Sesi 1
Dalam 1 Kor. 12:12 dikatakan bahwa tubuh itu satu, tetapi memiliki banyak anggota — demikian pula dengan Kristus. Apa yang aneh dari ayat ini? Di sini, penekanan pada yang satu tetapi banyak bukanlah pada gereja, melainkan pada Kristus sendiri. Jadi, Kristus tidak dapat dipisahkan dari tubuh-Nya. Ayat dilanjutkan dengan banyaknya anggota yang berada dalam satu Roh (1 Kor. 12:13). Menurut Agustinus, ini disebut sebagai totus Christus — Kristus secara keseluruhan. Ia harus dipahami dalam totalitas-Nya: Kepala dan tubuh tidak terpisahkan.
Secara rohani, Kristus mengikatkan diri-Nya dengan jemaat-Nya. Dalam teologi Reformed, ini dikenal sebagai union with Christ. Inilah pusat dari spiritualitas dan seluruh aktivitas kita. Semua berkat rohani kita berasal dari kesatuan kita dengan Kristus. Kita mengambil bagian dalam tubuh Kristus. Itulah sebabnya ketika Paulus menganiaya orang Kristen, Kristus berkata bahwa Paulus menganiaya Dia sendiri (Kis. 9:4). Namun, ini tidak berarti kita menjadi Kristus.
Gereja adalah satu-satunya organisasi yang hidup, karena Kepala Gereja itu hidup. Dalam konsep totus Christus, kita tidak dapat memisahkan Kepala dari tubuh. Ini melawan individualisme. Masalahnya, kekristenan sering dipahami secara individualistik. Misalnya: “Saya mengasihi Yesus tetapi membenci gereja,” atau “Gereja penuh kelemahan, tetapi saya hidup untuk Kristus.” Ini adalah kesalahan pertama, mengasihi Kristus tanpa gereja. Kristus tidak pernah terpisah dari gereja.
Ini juga menjadi kelemahan dalam pemikiran Søren Kierkegaard. Ia menekankan bahwa menjadi diri sendiri adalah tugas tunggal seumur hidup manusia dalam ketergantungannya pada Allah. Ia memahami dosa sebagai keinginan untuk menjadi diri sendiri di luar kehendak Allah. Baginya, ini adalah keputusasaan, yang dapat terjadi karena pemberontakan (menolak kehendak Allah dalam hidup) maupun kelemahan (merasa tidak mampu melakukan kehendak Allah). Ia juga menafsir lima gadis bodoh dalam perumpamaan (Mat. 25) sebagai orang yang tidak dikenali Tuhan karena tidak menjadi diri yang dikehendaki Pencipta-Nya. Maka, seorang Kristen harus hidup di hadapan Tuhan (coram Deo).
Jadi, Kierkegaard menekankan kesatuan dengan Kristus, namun ia tidak menekankan pentingnya seseorang masuk dalam tubuh Kristus, yakni gereja. Sebaliknya, Paulus mengajarkan panggilan kita ditemukan di dalam gereja. Kita tahu peran kita sebagai organ tertentu setelah kita masuk dan mengenal tempat kita berada (1Kor. 12).
Kesalahan kedua adalah memandang gereja hanya sebagai organisasi yang terpisah dari Kristus. Gereja berubah menjadi sekadar tempat hiburan, pengembangan diri, atau relasi sosial. Orang tidak mau menjadi anggota gereja, tetapi tetap ingin menikmati manfaatnya. Bahkan baptisan anak menjadi bermasalah, karena itu adalah perjanjian untuk memasukkan anak ke dalam suatu komunitas gereja yang nyata, sementara orang tuanya sendiri tidak berkomitmen pada gereja tersebut.
Tugas gereja adalah menjadi saksi dan membuat Kerajaan Allah yang tidak terlihat menjadi terlihat. Untuk itu, kita harus terdaftar dalam organisasi yang kelihatan. Agustinus mengatakan bahwa sebagaimana Yesus menyatakan Allah yang tidak terlihat (Yoh. 1:18), maka Yesus mengutus gereja untuk menyaksikan kerajaan Allah yang tidak terlihat. Relasi pribadi “saya dan Kristus saja” tanpa gereja adalah kesalahan serius. Bisa saja soteriologi kita baik, tetapi eklesiologi (doktrin gereja) kita kacau.
Paulus juga bergumul dengan isu ini pada zamannya. Dalam surat Roma, 11 pasal pertama membicarakan tentang doktrin. Lalu di Rm. 12:1-3, ia mendorong jemaat untuk untuk mempersembahkan tubuh, tidak serupa dunia, jangan memikirkan hal lebih tinggi. Bila ini dibaca secara individu, maka ayat 4 dst. menjadi janggal “Sebab sama seperti pada satu tubuh kita mempunyai banyak anggota”. Jadi, dorongan dalam Rm. 12:1-3 lebih tepat dibaca dalam pengertian gereja. Di sini, “janganlah kamu memikirkan hal-hal yang lebih tinggi dari pada yang patut kamu pikirkan” (ayat 3) bukan berarti sekadar jangan sombong. Zaman itu, orang Yahudi memandang rendah orang non-Yahudi. Dalam konteks sekarang, ayat 3 dapat dimaknai sebagai: kita tidak menganggap diri atau pelayanan kita sebagai yang paling penting. Kita datang untuk belajar dan melayani, bukan menganggap bahwa tanpa kontribusi kita pelayanan tidak berjalan. Setiap peran memiliki fungsi dan merupakan bagian dari tubuh Kristus. Sebaliknya, seorang yang berpikir “hanya perlu Tuhan, tidak perlu gereja” menyatakan ia menganggap diri lebih tinggi dari sepatutnya.
Dalam Ef. 4:4, Paulus menyatakan tujuh macam kesatuan (satu tubuh, satu Roh, satu pengharapan, satu Tuhan, satu iman, satu baptisan, satu Allah dan Bapa dari semua). Kesatuan ini dikerjakan oleh Tuhan sendiri, bukan kita. Di sini, kesatuan tubuh Kristus tidak dapat dirusak oleh perpecahan manusia, juga tidak dapat diperkuat hanya oleh kekompakan/kepemimpinan manusia. Kesatuan itu disediakan oleh Tuhan bagi kita. Barangsiapa menyatakan dan mengusahakan kesatuan dalam gereja, gereja itu akan ada kekuatan karena itu sesuai dengan kehendak dan pekerjaan Tuhan. Tugas kita adalah mengekspresikan kepada dunia kesatuan yang Tuhan sudah berikan kepada kita. Memberontak terhadap gereja berarti melawan Kristus sendiri yang telah mempersatukan kita.
Dalam Ef. 5, suami dipanggil untuk mengasihi istri seperti dirinya sendiri, sebagaimana Kristus mengasihi gereja dengan menjadikan gereja sebagai bagian dari tubuh-Nya sendiri. Dalam arti tertentu, Kristus mengasihi diri-Nya sendiri (mengasihi diri tidak harus egoistik di sini). Jemaat dimasukkan ke dalam tubuh-Nya sendiri, sehingga saat Ia mengasihi jemaat Ia juga mengasihi tubuh-Nya sendiri. Demikian juga suami, dengan memasukkan istrinya ke dalam dirinya, dapat mengasihi istrinya dengan benar.
Bagaimana dengan keharmonisan dalam gereja dan keluarga? Memang organisasi, rapinya administrasi, baik adanya untuk mencegah keributan tidak perlu. Demikian pula hubungan baik dengan tetangga sekitar yang berbeda agama. Peraturan memang penting, tetapi relasi lebih penting. Inilah yang diuraikan Paulus dalam Efesus 4.
Ef. 4:2 mengajarkan tiga karakter: rendah hati, lemah lembut, dan sabar. Kerendahan hati adalah sikap hati yang menjaga kesatuan tubuh Kristus. Kelemahlembutan berarti kita tidak lekas membalas dendam. Marah dan menyatakan kebenaran tidak harus merusak tubuh Kristus. Musa adalah hamba Tuhan yang lemah lembut, dalam arti tidak membalas dendam bahkan ketika diremehkan. Lalu yang terakhir adalah kesabaran.
Dalam hal-hal di atas, Tuhan memberikan pemimpin rohani (Ef. 4:11). Tugas mereka adalah memperlengkapi jemaat melayani dengan tekun (Ef. 4:12). Maka, Ef. 4:13–14 menunjukkan kedewasaan yang bersifat komunal, bukan individual. Ini berbeda dengan filsafat Stoa, yang melanjutkan Sokrates (filsafat sebagai latihan), Plato (filsafat sebagai latihan kematian, suatu keterpisahan pikiran dari tubuh), Aristoteles (filsafat sebagai obat). Dalam hal ini, kedewasaan berarti keterlepasan dari dunia. Para filsuf seperti Epiktetus dan Markus Aurelius mengajarkan ketenangan batin melalui latihan untuk tidak terpengaruh oleh keadaan—membayangkan yang terburuk dan melatih diri agar tetap tidak terguncang. Inilah kedewasaan secara pribadi (tidak ada yang bisa mengagetkan saya).
Namun, Paulus mengajarkan hal yang berbeda. Kedewasaan bukan terpisah dari dunia. Kedewasaan Kristen adalah hidup dalam persekutuan dan empati. Jika satu anggota menderita atau bersukacita, yang lain turut merasakannya. Seperti sakit gigi yang membuat seluruh tubuh tidak dapat menikmati apa pun, demikian juga tubuh Kristus. Kerohanian Kristen bukanlah menutup diri dari rasa sakit, melainkan kesediaan untuk terbuka—untuk terluka bersama dan bersukacita bersama. Seseorang yang menghidupi kesatuan dengan Kristus (union with Christ) tidak mungkin tidak mengasihi tubuh Kristus. Tidak mungkin seseorang mengasihi Kristus tanpa mengasihi tubuh-Nya.