Sesi 3
Efesus 1:18-23
Saudara, sangat menarik dalam pola pikir Yahudi, ada dunia di sini (fisik) dan dunia yang tidak kelihatan. Di tengah-tengahnya ada pertemuan antara dua dunia ini. Ini merupakan sesuatu yang membekas dalam banyak budaya; tidak ada budaya yang tidak mengikuti pola seperti ini. Ada yang terlihat dan tidak terlihat, dan ada pertemuan antara keduanya. Di Taman Eden, gambaran yang diberikan di kitab Kejadian adalah bahwa tempat ini adalah titik pertemuan dua dunia ini. Ada manusia, ada binatang, tanaman, tapi juga ada malaikat. Ada Tuhan yang berjalan dengan manusia, dan pada akhirnya saat mereka diusir, ada Kerub (malaikat) yang berjaga-jaga dengan pedang.
Sulit bagi kita untuk menghilangkan imajinasi ini. Kita tidak hanya bisa menerima kenyataan dari apa yang diselidiki secara fisik. Kalau ada orang yang mengatakan bahwa yang penting hanyalah apa yang diselidiki secara fisik (materi dan energi) dan yang lain-lain tidak penting, itu keliru. Bagian seperti imajinasi, proyeksi masa depan, dan kreativitas bukanlah bagian dari materi dan energi. Banyak orang mengatakan bahwa tanpa aspek estetika dan imajinasi, manusia tidak akan mengembangkan sains dan teknologi. Banyak orang yang memajukan dunia sains adalah orang-orang yang memiliki imajinasi besar. Mereka menolak mengatakan bahwa, “ilmu memang cuma segini.” Mereka akan selalu berpikir, “sepertinya harus ada cara lain.” Begitu ada sudut pandang baru yang ditemukan, terjadilah revolusi. Revolusi tidak terjadi hanya karena ada tambahan pengetahuan, tetapi karena ada sudut pandang yang tidak biasa. Sudut pandang itu tidak didapat dari data atau riset saintifik semata, melainkan dari imajinasi.
Dunia yang tidak kelihatan itu memang ada. Tapi yang jadi masalah adalah bagaimana kita mengakses dunia yang tidak kelihatan tersebut? Terlalu banyak cerita aneh tentang hal-hal yang tidak kelihatan, sehingga orang cenderung meremehkannya. Beberapa kali pengalaman saya melayani di beberapa cabang GRII, selalu ada cerita-cerita yang kurang bisa nyambung dengan kenyataan ilmiah. Ketika saya di Malang, saya tinggal di rumah tua, dan mungkin ada 15 versi cerita yang mengerikan tentang rumah itu. Ketika saya mendengar cerita-cerita itu, saya menepisnya. Tapi saya heran, kenapa cerita itu muncul di pikiran saat saya tidur di tengah malam? Suatu kali pukul 11.30 malam saya terbangun karena mendengar suara seorang perempuan. Saya tidur lagi. Lalu pukul 5 pagi saya bangun dan kaget, “Suara apa itu?” Mulailah saya kepikiran semua cerita itu. Katanya ada Nyonya Belanda yang dulu tinggal di situ, yang hobinya jalan-jalan dan cuci piring. Selalu kedengaran suara piring dicuci, tapi piringnya tidak pernah bersih, jadi dia sering komplain kenapa piringnya tidak bersih. Saudara mengerti ya, cerita-cerita begini sering bikin dunia yang tidak kelihatan seolah jadi tidak penting. Akhirnya orang berpikir, “Sudahlah, mari berpikir secara ilmiah saja. Ada data, penyelidikan ilmiah, dan penjelasan yang cukup. Mau Nyonya Belanda, Prancis, Belgia, terserah.” Tapi Saudara, versi cerita mistis yang salah itu tidak membuat dunia yang tak kelihatan menjadi tidak penting. Banyak orang salah mengerti; karena melihat gereja salah, maka dianggap gereja tidak penting. Karena ada versi cerita yang salah tentang dunia gaib, maka dianggap dunia roh tidak penting. Padahal dunia tak kelihatan sangat penting, karena Alkitab membahasnya berkali-kali dan ini menjadi landasan.
Di Perjanjian Lama (PL), ada dunia para malaikat. Yang menarik, dunia malaikat ini berkaitan erat dengan dunia manusia. Apa yang terjadi di surga berkaitan erat dengan apa yang terjadi di bumi. Bahkan sering ditekankan, ada peperangan di bumi karena ada peperangan di surga. Kitab Wahyu menyatakan bahwa ada peperangan antara Mikael dan Iblis. Di dalam kitab Daniel, ada malaikat bernama Gabriel. Kalau kita lihat dalam tradisi Yahudi, Gabriel ini berkaitan erat dengan peperangan. Gabriel bertugas membangkitkan para pemimpin dunia sesuai perintah Tuhan, lalu para pemimpin itu digerakkan oleh firman Tuhan. Misalnya, Raja Nebukadnezar menyerang Israel karena Gabriel membangkitkan dia untuk menghukum Israel. Gabriel turun dari surga untuk mengurus pemimpin-pemimpin politik.
Bisa dibayangkan ketika Gabriel disuruh menemui seorang perempuan muda di Nazaret? Mungkin dalam hatinya dia bertanya, “Kenapa remaja ini yang dapat pesan dari Tuhan? Biasanya saya urusannya sama Nebukadnezar, Koresh, Darius, atau Prabowo. Kok sekarang young lady?” Tapi ketika Gabriel diberikan pesan yang jauh lebih penting dari semua raja di bumi, barulah dia mengerti bahwa perempuan ini akan menjadi The Mother of all Kings (Ibu dari segala raja). Makanya saat Gabriel menampakkan diri kepada Maria, Maria juga kaget mengapa malaikat menghampirinya.
Mari kita mundur sedikit ke kitab Daniel. Gabriel muncul beberapa kali setelah Daniel berdoa. Sebelumnya, Daniel membaca firman (kitab nabi-nabi) tentang pemulihan Israel 70 tahun setelah pembuangan. Setelah berhitung, sudah hampir 70 tahun, yang berarti Tuhan akan segera memulihkan Israel. Tapi Daniel merasa Israel belum benar-benar bertobat dan menyembah Tuhan di Babel. Jadi dia khawatir masa 70 tahun ini akan diperpanjang karena Israel belum menjadi bangsa yang kudus. Maka ia berdoa agar Tuhan mengampuni dosa mereka dan nenek moyang mereka. Setelah itu, Tuhan mengutus Gabriel untuk berbicara kepada Daniel. Gabriel membawa pesan bahwa kesulitan masih akan datang, dan akan ada satu orang benar yang disingkirkan walau tidak bersalah. Gabriel lalu berkata, “Tahukah kamu, saya sebenarnya sedang berperang, lalu disuruh datang kepadamu. Aku sedang menghadapi raja-raja Persia. Karena engkau adalah orang yang sangat dikasihi, aku disuruh pindah dari medan perang untuk menemuimu.” Menarik bahwa dalam interpretasi Yahudi, “raja-raja Persia” di sini bukanlah manusia, melainkan kuasa gelap/setan yang mencoba menggagalkan tujuan Tuhan di Persia.
Tuhan mau memakai Raja Koresh dari Persia untuk mengembalikan Israel agar bisa membangun Bait Suci lagi, dan iblis mau mengacaukan ini. Maka Tuhan mengirim Gabriel untuk berperang melawan iblis. Jadi, dalam pandangan Yahudi, ini berkaitan dengan peperangan di udara/surga. Saat Tuhan mau pakai Persia, setan menghalangi, dan Gabriel melawan setan. Terjadilah perang yang besar. Tiba-tiba Tuhan menyuruh Gabriel, “Pergi dulu dari perang, ada tugas lain.” Gabriel mungkin bingung, “Saya lagi di tengah-tengah perang besar lho!” Tuhan berkata, “Saya sudah kirim pengganti. Mikael akan bantu perang.”
Tapi Mikael pasti juga sedang sibuk di posisinya. Kalau Mikael pindah, siapa yang ganti posisinya? Ini efek domino spiritual (ini agak mirip dengan pergerakan hamba Tuhan di GRII; Pak Tong pindahkan satu hamba Tuhan dari sini, siapa yang ganti posisinya? Oh, orang ini bisa. Tapi tempat lamanya bagaimana? Wah susah, apa biar Mikael saja yang isi). Saudara, apa yang didapatkan Daniel itu begitu penting, sehingga peperangan besar di surga menjadi hal yang sekunder (secondary). Nubuat firman Tuhan jauh lebih penting. Banyak dari kita saat baca firman merasa sedang dalam “perang”. “Oh, saya ada masalah keluarga. Tetangga curi tempat parkir terus, ribut. Akhirnya susah fokus dengar firman.” Tapi Tuhan berkata kepada Gabriel, “Hentikan perang. Mikael akan menggantikanmu. Kamu punya tugas baru.” – “Oke Tuhan, saya akan pergi ke tempat setan itu pindah.” – “Bukan, cukup berikan surat ini kepada Daniel.” Lalu Gabriel mengerti bahwa Daniel sangat dikasihi Tuhan. Gabriel menemuinya dan berkata, “Daniel, engkau sangat dikasihi Tuhan. Aku diberi pesan untukmu, supaya kamu tahu apa yang akan terjadi di masa depan.”
Jadi, di balik sejarah manusia, ada peperangan di surga. Apa isu utamanya? Sederhana sebenarnya. Ada satu pribadi yang diberi posisi sangat penting, tapi dia ingin menjadi tuhan. Kitab Yesaya dan Yehezkiel membahas tentang ini. Dalam interpretasi Yahudi (meski tidak biblikal tapi memberi perspektif yang kaya), Kerub adalah ciptaan yang tertinggi. Dia memiliki keindahan dan kekuatan terbesar. Dikisahkan bahwa Kerub memiliki empat karakteristik yang menunjukkan kehebatannya: Hikmat yang melampaui manusia, kekuatan seperti lembu/kambing jantan, kemuliaan seperti singa, kecepatan seperti rajawali (atau kelincahan seperti ular). Tugas semua Kerub adalah berjaga-jaga di tempat kemuliaan Tuhan. Mereka adalah makhluk terkuat, tapi tugasnya “hanya” menjaga. Beda dengan malaikat lain (seperti Gabriel) yang kekuatannya mungkin tidak sebesar Kerub, tetapi tugasnya banyak bersinggungan dengan sejarah manusia. Siapa yang bisa memicu pergolakan politik? Gabriel, bukan Kerub. Siapa yang bisa menyentuh raja-raja di dunia? Para malaikat biasa, bukan Kerub.
Sekali lagi, ini dari tradisi Yahudi, yang mencoba memberikan penjelasan logis: Banyak Kerub merasa, “Saya punya kuasa lebih besar dari malaikat seperti Gabriel. Tapi saya tidak punya pengaruh pada politik dunia, dan tidak ada raja yang dipengaruhi oleh saya. Maka saya harus merebut posisi itu dan menghancurkan manusia.” Ini menjelaskan mengapa si jahat mulai bekerja setelah sejarah manusia dimulai. Pembagian tugas ini tidak memuaskan Kerub yang memberontak. “Saya tidak puas hanya berjaga di dekat kemuliaan Tuhan. Kemuliaan Tuhan tidak penting bagi saya, yang penting saya dapat kuasa.” Padahal dia tidak mengerti bahwa posisinya adalah yang paling terhormat. Dia berada paling dekat dengan takhta dan kemuliaan Tuhan. Tapi pikirannya berpusat pada diri sendiri: “I care about my power. I care about my influence. I care how I can have wars to move history.” Dia lupa bahwa peperangan dan sejarah terjadi karena Tuhan yang bekerja di baliknya. Malaikat hanyalah alat, bukan inisiator. Tapi Kerub ini ingin mengambil kuasa dan ingin menjadi seperti Tuhan. Maka Tuhan berkata, “Waktu Aku sadar ada kecurangan di dalam kamu, Aku melempar kamu ke bumi/mati.” Sejak saat itu, gerakan dari si jahat adalah untuk menghancurkan manusia.
Tuhan telah menyiapkan Seseorang untuk duduk di takhta-Nya (Sang Mesias). Iblis dan malaikat yang jatuh berkata, “Mari kita buat pergerakan untuk menghancurkan rencana Tuhan, agar kita mendapatkan apa yang kita mau.” Inilah sifat setan: “Saya punya kemauan, harus jadi. Saya punya kepentingan, harus jadi. Yang lain hanyalah alat/bidak catur untuk mencapai kemenangan saya.”
Ketika Tuhan hendak membereskan sejarah agar Raja yang dijanjikan itu bertakhta, Tuhan memilih malaikat-malaikat dengan sangat bijaksana. Kemampuan Tuhan untuk mengatur siapa mengerjakan apa dan menggantikan siapa sangatlah luar biasa. Tuhan adalah pelatih (coach) terbaik, yang tahu kapan harus mengganti pemain dan di posisi mana. Saya ingat satu laga final Liga Champions tahun 1999. Final antara Bayern Munich dengan Manchester United. Saya bukan fans kedua tim ini, karena tim favorit saya tidak masuk final, tapi ini tetap layak ditonton. Keduanya bermain dengan bagus, tapi Bayern unggul 1-0. Masuk ke menit-menit terakhir, pelatih Manchester (Sir Alex Ferguson) memasukkan pemain bernama Solskjaer. Awalnya dia cuma disuruh pemanasan. Solskjaer mungkin melihat jam dan berpikir, “Saya lari bentar udah menit terakhir, mending duduk minum cappuccino.” Tapi tidak ada yang berani melawan Ferguson. Jadi dia masuk ke lapangan saat sisa beberapa menit. Awalnya tidak terjadi apa-apa sampai masuk injury time. Tapi gelombang serangan Manchester sangat kencang, terutama dari sisi sayap. Ada satu serangan diblokir, menghasilkan tendangan sudut. Terjadilah gol, 1-1. Satu menit kemudian, Solskjaer cetak gol lagi, 2-1! Langsung semua orang mengatakan Ferguson adalah the best coach ever.
Saudara, kalau kita melihat sejarah, kadang strategi setan terlihat jauh lebih hebat. Sepertinya kita tidak mungkin menang. Mari kita kaitkan dengan gereja: “Gereja bisa apa? Strategi setan terlalu besar, terlalu kuat, terlalu melingkupi segala hal. Terus kita bisa apa?” Ini yang membuat kita bergumul; seolah kita dikurung dan tidak bisa melakukan apa-apa.Tapi harap kita tahu, bahwa peperangan di dunia ini adalah cerminan peperangan di surga. Isu utamanya bukanlah siapa yang jadi presiden, bukan berapa nilai mata uang, atau berapa persen bunga bank. Isu utamanya adalah: Kristus harus bertakhta. Ini strategi Tuhan, dan setan menggunakan segala cara untuk membatalkannya.
Mengapa Iblis sangat menentang? Manusia mungkin tidak sadar, tapi setan tahu: Begitu Kristus bertakhta, manusia akan dipulihkan sebagai gambar dan rupa Allah. Dan ketika manusia dipulihkan, seluruh dunia akan dimenangkan oleh Tuhan. Makanya sejak awal Iblis berusaha menghancurkan dunia. Dia tidak puas hanya menjadi penjaga kemuliaan Tuhan; dia mau jadi penguasa di buminya Tuhan. Dan pada awalnya, dia berhasil mengalahkan manusia. Adam dan Hawa jatuh. Kain jatuh dan membunuh Habel. Dosa masuk ke dalam dunia. Satu per satu manusia dihancurkan oleh dosa dan kematian. Kebudayaan manusia dibangun di atas rasa iri hati, kebencian, dan peperangan. Sementara itu, pekerjaan Tuhan seolah selalu kecil dan tidak berarti. Di zaman Nuh, dari seluruh dunia, hanya Nuh yang Tuhan lihat sebagai orang benar. Kalau kita tinjau strategi Iblis melawan Tuhan, Iblis kelihatan terlalu powerful. Lihat berapa banyak jiwa yang sudah diambil. Tapi Tuhan adalah ahli strategi terbaik. Dia selalu punya satu jalan yang tidak pernah diprediksi oleh Iblis.
Ketika seluruh bumi sudah kacau, Tuhan berbelas kasihan kepada Nuh. Iblis pasti sudah memprediksi, “Kalau sisa delapan orang, apa susahnya menghancurkan satu dari delapan?” Setelah air bah surut dan kebudayaan mulai dibangun lagi, Tuhan memberikan tanda pelangi. Lalu Tuhan menggerakkan Nuh untuk menanam anggur. Saudara mungkin bingung, kenapa anggur? Bukankah kalau baru keluar dari bahtera di bumi yang kering, lebih masuk akal menanam karbohidrat seperti singkong supaya bisa makan?
Dalam budaya Mediterania kuno, anggur adalah simbol akhir zaman dan perayaan kemenangan Tuhan. Saat Nuh menjadi petani anggur, itu adalah simbolisasi kemenangan Tuhan. Iblis seolah merespons, “Oke, silakan buat simbol itu, dan saya akan buat Nuh minum lebih banyak dan mabuk.” Iblis membuat Nuh mempermalukan dirinya sendiri, yang berujung pada salah satu anaknya dikutuk. Simbol kemenangan itu dicoret-coret dan dirusak oleh Iblis. Belum lewat satu generasi, sudah rusak lagi.
Kalau kita belajar sejarah, kita sering merasa sangat kecil dan terus kalah. Kita bangun cabang gereja di satu tempat, setan sudah siapkan 100 strategi untuk menghancurkannya. Gambaran dunia ini sering bikin pesimis. Saya pernah melihat sebuah video sekitar 10 tahun lalu berjudul Heavenly Utopia. Di situ digambarkan lanskap yang sangat indah—ada rumah, tanaman, burung terbang, kupu-kupu, dan anak kecil bermain. Kita merasa tempat ini sangat bagus. Kemudian kamera melakukan zoom out. Setelah gambar melebar, barulah terlihat bahwa dunia kecil yang indah itu sebenarnya berada di atas tangan seekor monster mengerikan yang siap menelannya. Kalau Saudara seumur saya dan dulu sering ke toko kaset di bagian rock/thrash metal, cover kasetnya mirip-mirip monster begitu. Hati kita hancur; tadinya terlihat indah, ternyata mau dihancurkan.
Ini seperti pola hidup kita. Waktu punya anak, pas bayi lucunya bukan main. Begitu besar kok jadi “monster”. Waktu dapat pekerjaan, kita pikir pasti menyenangkan. Beberapa bulan kemudian baru sadar bosnya monster, rekan kerjanya monster, bawahannya juga.
Tapi Tuhan tidak mau kita lupa: Nuh memang jatuh, tapi Tuhan berkata bahwa dari keturunannya akan terus ada yang memegang kovenan (perjanjian)-Nya. Iblis mungkin menghancurkan 99 dari 100 orang, tapi Tuhan berkata, “Aku memang hanya butuh satu untuk menggenapi rencana-Ku.” Kita terlalu takut melihat yang 99 hancur, tapi Tuhan menghibur kita, “Kalau yang satu ini gagal, barulah kamu boleh putus asa.” Dan dalam seluruh sejarah, tidak pernah ada momen di mana Tuhan gagal memelihara yang satu ini. Memang jumlahnya kecil (minoritas), tapi itulah jumlah yang Tuhan perlukan.
Untuk penggenapan final, Kristus lahir. Ini sangat menakutkan bagi setan. “Kok masih berhasil? Saya sudah bikin Israel melawan Tuhan. Bait Suci sudah hancur. Tradisi iman tidak jelas. Keturunan Daud sudah habis. Kok masih ada satu yang namanya Yesus yang ternyata keturunan Daud? Kenapa Mesias masih bisa lahir?” Karena rencana Tuhan jauh lebih besar. Peperangan utama adalah agar Mesias duduk di takhta surga, dan itu sudah terjadi! Inilah yang dipahami oleh Rasul Paulus. Paulus tidak peduli pada detail-detail kecil yang seolah menunjukkan kekalahan Tuhan. Paulus melihat rencana besar Tuhan dan fokus ke sana. Tuhan hanya perlu satu orang ini bergantung di atas salib supaya Iblis kalah.
Ada satu gambaran yang membuat kita sangat bersukacita: Setan tidak punya pilihan. Kalau Iblis tidak membunuh Mesias, maka Mesias hidup dan takhta Tuhan menjadi milik-Nya. Tapi kalau Mesias dibunuh, Tuhan justru menjadikan-Nya Imam Besar dan korban penebusan dosa manusia (menggenapi Imamat Lewi). Saudara, kalau Saudara jadi setan, bagaimana perasaannya? (Jangan dijawab; kalau dijawab, berarti Saudara setan). Setan tidak punya pilihan selain menghancurkan. Kebencian manusia justru menuntaskan rencana Tuhan. Iblis mengipas-ngipasi kebencian para imam, dan Tuhan memakai hal itu untuk menggenapi firman-Nya. Iblis memakai kuasa dunia untuk mengalahkan Tuhan, tapi Tuhan justru memakai hal itu untuk menang! Di dalam segalanya, Tuhan yang menang. Kristus mati, menggenapi korban penebusan bagi manusia. Dia bangkit, dan sekarang duduk di sebelah kanan Allah Bapa. Seluruh peperangan di surga dituntaskan oleh kemenangan Kristus. Peperangan di surga sudah selesai! Iblis gagal mencegah Kristus naik ke takhta Allah.
Karena sudah kalah telak, setan hanya punya satu strategi tersisa: Jika dia harus jatuh, dia akan pastikan menyeret kita bersamanya. Iblis tidak lagi berperang untuk merebut takhta (dia sudah kalah), dia hanya ingin menjatuhkan kita. Maka Paulus mengingatkan gereja: Kemenangan sudah diraih untukmu! Segala harta rampasan perang telah diberikan kepada Kristus, dan semua musuh telah ditaklukkan di bawah kaki-Nya.
Engkau ada di pihak yang menang! Engkau tidak lagi bergumul apakah engkau akan menang atau kalah. Segala kekacauan (chaos) di dunia ini hanyalah upaya Iblis untuk menyeret kita jatuh. Tapi dia tidak bisa mengubah status kekalahannya, dan dia tidak bisa menarik kita keluar dari kemenangan dalam Kristus. Paulus bahkan berkata, “Kita lebih dari pemenang, karena kita ada di dalam Kristus.”
Satu-satunya hal yang membuat engkau stabil dalam dunia ini adalah kebenaran ini. Harap engkau melihat pengharapan yang diberikan kepadamu, kemuliaan bagi orang kudus, dan kuasa besar Kristus di atas takhta-Nya—jauh melampaui segala pemerintah dan penguasa, di masa kini dan masa depan, di bumi dan di surga. Dia sudah menang di surga, dan Dia akan menang juga di bumi. Kita, sebagai jemaat dan tubuh-Nya (Ef. 1:22-23), mewarisi kemenangan ini.
Saudara mungkin berpikir, “Oke, perangnya sudah dimenangkan Tuhan di surga. Terus aplikasinya buat kita di bumi apa? Apa karena kita sudah menang, berarti kalau ketemu preman kita tinggal bilang, ‘Lu anak setan ya? Bapak lu udah kalah, ayo berantem!’ Terus kita dipukul dan kalah, lalu tanya ke saya, ‘Pak Jimmy, emangnya kita sudah menang?’“
Bagaimana cara mengaplikasikan teologi kemenangan Kristus? Seorang teolog Swis pernah berkata bahwa jika teologi tidak bisa diaplikasikan, maka itu sangat buruk. Kebenaran Alkitab tidak mungkin buruk, tapi cara kita mengekspresikannya bisa jadi keliru. Lalu prakteknya seperti apa?
Praktiknya adalah: Manusia bisa menjadi manusia lagi. Dulu kita diperbudak oleh dosa dan setan. Lalu Tuhan mengalahkan setan. Berarti sekarang kita bebas. Tapi Saudara, kebebasan tanpa tujuan artinya tersesat (lost). Seperti orang retret ditanya, “Mau ke mana?” – “Tidak tahu.” – “Lho kenapa tidak tahu?” – “Karena saya bebas.” Bebas tapi tidak tahu arah itu namanya tersesat. “Hore, saya sudah bebas dari dosa, tapi saya tidak tahu mau apa.” Kamu dibebaskan supaya kamu bisa mencapai tujuanmu yang semula. Lalu apa tujuan manusia? Untuk menaklukkan bumi. Kristus sudah menang di surga dan di bumi, dan Dia memanggil kita untuk menang di bumi, yakni berfungsi sesuai tujuan penciptaan kita.
Seorang pakar seni (yang pernah tinggal di Bandung), Hans Rookmaaker, mengatakan: Kristus datang untuk menjadikan manusia kembali menjadi manusia. Apakah sebelum Kristus kita bukan manusia? Secara hakikat kita rusak oleh dosa. Orang berdosa pasti gagal menjadi manusia yang seutuhnya, karena Tuhan menciptakan manusia untuk menaklukkan ciptaan, bukan ditaklukkan oleh dosa. Setelah Kristus menang, kita menggenapi panggilan itu. Kita mulai mengeksplorasi ciptaan Tuhan, meneliti bagaimana mengembangkannya, berpikir bagaimana memanusiakan orang lain, dan bagaimana menyembah Tuhan di dalamnya. Setelah bangsa Israel dibebaskan dari Mesir, hal pertama yang diajarkan adalah bagaimana beribadah (menyembah Tuhan). Sama, setelah Kristus menang, kita dilatih untuk menyembah.
Kenapa butuh ibadah? Supaya kita mengerti seberapa dekat kemenangan Kristus dengan hidup kita. Di dalam ibadah, kita berulang kali diingatkan akan signifikansi kemenangan Tuhan dan mencicipi kemenangan itu. Dari ibadah, hidup kita memancar keluar. Dalam ibadah kita sadar Tuhan hadir, sehingga di luar gereja pun kita sadar Tuhan hadir. Pada abad ke-3 hingga ke-4 Masehi, orang Kristen hidup sangat sulit. Kekaisaran Romawi mulai runtuh dan dijarah oleh suku-suku barbar (seperti Visigoth). Saat itu, banyak orang ingin hidup saleh dan merasa dunia terlalu bising. Mereka menyingkir untuk berdoa dan membaca firman, sehingga muncullah biara-biara (monasteries).
Awalnya isolasi itu hanya untuk berdoa dan berkontemplasi, serta menyiapkan diri untuk bersaksi kepada orang Romawi bahwa berhala itu sia-sia. “Kenapa menyembah pohon, bintang, atau binatang? Itu semua ciptaan Tuhan.” Tapi kemudian muncul pertanyaan: Kalau bukan berhala, lalu apa? Mereka mulai menyelidiki alam ciptaan ini dengan serius. Mitos bilang begini, tapi hasil penyelidikan kami membuktikan lain. Mereka mulai mengembangkan astronomi, botani, kedokteran, bahkan memikirkan ulang teori-teori dari filsuf kuno. Lama-lama, kelompok Kristen ini menjadi pusat riset pengetahuan. Mereka sadar, ketika menyembah berhala, pikiran manusia terkungkung. Setelah menyembah Tuhan yang sejati, pandangan mereka tentang alam ciptaan menjadi jernih.
Berabad-abad kemudian, seiring stabilnya Eropa, biara-biara ini menjadi pusat pembelajaran. Banyak bangsawan yang punya anak nakal mengirim anaknya ke biara. Anaknya stres, “Pa, nanti aku gak boleh nikah lho, Papa gak punya cucu!” Papanya bilang, “Boleh gak anakku ke biara untuk belajar saja, tidak usah jadi biarawan?” Akhirnya banyak orang datang ke biara untuk belajar karena di sanalah pusat ilmu pengetahuan.
Dalam sejarah, muncul seorang raja bernama Charles the Great (Charlemagne). Saat jadi raja, dia kagum melihat orang-orang di sekelilingnya bisa membaca Alkitab. “Ini tulisan ya namanya? Ini pengetahuan tentang Tuhan? Wah, aku mau tahu, gimana caranya?” – “Tuan harus belajar membaca.” Akhirnya dia duduk di kursi dan belajar dari nol. Setelah bisa membaca, dia kaget karena banyak sekali hal penting dari Alkitab. Dia berkata, “Saya mau rakyatku pintar semua. Dari mana orang-orang pintar ini berasal?” – “Biasanya dari gereja dan biara, Tuan” – “Kumpulkan mereka! Kita bikin terobosan pendidikan.”
Dari situlah orang-orang mulai belajar dari mereka yang hatinya sudah kembali kepada Tuhan. Ini adalah cikal bakal Pencerahan di zaman Charlemagne. Hal yang sama terjadi di Inggris era raja Alfred the Great. Dia melihat para misionaris sangat pintar dan bertanya, “Apa yang membuat kalian lebih mengerti dari kami?” Jawabannya sama: “Kami percaya Tuhan, dan Tuhan membebaskan pikiran kami yang sebelumnya dikurung oleh dosa.”
Perkembangan sains dan pencerahan terjadi bukan karena pandangan sekuler atau ateisme. Sekularisme hanya “menumpang” pada kemajuan ini di kemudian hari. Jangan percaya dongeng modern yang berkata bahwa agama bikin bodoh dan Tuhan hanyalah penambal kekosongan (god of the gaps). Kalau kita jujur belajar sejarah, kekristenan punya dampak besar dalam kemajuan peradaban.
Memang ada budaya agung jauh sebelum kekristenan (seperti Mesir dan Babilonia) karena Tuhan memberikan anugerah umum kepada bangsa-bangsa tersebut. Tapi peradaban itu runtuh dan tidak berlanjut. Apresiasi terhadap keberlanjutan ilmu pengetahuan justru dipelihara oleh kekristenan. Makanya umat Tuhan mendapat penghargaan besar dalam sejarah.
Karena Kristus sudah menang, maka kita ingin membebaskan orang lain dari kebodohan, dari pemberontakan terhadap Tuhan, dari kemiskinan, dari penyakit, dari kebudayaan yang kacau, dan dari ketidakadilan. Inilah yang dilakukan gereja: “Aku ingin lingkunganku bebas dari pemberontakan terhadap Tuhan, maka aku ingin menginjili. Aku ingin orang lain menikmati budaya yang dari Tuhan.”
Tuhan memberikan belas kasihan, pengampunan, dan menyingkapkan kemenangan-Nya kepada umat-Nya. Saya harap kita punya mentalitas iman seorang pemenang ketika melakukan pelayanan di gereja. Iman atas kemenangan Kristus tidak membebaskan kita dari kesulitan, tapi iman itu membuat kita tidak pernah kehilangan pengharapan. Kiranya Tuhan memakai kita sebagai gereja-Nya.