Download versi cetak: 1253_1426_KebaktianPagiSore_2026-01Mar
Rejoice, Remember Your Creator, Fear the Lord
Pengkhotbah 11:7-12:8, 12:13-14; Ulangan 6:10, 12-13
Pdt. Ivan Adi Raharjo, M.Th.
*Ringkasan khotbah ini belum diperiksa pengkhotbah
Hari ini kita akan melanjutkan perenungan yang terakhir dari seri kitab Pengkhotbah. Kitab Pengkhotbah itu ditulis oleh seorang yang disebut The Preacher atau sang pengkhotbah. Bisa dikatakan pengkhotbah itu adalah Salomo atau anak dari Raja Daud. Pengkhotbah 11:7-10, kata kunci dari bagian ini adalah rejoice. Berikutnya Pengkhotbah 12:1-8 bicara tentang remember atau ingatlah. Bagian yang terakhir Pengkhotbah 12:13-14. Yang dikatakan oleh Salomo dalam tiga bagian ini, ada tiga kata kunci: pertama, bersukacitalah; yang kedua, ingatlah, dan yang ketiga, takut akan Allah. Rejoice, Remember, and Fear the Lord. Tiga kata kunci.
Pkh 12:13-14 berbicara tentang takut akan Allah. Ini bagian yang paling jelas kita bisa mengerti. Dua ayat ini, menjadi kesimpulan dari seluruh kitab Pengkhotbah. Bahwa pada akhirnya, yang paling penting bagi seorang manusia adalah takut akan Allah. Yang dimaksud takut akan Allah yaitu berpegang pada perintah-perintah-Nya. Menjadi manusia artinya menjadi makhluk yang taat dan takut akan Allah. Itu kewajiban setiap kita, karena pada akhirnya Tuhan akan menghakimi setiap perbuatan, entah itu baik atau jahat, entah ada yang melihat atau tidak, sesuatu yang kita lakukan terang-terangan atau sembunyi-sembunyi, Allah melihat dan akan menghakimi. Sekalipun demikian, hidup menjadi manusia bukanlah hidup yang menyedihkan dan menakutkan. Tetapi seperti yang dikatakan pada bagian pertama Pkh 11:7-10, menjadi manusia harusnya menjadi orang yang bersukacita.
Pkh 11:7-10. Bersukacitalah. Dikatakan di ayat 7, ‘Terang itu menyenangkan. Matahari itu baik bagi mata.’ Di sini Pengkhotbah ingin mengatakan: Life is good. You should enjoy your life. Kalau engkau hidup sebagai manusia dan bisa hidup umur panjang, maka engkau harus menikmati setiap hari. Kelihatannya hal yang sederhana tetapi sesuatu yang sering kita lupakan. Kadang kita melihat hidup ini taken for granted, di mana kita tidak menikmati setiap hari, kita hanya mau menikmati hari-hari tertentu saja. Misalnya mungkin anak-anak hanya suka akhir minggu karena tidak ada sekolah, tetapi tidak suka hari Senin karena harus ke sekolah lagi. Tapi kata Salomo, you should enjoy every day, including Monday. Because life is good, enjoy it. It is a gift from God. Sure, life has many challenges. But still, life is a gift, a blessing, you should enjoy it.
Ayat 9, memang akan datang hari-hari yang gelap di mana mungkin kita semakin susah untuk menikmati indahnya terang itu. Tetapi selagi memungkinkan, biasanya ketika engkau muda, engkau nikmatilah hidup ini. Pkh 11:9b ini panggilan yang sepertinya “ikutilah segala keinginanmu”. Tapi kemudian Salomo juga mengatakan, “Tapi ketahuilah bahwa karena segala hal ini Allah akan membawa engkau ke pengadilan.” Apakah Salomo berubah pikiran atau ingin mengurangi sukacita kita? Bukan demikian. The Bible is not a joy killer; it never forbids us of having joy. On the contrary, the word of God, commands us to have joy in life, and yet it also warns us to seek joy and pleasure in the right way. There are many good things in your life that you can enjoy and should be joyful about. You have family, house, food, friends, holidays, good movies, entertainments, everything good you can enjoy. Yet you should enjoy those things responsibly. Unfortunately, we very often didn’t enjoy things responsibly. Sometimes we cannot stop playing games, keep on watching movies and don’t want to do our homework. Sometimes even worse, we are tempted to seek joy from bad things that are not pleasing God. We watch harmful movies that should not be watched by children. Instead of finding joy from helping and being nice to your friend, we are laughing happily when we bully our friends. At first those bad things seem to give you joy, but if you keep on doing things that are not pleasing God, those things will actually harm you, and you will eventually lose your joy. When you do things and seek joy in something that is wrong and sinful, your heart can become anxious, your body might even get hurt.
That’s why Ecc 11:10 says “Remove anxiety from your heart, put away pain from your body.” You can only find true joy when you enjoy good things that come from God. The good things that God actually has given to you to enjoy responsibly. True freedom requires boundaries and limits. For instance, if you are a train, can you say “I don’t want to run on rails, I want to run as fast as possible, as free as I am, and I want to run on the street.”? What will happen to the train? The train will get wrecked, accident, destroyed. If you are a fish, and you swim happily in the water, one day you say, “I’m bored, I do not want to swim in the water anymore. I want to be on the sky. I want to be free.” What will happen? You will die. True freedom and true joy, can only happen if you do things properly.
Kekristenan bukan agama yang anti sukacita, tetapi sukacita tanpa Allah menjadi sesuatu yang kosong dan bahkan berbahaya. Itulah kenapa akhirnya Salomo mengatakan di bagian kedua: Pkh 12:1 “Ingatlah penciptamu pada masa mudamu”. Panggilan dan perintah bagi kita untuk menikmati hidup bukanlah menikmati hidup tanpa Tuhan. Panggilan kita untuk menikmati hidup justru bisa terjadi kalau kita mengingat siapa pencipta kita. Saudara harus mengingat Allah seperti ini sesegera mungkin, seawal mungkin. Karena akan datang waktunya di mana kita akan semakin sulit dan mungkin terlambat untuk bisa mengingat Allah kita. Setelah “Ingatlah penciptamu pada masa mudamu”, ada tiga kata ‘sebelum’. Yang pertama, ayat 1, sebelum tiba hari-hari yang malang. Yang kedua, sebelum matahari dan terang bulan bintang menjadi gelap. Ketiga, ayat 6, sebelum rantai perak diputuskan dan pelita emas dipecahkan. Ingatlah Allah sebelum hari menjadi gelap.
Pkh 12:2 itu gambaran di mana siang hari gelap, malam hari lebih gelap. Karena dikatakan matahari dan terang yaitu siang hari gelap, bulan dan bintang yaitu malam hari gelap, segala sesuatu sepanjang hari hanya ada kegelapan. Ingatlah Allah sebelum hari ini tiba. Tapi apa maksudnya hari-hari yang penuh dengan kegelapan ini? Di sini Salomo memberikan kepada kita teka-teki dari Pkh 12:3-5. It is a riddle that has something to do with old age. It is said, in the days when the keepers of the house tremble. This verse speaks about the hand. When people grow old, the hand is getting weaker and can tremble easily. And then it is said, the strong men are bent. It is speaking about the leg, the leg that is getting weaker and we tend to crouch. Next one, the grinders cease because they are few. This refers to teeth are few. Karena jumlah gigi yang mengunyah itu semakin berkurang. Then, those who look through windows are dimmed. It’s blind on eyes, the eyes are getting weaker. Next verse, the doors on the street are shut. It’s talking about ears. Because when you open the door, you can see a lot of things happening on the street. Now, when the sound of the grinding is low. This is about mouth, it can no longer eat hard food, only soft food. And one rises up at the sound of a bird. Dalam bahasa Indonesia ‘dan suara menjadi seperti kicauan burung’ ini terjemahannya salah, seharusnya jadi terbangun mendengar suara burung, artinya menjadi light sleeper, susah tidur. Pendengaran semakin susah dengar tapi ada suara sedikit langsung terbangun. The daughters of song are brought low. Means, the voice is getting weaker. They are afraid also of what is high. As you get old you are getting more afraid if you fall down. Ketakutan di jalan, kita sepertinya ke mana-mana rasanya banyak kekhawatiran, kita takut celaka ini celaka itu. Berikutnya the almond tree blossoms. Has anyone ever seen almond tree blossoming? It will look like everything is white. Because as you grow old, your hair becomes white.
The grasshopper drags itself along. Belalang itu gambaran kelincahan, ketika kita semakin bertambah usia, kita akan semakin tidak selincah dulu. Nafsu makan juga semakin susah dibangkitkan. Karena pada akhirnya sebagai manusia, tidak peduli siapa pun kita, ketika kita mengalami usia kita berjalan menuju ke rumah kita yang kekal. Ini adalah pengalaman hidup setiap manusia. Sekalipun engkau masih muda, engkau kelihatannya masih panjang, masih banyak sukacita, masih banyak tenaga, suatu hari engkau juga akan mengalami hal seperti ini. Mungkin beberapa dari kita memang sudah mulai mengalami hal ini. Tidak apa-apa, karena semua orang memang melewatinya. Justru ini yang menjadi inti dari apa yang ingin disampaikan oleh Pengkhotbah, bahwa setiap orang akan mengalami hal ini karena hari-hari kita di dunia ini singkat adanya. Selagi masih ada kesempatan, ingatlah akan penciptamu. Karena akan datang hari-hari yang gelap, akan datang hari-hari di mana kekuatan kita semakin memudar, akan datang hari di mana kita meninggal dunia. Pkh 12:6-7, dikatakan ‘rantai perak diputuskan, pelita emas dipecahkan’. Menarik, terkadang dalam ibadah saya melihat pimpinan Tuhan. Saya mempersiapkan ini tidak janjian dengan tim ibadah. Tapi kalau saudara lihat tadi lagu ketiga, “bila waktunya tiba, kutinggalkan dunia fana.” Terjemahan bahasa Inggrisnya silver cord will break, itu diambil persis dari ayat ini.
Akan datang hari di mana hidup kita yang begitu berharga. Pelita dari emas, digantung oleh tali perak, itu gambaran hidup yang berharga. Mangkok emas yang berisi minyak membakar pelita menerangi seisi rumah. Tetapi akan datang waktunya di mana tali perak itu akan putus, pelita emas itu pecah dan api itu padam. Ada juga gambaran-gambaran lain. Gambaran tempayan, tempat mengisi air, mau ambil air yang adalah lambang kehidupan tetapi ambil air ke fountain malah tempayannya pecah. Mau ambil air dari sumur dikatakan roda untuk menarik tali sumur itu juga rusak. Di ayat 6 berulang sampai tiga kali disebutkan broken, broken, broken, menggambarkan akan datang hari di mana setiap kita mengalami kematian. Debu kembali menjadi tanah seperti semula, Roh kembali kepada Allah yang mengaruniakannya. Anak-anak dan orang-orang muda berpikir kita masih punya hari-hari yang panjang tetapi pengkhotbah mengatakan sia-sia hidup ini seperti uap. Hidup ini begitu singkat, tidak lama kekuatan kita akan memudar dan hidup kita akan berakhir. Maka jangan sia-siakan waktu, nikmatilah setiap hari. Tapi bagaimana kita menikmati hidup ini? Dengan mengingat Allah penciptamu. Jangan sia-siakan hari-harimu, tetapi ingatlah Allah setiap hari.
Saudara bayangkan saudara punya bank yang setiap hari memberikan saudara S$86,400. Itu gaji 1 tahun tapi diberikan 1 hari, tapi kondisinya adalah besok pagi uang ini lenyap. Engkau boleh pakai uang ini sepanjang hari ini sesuka hatimu, tetapi syaratnya seberapa pun sisanya, besok akan lenyap. Engkau juga tidak bisa meminta lebih dari $86,400. Setiap hari engkau dikasih segitu dan besoknya akan nol. Pertanyaannya, bagaimanakah saudara akan menggunakan uang ini? Apakah saudara mengatakan, “cukuplah sehari pakai $100 saja, sisanya habis biar saja”. Tentu tidak! Kita akan berusaha menggunakan setiap dolar, setiap sen semaksimal mungkin. Setiap dari kita punya bank seperti ini, setiap hari engkau dan saya diberikan 86,400 detik. Engkau tidak bisa meminta lebih 1 detik pun. Engkau tidak bisa menabung satu detik pun untuk menambahkan esok hari. Setiap hari engkau akan melewati dan menghabiskan 86,400 detik. Maka biarlah kita menggunakan setiap detik yang Tuhan berikan kepada kita dengan bijaksana. Sebisa mungkin kita mengingat Tuhan selagi kita masih bisa. Tapi apa maksudnya mengingat Tuhan? Dalam Ulangan 6:10 dikatakan ‘kalau nanti Tuhan Allahmu telah membawa engkau masuk ke negeri yang dijanjikannya.’ Ayat 12 mengatakan, ‘Jangan engkau melupakan Tuhan.’ artinya ingat, ingat akan Tuhanmu. Jangan keadaan sudah enak di tanah perjanjian kamu lupa sama Tuhan. Ingat Tuhanmu. Ayat 13 mengatakan, ‘Engkau harus takut akan Tuhan, Allahmu; kepada Dia haruslah engkau beribadah.’
Mengingat Allah berarti hidup takut akan Allah. Apa artinya takut akan Allah? Ada 3 poin, pertama, takut akan Allah sebagai pencipta kita. Artinya setiap hari kita belajar mengutamakan Tuhan, memprioritaskan Tuhan, bergantung kepada Tuhan. Ini poin kesimpulan dari khotbah hari ini. Mengingat Allah sebagai pencipta kita berarti kita menjadikan Dia yang paling utama dalam hidup kita. Kita belajar menggantungkan setiap detik hidup kita dalam kedaulatan Tuhan, percaya kepada Dia. Ini artinya mengingat Tuhan yang bukan sekedar teringat sama Tuhan, tapi kita melakukan conscious effort. Kita melakukan usaha yang sengaja mengutamakan Tuhan. Dalam Ulangan 6:6-9 Musa memerintahkan orang Israel: Apa yang diajarkan kepada mereka haruslah diajarkan berulang-ulang kepada anak-anaknya. Membicarakannya ketika sedang duduk di rumah, sedang dalam perjalanan, sedang berbaring tiduran, sedang bangun, terus berbicara mengingat firman Tuhan. Mengingat kebenaran firman Tuhan bahwa Allah itu esa, bahwa Yahwe adalah Allah mereka. Itu diikatkan di tangan, di kepala, dan juga bahkan di tiang pintu, tiang gerbang, mereka terus mencoba mengingat ada Allah, ada Allah, ada Allah. Karena jikalau Allah adalah penciptamu, berarti engkau ada di dunia karena Dia, engkau milik Dia. Tidak ada manusia yang self-made. Semuanya diciptakan oleh Allah dan diberikan anugerah oleh Allah. Children, your talents come from God. Your time is also from God. Your life is a gift from God. That’s why before you go to school, before you go to bed, you pray: God help me today. God, thank you for today. Anak muda, ketika engkau memilih jalan hidupmu ketimbang bertanya, jalan apa yang paling saya nikmati, paling menguntungkan bagi saya; tanyalah Tuhan, apa yang Kau inginkan bagi hidupku? Bagi setiap kita, setiap hari apakah kita menggunakan waktu yang ada untuk dengan sengaja mencari wajah Tuhan, di tengah kesibukan kita, kita mengutamakan Tuhan. Karena hanya dengan menjadikan Tuhan yang paling utama dalam hidup kita, barulah hidup kita ada damai, ada sukacita yang tidak bisa direbut oleh dunia ini.
Yang kedua, takut akan Allah berarti melihat Dia sebagai hakim kita. Pengkhotbah tadi mengatakan bahwa setiap apa yang kita lakukan suatu hari nanti akan dilihat, dinilai, dihakimi oleh Allah. Setiap 86.400 detik dalam hari-hari kita akan dimintai pertanggungjawaban. Apa yang kita lakukan di tempat umum, di tempat kamar tersembunyi semuanya itu matters di hadapan Allah. Apa yang saudara cari, lihat, yang saudara klik dan tonton, itu semua akan dilihat oleh Allah. Hidup kita adalah hidup yang 100% terbuka di hadapan Allah. Anak Tuhan seharusnya justru bersyukur ketika Dia melihat hal ini. Ketika mereka didorong untuk menghidupi kehidupan ini dengan suci dan benar, mereka harusnya bersyukur. Karena mereka sadar bahwa kunci hidup yang bersukacita dan bahagia adalah hidup yang suci dan kudus di hadapan Tuhan. Sejak di Taman Eden, setan berusaha meyakinkan kita sebaliknya. Setan mengatakan, “untuk hidup nikmat, makanlah buah yang dilarang oleh Tuhan, maka hidupmu baru penuh sukacita.” Tetapi ketika Adam dan Hawa tergoda, melihat ini kelihatannya baik untuk dimakan, membawa sukacita, begitu mereka memakannya, mereka kehilangan damai dan sukacita yang sejati. Tetapi ketika kita hidup suci di hadapan Tuhan, hidup dalam batasan-batasan yang ditetapkan oleh Tuhan, sekalipun kelihatannya terkadang untuk kita taat melakukan hal ini, kita perlu bayar harga, tetapi itulah yang membawa damai di hati.
Yang ketiga, kita mengingat Allah, kita takut akan Allah bukan sekedar sebagai pencipta, sebagai hakim, tetapi juga sebagai penebus. Ada satu ayat yang sangat menarik di Mazmur yang mengatakan padamu ada pengampunan, in you there is forgiveness supaya engkau ditakuti so that you may be feared [Mzm 130:4]. Takut akan Allah juga timbul ketika kita melihat kebaikan-Nya, pengampunan yang Dia berikan kepada kita. Ini adalah satu hal yang harusnya memberikan kita sukacita luar biasa. Karena kalau kita hanya mengenal Allah sebagai pencipta kita yang kepadanya kita berhutang, hakim yang suatu hari nanti kita harus bertanggung jawab di hadapan-Nya, betapa mungkin hidup ini penuh dengan kekawatiran. Tetapi puji Tuhan, Alkitab juga mengajarkan kepada kita untuk mengingat Allah yang telah menebus kita. Pada hari di mana Israel akan dibebaskan keluar dari Mesir, Allah memerintahkan mereka untuk menjadikan hari ini sebagai hari peringatan (the day of remembrance). Dengan cara merayakan setiap tahun, mengingat bagaimana Allah mengeluarkan mereka dari Mesir, di mana mereka mengorbankan satu domba yang tidak bercacat cela. Itulah yang menjadi hari perayaan Passover orang Israel. Demikian juga bagi kita, gereja Tuhan sekarang ini, hari di mana Yesus bangkit dari kematian. Bahkan dari sebelum Dia pergi naik ke atas kayu salib, dikatakan dia mengambil roti, mengucap syukur, memecah-mecahkannya dan memberikan kepada para murid-Nya, mengatakan, “Inilah tubuhku yang diserahkan bagi kamu. Perbuatlah ini menjadi peringatan”. Remembrance of me.
Betapa kita harus bersyukur kita bisa mengingat Allah kita sebagai Allah yang menebus hidup kita. Hanya ketika kita bisa mengingat Dia sebagai penebus kita, barulah kita mendapatkan sukacita yang sempurna. Ingatlah Allah selagi engkau bisa karena tanpa Allah yang menciptakan engkau, hidup ini seperti tanpa arah. Tanpa Allah yang akan menghakimi perbuatan-perbuatanmu, engkau akan bisa terjerumus dalam banyak kesulitan besar. Tanpa Allah yang menebus engkau, hidupmu tidak ada pengharapan. Tetapi dengan Allah yang menciptakan, menghakimi, dan menebus kita, your life is meaningful, your life is holy, and your life is full of hope and joy. Let us remember him while we still can. Mari kita membangun seluruh hidup kita bukan dengan pencapaian-pencapaian, kesenangan-kesenangan sementara tapi dengan rasa takut di hadapan Allah. Hidup ini singkat seperti uap, tapi uap di tangan Allah adalah uap yang ada tujuan. Hidup itu indah, maka bersukacitalah dengan bertanggung jawab. Hidup itu singkat, maka ingatlah Allah selagi bisa. Hidup itu penting, bernilai, serius, maka biarlah kita hidup takut pada Tuhan. So rejoice, remember your creator and fear the Lord.