT Pak Tong menyiapkan orang-orang yang sungguh berkualifikasi dalam hal teologi. Di gereja, Pak Tong membuat sinode, konstitusi, dan lain sebagainya. Setiap cabang juga diberikan semacam keleluasaan otonomi. Sebaliknya, Driscoll meminta semua cabang untuk melakukan relay kepada dia setiap minggu. Maka, sekalian pernah gerakan Young Restless Reformed ini besar, pelan-pelan semakin ditinggalkan orang.
Kita kemudian berpikir, apa yang dapat kita lakukan? Apa yang seharusnya menjadi kebijakan gereja Reformed Injili? Pak Tong tidak akan akan pernah mengajarkan kita untuk hanya mengikuti apa yang diinginkan orang. Tetapi, kita juga tidak bisa hanya bersikap kaku dan memberi kepada orang apa yang kita miliki sekarang, tanpa mendengarkan mereka. Kita dapat memulai dengan mengenal kekayaan yang kita miliki. Jika kita memiliki sebuah arloji yang berharga lima milyar rupiah, namun kita tidak mengetahui harga arloji kita, maka kita tidak akan merasa kaya. Tetapi jika kita mengetahui nilai arloji tersebut, kita akan merasa kaya.
Saya tertarik ketika membaca buku yang menjelaskan filsafat Steve Jobs ketika ia menjalankan Apple. Dalam dunia desain, Steve Jobs cukup doktrinal. Dia menolak pendekatan fokus pasar. Ketika ia mengeluarkan iPod, semua di rapat tidak setuju iPod dirilis. Steve Jobs berpendapat bahwa Apple tidak boleh terus mengikuti pasar, kalau tidak Apple akan mati. Sebaliknya, Ia berpendapat pasar harus dididik. Pasar harus mengetahui bahwa apa yang akan dirilis oleh Apple akan dibutuhkan. Dan Steve Jobs terbukti benar. Anda mungkin ingat dulu laptop memiliki CD ROM, ada colokan untuk berbagai macam hal. MacBook membuang semua itu. Pasar mengatakan, “kalau begitu kita tidak akan beli!” Steve Jobs membalas, “Saya ingin mendidik kamu untuk mengetahui bahwa kalau semua itu dihilangkan, Anda akan mendapatkan banyak hal yang lain”.
Saya kira ada kesamaan antara Steve Jobs dan Pak Tong. Kita diajari mengenai keindahan dan kita juga mendidik masyarakat untuk melihat keindahan yang kita lihat. Selera turut dibentuk melalui pendidikan. Kita menyadari bahwa hal tersebut tidak mudah. Menunggangi pasar lebih mudah daripada membentuk selera yang baru.
Saya mengambil contoh mengenai ibadah. Sudah diramalkan semenjak 10 tahun yang lalu bahwa orang akan mulai merasa kering dengan ibadah Protestan kontemporer. Sudah diramalkan akan muncul kebangkitan katolik dan ortodoks. Maka semenjak 10-15 tahun lalu saya sudah mengatakan, kita tidak seharusnya merasa minder sebagai orang Reformed, suatu hari swing dari tren akan kembali kepada yang klasik. Dan itu benar-benar terjadi, termasuk di Indonesia. Orang semakin haus akan liturgis yang mengandung simbol dan ikon. Meskipun belum terlalu banyak, namun gejalanya sudah mulai terlihat.
Masalahnya bukan pada tren. Masalahnya apakah kita memahami apa yang kita lakukan? Tahukah Saudara bahwa Martin Luther dan Yohanes Kalvin tidak hanya mereformasi doktrin, melainkan juga ibadah dan liturgi? Itu yang membuat liturgi kita berbeda dengan Katolik. Dan disanalah mungkin seharusnya kita meletakkan perhatian kita dan menggali. Dan para reformator tidak ngawur. Mereka melakukan studi teks kuno termasuk dari bapa gereja Justin Martyr yang mencatat bagaimana kebaktian diselenggarakan di gereja mula-mula. Alih-alih kita mencari solusi pragmatis, mari kita menggali kekayaan sejarah Reformed sebagaimana Ishak menggali sumur. Ada begitu banyak kekayaan yang diwariskan oleh nenek moyang kita dan kita perlu menggalinya dengan rajin.
Dan saya tutup khotbah hari ini dengan kulminasi dari seeker-sensitive yaitu celebrity culture. Seeker-sensitive dan celebrity culture bertemu di abad ke-21. Yesus terkenal. Paulus terkenal. Billy Graham terkenal. Martyn Lloyd Jones terkenal. Stephen Tong terkenal. Tetapi mereka bukan punya mental selebriti. Bukan berarti semua orang terkenal memiliki mental selebriti. Apa itu mental selebriti? Cukup punya satu orang terkenal di gereja, semua orang akan datang mencari dia. Zaman sekarang, orang mencari pendeta tidak lagi menanyakan mengenai karakter, lahir baru, dan bagaimana ia menangani masalah jemaat, melainkan berapa banyak follower-nya. Dan ini fakta. Ada seorang yang punya follower begitu banyak di Jakarta. Begitu subscriber-nya banyak, dia keluar dari gereja induk dan mendirikan gereja yang baru di mana-mana. Sekali ia membuka, tidak usah melakukan penginjilan atau pemuridan, langsung didatangi 1500 orang. Saudara diminta masuk kampus, dibina melalui kelompok OSG, persiapan menjadi penatua satu tahun, ikut STRIIJ, mengambil kelas teologi intensif, menjadi panitia SPIK, mendistribusikan brosur di jalan-jalan, yang datang kenapa tidak sampai 1000 orang? Mungkin kita salah menggunakan pendeta, seharusnya kita mencari pendeta yang punya jumlah subscriber 300 ribu orang. Saya tinggal menikmati gereja dan 2000 orang sudah akan datang dengan sendirinya. Sayangnya ini yang menjadi wajah gereja sekarang.
Mari kita kembali kepada kitab suci. Apa itu church growth? Seperti yang diajarkan oleh Pak Tong. Penginjilan. Didik anak sekolah minggu baik-baik. Belajar teologi mati-matian. Didik anak-anak remaja dan pemudamu. Gembalakan jemaat. Lakukan pelayanan diakonia. Dan meskipun pelan, kita akan terus bertumbuh.